Mengikuti program pertukaran pelajar ke Amerika Serikat (AS) bukan sekadar kesempatan merasakan sistem pendidikan yang berbeda. Bagi Fidelma Zahria Saputri, pengalaman tinggal bersama keluarga angkat atau host family juga memberinya pelajaran tentang toleransi, komunikasi, dan bagaimana orang-orang dari latar belakang berbeda saling memahami.
Pelajar asal Jawa Timur yang kini menjadi mahasiswa Hubungan Internasional di Universitas Negeri Jember (Unej) itu pernah mengikuti program pertukaran pelajar dan ditempatkan di Worcester, Massachusetts pada 2021 lalu. Selama setahun berada di sana, ia tidak hanya beradaptasi dengan kehidupan sekolah, tetapi juga belajar menjalani keseharian bersama keluarga yang memiliki latar belakang budaya dan agama berbeda.
Bagi Fidelma, salah satu kejutan budaya terbesar saat tinggal di AS adalah tuntutan untuk menggunakan bahasa Inggris sepanjang hari. Ia harus beralih dari kebiasaan berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia menjadi bahasa Inggris, baik di rumah maupun di sekolah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Langsung beralih dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris itu butuh adaptasi yang cukup menantang. Di rumah, orang tua tidak ada yang memakai bahasa Inggris, dan di sekolah pun penggunaannya sangat terbatas. Jadi harus berkomunikasi dalam bahasa Inggris terus-menerus kadang melelahkan, karena harus memastikan apa yang dikatakan itu benar," tuturnya pada detikEdu, Jumat (23/10/2026).
Tantangan adaptasi tidak hanya berkaitan dengan bahasa. Fidelma juga tinggal bersama keluarga angkat yang menganut keyakinan berbeda dari dirinya.
Keluarga angkatnya menganut Unitarian Universalism, sebuah tradisi keagamaan yang menekankan kebebasan berkeyakinan dan penghormatan terhadap beragam pandangan spiritual. Sementara itu, Fidelma tetap menjalankan ibadah sebagai seorang muslim selama mengikuti program pertukaran pelajar.
Sebelum keberangkatan, peserta program diminta menulis surat perkenalan atau letter for host family. Surat tersebut berisi informasi tentang diri mereka, mulai dari hobi, mata pelajaran yang disukai, cita-cita, hingga kegiatan yang ingin dilakukan selama berada di AS. Melalui surat itu, calon keluarga angkat dapat mengenal para peserta sebelum menentukan siapa yang akan mereka terima di rumah.
Menurut Fidelma, keluarga angkatnya tertarik setelah membaca surat perkenalannya. Mereka mengetahui ia menyukai musik dan bernyanyi, bahkan menyiapkan sebuah keyboard untuknya. Padahal keluarga angkat dalam program tersebut merupakan sukarelawan yang tidak menerima bayaran untuk menampungnya.
"Host family saya bilang, 'Kami membaca suratmu, dear my future host family, I am Fidelma. Kamu suka menyanyi dan main musik, jadi kami bawakan keyboard dari sepupu kami.' Mereka menyiapkan keyboard untuk saya dari sepupunya," ungkapnya.
Bagi Fidelma, perhatian tersebut menunjukkan proses adaptasi bukan hanya menjadi tanggung jawab siswa pertukaran pelajar. Keluarga angkat juga berusaha mengenal kebiasaan, minat, dan kebutuhan anak yang tinggal bersama mereka. "Artinya mereka juga mau belajar mengenal kita, jadi adaptasinya datang dari kedua belah pihak," katanya.
Lupa Membawa Sajadah, Host Mom Cari di Amazon
Perhatian keluarga angkat menjadi salah satu pengalaman berkesan bagi Fidelma selama menjalani pertukaran pelajar di Amerika Serikat. Salah satunya terlihat dari cara mereka menghargai kebutuhan Fidelma sebagai seorang muslim untuk menjalankan ibadah.
Sejak awal tinggal bersama mereka, Fidelma berusaha menjelaskan kebiasaan ibadahnya, termasuk lima waktu salat dalam sehari. Ia memberi tahu keluarga angkatnya jika dirinya belum berada di ruang makan saat waktu makan siang, kemungkinan ia sedang menunaikan salat.
Bagi Fidelma, menjelaskan praktik ibadah tersebut dalam bahasa Inggris bukan perkara mudah. Ia harus mencari kata-kata yang tepat agar keluarga angkatnya memahami apa yang sedang ia lakukan dan mengapa hal itu penting baginya.
"Saya sendiri cepat beradaptasi karena saya menjelaskan semuanya sejak awal. Misalnya kalau saat makan siang saya belum ada di ruang makan, berarti saya sedang waktu salat. Ada lima waktu untuk beribadah, dan saya jelaskan dengan bahasa sebisa saya," ujarnya.
Perhatian keluarga angkatnya semakin terasa ketika Fidelma menyadari dirinya lupa membawa sajadah dari Indonesia. Meski ia tetap bisa salat tanpa sajadah khusus, host mom-nya justru berinisiatif mencarikan perlengkapan ibadah tersebut melalui lokapasar Amazon.
Dengan membuka Amazon lewat laptop, sang ibu angkat mencari sajadah yang sesuai dengan kebutuhan Fidelma. Perhatian yang ditunjukkan itu membuatnya terharu.
"Waktu itu saya juga lupa membawa sajadah, lalu host mom saya mencarikannya di Amazon lewat laptop, 'Is it the one that you're looking for?' Sebenarnya tidak apa-apa kalau tidak ada sajadah, tetapi mereka yang membelikan," katanya.
Merayakan Halloween dan Thanksgiving Bersama Host Family
Di sisi lain, Fidelma juga berkesempatan mengenal tradisi masyarakat AS melalui berbagai perayaan bersama keluarga angkatnya.Salah satunya adalah Halloween, perayaan yang berlangsung setiap 31 Oktober. Menjelang hari tersebut, Fidelma bersama host mom berburu kostum untuk dikenakannya.
Mereka pergi thrifting atau berburu barang bekas untuk mencari kostum bajak laut yang cocok. Pengalaman itu menjadi hal baru bagi Fidelma karena ia dapat terlibat langsung dalam persiapan perayaan yang sebelumnya hanya ia kenal dari cerita atau tayangan hiburan.
"Di sana untuk Halloween kita harus menyewa atau membeli kostum. Saya dan host mom pergi thrifting mencari kostum bajak laut yang cocok. Beliau sangat mendukung," ujarnya.
Fidelma Zahria Saputri mengenakan kostum bajak laut saat Halloween Foto: Dok. Fidelma |
Selain Halloween, Fidelma juga berkesempatan merasakan Thanksgiving, perayaan yang sebelumnya belum pernah ia alami secara langsung.
Bagi Fidelma, hal yang paling berkesan bukan semata-mata hidangan yang tersaji, melainkan suasana kebersamaan bersama keluarga angkatnya. Mereka menghabiskan waktu dengan makan bersama di rumah.
Keluarga angkatnya menyiapkan berbagai makanan, termasuk kalkun isi dan gravy, saus yang kerap disajikan dalam perayaan tersebut. "Kami memasak besar, kalkun yang diisi serta gravy, saus yang identik dengan Thanksgiving, dan (ada juga) sparkling water," tuturnya.
Membawa Pulang Pelajaran tentang Komunikasi dan Apresiasi
Setelah kembali ke Indonesia, Fidelma menyadari pengalaman tinggal di AS turut mengubah cara pandangnya terhadap hubungan sosial. Salah satu perbedaan yang paling ia rasakan adalah kebiasaan memberikan pujian dan apresiasi secara langsung.
Menurutnya, orang-orang di AS lebih terbiasa mengungkapkan penghargaan atas hal-hal sederhana, seperti pakaian atau riasan. Sapaan pada pagi hari juga menjadi bagian dari interaksi yang ia ingat.
"Di Amerika kita penuh words of affirmation, orang suka memuji, misalnya 'I love your skirt, I love your makeup', sedangkan di Indonesia kadang gengsi. Di Amerika paginya 'good morning, rise and shine', di Indonesia kadang tidak ada, hanya dibangunkan untuk berangkat sekolah. Karena perbedaan itu kita bisa merasa 'kok di Amerika lebih dihargai daripada di Indonesia'," jelas Fidelma.
Selain membawa pulang perspektif baru tentang apresiasi, ia juga merasakan peningkatan kemampuan berbicara di depan umum . Selama mengikuti program, ia terbiasa berbicara dengan orang baru, membangun pertemanan, dan memperkenalkan Indonesia kepada orang-orang yang ditemuinya.
Keterampilan itu kemudian membantunya ketika mengikuti seleksi duta wisata di daerah asalnya. Fidelma bersyukur dapat terpilih menjadi perwakilan untuk tingkat provinsi.
"Setelah pulang saya ikut seleksi duta wisata di daerah saya dan alhamdulillah menjadi perwakilan untuk provinsi. Di sana saya memakai keterampilan itu untuk membangun komunikasi dengan orang-orang baru. Karena sudah terbiasa di Amerika, saya tahu harus membangun topik seputar apa, dan saya melakukan hal yang sama ketika mengobrol dengan orang Indonesia," katanya.
Simak Video "Video: Baku Tembak Dekat Festival di Ohio, 12 Orang Jadi Korban"
[Gambas:Video 20detik] (pal/pal)

