×
Ad

Host Mom Belikan Sajadah di Amazon, Kisah Haru Fidelma saat Belajar di AS

Kalila Untsa - detikEdu
Minggu, 25 Okt 2026 07:01 WIB
Fidelma Zahria Saputri bersama keluarga angkatnya saat mengikuti pertukaran pelajar di AS pada 2021 lalu Foto: Dok. Fidelma
Jakarta -

Mengikuti program pertukaran pelajar ke Amerika Serikat (AS) bukan sekadar kesempatan merasakan sistem pendidikan yang berbeda. Bagi Fidelma Zahria Saputri, pengalaman tinggal bersama keluarga angkat atau host family juga memberinya pelajaran tentang toleransi, komunikasi, dan bagaimana orang-orang dari latar belakang berbeda saling memahami.

Pelajar asal Jawa Timur yang kini menjadi mahasiswa Hubungan Internasional di Universitas Negeri Jember (Unej) itu pernah mengikuti program pertukaran pelajar dan ditempatkan di Worcester, Massachusetts pada 2021 lalu. Selama setahun berada di sana, ia tidak hanya beradaptasi dengan kehidupan sekolah, tetapi juga belajar menjalani keseharian bersama keluarga yang memiliki latar belakang budaya dan agama berbeda.

Bagi Fidelma, salah satu kejutan budaya terbesar saat tinggal di AS adalah tuntutan untuk menggunakan bahasa Inggris sepanjang hari. Ia harus beralih dari kebiasaan berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia menjadi bahasa Inggris, baik di rumah maupun di sekolah.

"Langsung beralih dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris itu butuh adaptasi yang cukup menantang. Di rumah, orang tua tidak ada yang memakai bahasa Inggris, dan di sekolah pun penggunaannya sangat terbatas. Jadi harus berkomunikasi dalam bahasa Inggris terus-menerus kadang melelahkan, karena harus memastikan apa yang dikatakan itu benar," tuturnya pada detikEdu, Jumat (23/10/2026).

Tantangan adaptasi tidak hanya berkaitan dengan bahasa. Fidelma juga tinggal bersama keluarga angkat yang menganut keyakinan berbeda dari dirinya.
Keluarga angkatnya menganut Unitarian Universalism, sebuah tradisi keagamaan yang menekankan kebebasan berkeyakinan dan penghormatan terhadap beragam pandangan spiritual. Sementara itu, Fidelma tetap menjalankan ibadah sebagai seorang muslim selama mengikuti program pertukaran pelajar.

Sebelum keberangkatan, peserta program diminta menulis surat perkenalan atau letter for host family. Surat tersebut berisi informasi tentang diri mereka, mulai dari hobi, mata pelajaran yang disukai, cita-cita, hingga kegiatan yang ingin dilakukan selama berada di AS. Melalui surat itu, calon keluarga angkat dapat mengenal para peserta sebelum menentukan siapa yang akan mereka terima di rumah.

Menurut Fidelma, keluarga angkatnya tertarik setelah membaca surat perkenalannya. Mereka mengetahui ia menyukai musik dan bernyanyi, bahkan menyiapkan sebuah keyboard untuknya. Padahal keluarga angkat dalam program tersebut merupakan sukarelawan yang tidak menerima bayaran untuk menampungnya.

"Host family saya bilang, 'Kami membaca suratmu, dear my future host family, I am Fidelma. Kamu suka menyanyi dan main musik, jadi kami bawakan keyboard dari sepupu kami.' Mereka menyiapkan keyboard untuk saya dari sepupunya," ungkapnya.

Bagi Fidelma, perhatian tersebut menunjukkan proses adaptasi bukan hanya menjadi tanggung jawab siswa pertukaran pelajar. Keluarga angkat juga berusaha mengenal kebiasaan, minat, dan kebutuhan anak yang tinggal bersama mereka. "Artinya mereka juga mau belajar mengenal kita, jadi adaptasinya datang dari kedua belah pihak," katanya.

Lupa Membawa Sajadah, Host Mom Cari di Amazon

Perhatian keluarga angkat menjadi salah satu pengalaman berkesan bagi Fidelma selama menjalani pertukaran pelajar di Amerika Serikat. Salah satunya terlihat dari cara mereka menghargai kebutuhan Fidelma sebagai seorang muslim untuk menjalankan ibadah.

Sejak awal tinggal bersama mereka, Fidelma berusaha menjelaskan kebiasaan ibadahnya, termasuk lima waktu salat dalam sehari. Ia memberi tahu keluarga angkatnya jika dirinya belum berada di ruang makan saat waktu makan siang, kemungkinan ia sedang menunaikan salat.

Bagi Fidelma, menjelaskan praktik ibadah tersebut dalam bahasa Inggris bukan perkara mudah. Ia harus mencari kata-kata yang tepat agar keluarga angkatnya memahami apa yang sedang ia lakukan dan mengapa hal itu penting baginya.

"Saya sendiri cepat beradaptasi karena saya menjelaskan semuanya sejak awal. Misalnya kalau saat makan siang saya belum ada di ruang makan, berarti saya sedang waktu salat. Ada lima waktu untuk beribadah, dan saya jelaskan dengan bahasa sebisa saya," ujarnya.

Perhatian keluarga angkatnya semakin terasa ketika Fidelma menyadari dirinya lupa membawa sajadah dari Indonesia. Meski ia tetap bisa salat tanpa sajadah khusus, host mom-nya justru berinisiatif mencarikan perlengkapan ibadah tersebut melalui lokapasar Amazon.

Dengan membuka Amazon lewat laptop, sang ibu angkat mencari sajadah yang sesuai dengan kebutuhan Fidelma. Perhatian yang ditunjukkan itu membuatnya terharu.

"Waktu itu saya juga lupa membawa sajadah, lalu host mom saya mencarikannya di Amazon lewat laptop, 'Is it the one that you're looking for?' Sebenarnya tidak apa-apa kalau tidak ada sajadah, tetapi mereka yang membelikan," katanya.



Simak Video "Video: Baku Tembak Dekat Festival di Ohio, 12 Orang Jadi Korban"


(pal/pal)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork