Mengenal Surili yang Terancam Punah, Ditemukan Lemas di Karhutla Gunung Ciremai

ADVERTISEMENT

Mengenal Surili yang Terancam Punah, Ditemukan Lemas di Karhutla Gunung Ciremai

Devita Savitri - detikEdu
Minggu, 25 Okt 2026 14:00 WIB
Bayi surili yang ditemukan oleh Dodo saat memadamkan api kebakaran di Gunung Ciremai
Bayi Surili. Mengenal surili, satwa endemik Jawa yang jadi korban karhutla Gunung Ciremai.Foto: Istimewa
Jakarta -

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Gunung Ciremai, Jawa Barat (Jabar) memberikan dampak langsung bagi satwa endemik di sana. Terbaru, anggota Masyarakat Peduli Api (MPA) berhasil menemukan bayi surili endemik Jawa yang nyaris terpanggang.

Bayi surili itu ditemukan dengan bulu yang masih dominan putih. Namun, ia telah berada dalam kondisi lemas dan terjebak sendirian di tengah karhutla.

Pemerhati Primata Jawa Barat Sigit Ibrahim menyebut Gunung Ciremai memang habitat surili. Bahkan, kawasan Gunung Ciremai juga kerap dijadikan lokasi pelepasliaran surili yang sebelumnya direhabilitas di pusat konservasi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Surili ini perkembangbiakannya cukup baiklah di wilayah tersebut," tuturnya kepada detikJabar, Sabtu (24/10/2026).

ADVERTISEMENT

Terpisah Dari Induk dan Kawanannya

Terjebak dalam api, Sigit mengatakan bayi surili ini kemungkinan terpisah dari kawanannya. Selayaknya bayi, surili ini disebutnya belum bisa mandiri.

"Kalau lihat sekilas dari foto kan warna rambutnya masih sangat putih, berarti kan ini bisa dikategorikan sangat muda dan muda ini akan ada kebutuhan menyusui dari induknya, ada kebutuhan juga mendapat kehangatan di malam hari, mereka tidur harus dipeluk. Ketika tidak bersama induk atau tidak bersama kawanan ini sangat membahayakan sekali," beber Sigit.

Jika kawanan surili masih terlihat di lokasi, bayi ini sebaiknya dikembalikan. Namun, bila memang sudah tidak terlihat, bayi surili perlu dibawa ke pusat konservasi agar nyawanya tertologi.

"Harus ada penanganan di ruangan khusus dan perlakuan khusus, karena kalau memang masih membutuhkan susu, tidak bisa bisa diberikan sembarangan," sambungnya.

Spesies Terancam Punah

Dalam buku Membingkai Satwa Primata Indonesia dalam Tiga Pilar: Biologi, Konservasi, dan Biomedis milik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), surili menjadi satwa primata endemik yang masuk dalam status terancam punah (endangered) International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Saat ini, populasinya diperkirakan berjumlah kurang dari 2.500 individu yang sebagian besar tersisa di Jawa Barat. Di Jawa Barat, mereka tinggal di cagar alam yang sebagian besar aman dari gangguan habitat dan perburuan.

Pemerintah RI juga telah melindungi surili dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. Punya nama ilmiah Presbytis comata, surili merupakan kelompok monyet dunia lama.

Persebaran alami spesies ini ditemukan mulai dari Jawa bagian barat hingga Jawa bagian tengah. Umumnya, tubuh surili dewasa berwarna abu-abu, bagian bawah putih, dan kepala berjambul hitam.

Bila masih kecil, tubuhnya bisa berwarna putih seperti yang ditemukan di Gunung Ciremai. Rambut-rambut putih ini membuatnya disebut dengan monyet beruban.

Panjang tubuh surili dewasa mencapai 43-59,5 cm, sedangkan panjang ekornya adalah 56-72,4 cm. Bobot jantan sekitar 6,5 kg dan bobot betina sekitar 6,7 kilogram.

Surili hidup dalam sebuah kelompok/kawanan dengan jumlah individu 3-12 ekor. Mereka hanya tersebar di Pulau Jawa bagian barat dan tengah, terutama di beberapa taman nasional, cagar alam, dan hutan lindung, seperti:

  • Ujungkulon
  • Cerita
  • Ranca Danau
  • Haurbentes-Jasinga
  • Cikepuh/Cibanteng
  • Halimun
  • Pelabuhan Ratu
  • Gunung Salak
  • Jampang
  • Gunung Pancar
  • Gunung Papandayan
  • Patenggang
  • Cikajang
  • Gunung Limbung
  • Magesit Kareumbi
  • Gunung Sawal
  • Gunung Ciremai
  • Ciringin
  • Gunung Slamet
  • Gunung Cupu/Simembut
  • Gunung Gede-Pangrango
  • Ciwangi
  • Sanggabuana
  • Gunung Magesit
  • Kamojang
  • Gunung Simpang
  • Gunung Tilu
  • Burangrang
  • Cibeureum
  • Gunung Kencana
  • Gunung Lumping
  • Gunung Prau
  • Gunung Lawu
  • Sumber Kepuh.

Surili tinggal di ketinggian 2.565 mdpl dan suka lapisan tengah serta atas kanopi hutan. Tidak hanya ditemukan di hutan primer dan hutan sekunder, hewan ini juga bisa dijumpai di tepi dan interior hutan. Kerap kali ia dijumpai di zona antara hutan dan kebun, atau berada di tepi hutan.

Sumber pakan surili adalah daun muda, buah, bunga, biji, dan jamur. Mereka juga dikenal memakan tanah kemerahan yang biasanya dari lubang-lubang kecil di lereng. Tanah kemerahan ini disebut mengandung kapang yang dapat membantu pencernaan.

Mereka aktif di siang hari pada ketinggian rata-rata 25 meter di kanopi hutan bagian atas. Aktivitas mereka dilakukan dengan melompat satu pohon ke pohon lainnya atau kadang berjalan-jalan dengan keempat anggota tubuhnya.

Daerah jelajah surilis tergantung pada besar kecil kelompoknya. Kadang daerah jelajah ini bisa tumpang tindih dengan kelompok lain, tetapi pergerakan hariannya mencapai rata-rata 900 meter/hari.

Ketika ada bahaya, surili jantan bisa mengeluarkan suara "kik...kik...kik..". Suara ini diulang secara terus menerus sebagai tanda bahaya, seperti predator sehingga perlu meninggalkan lokasi tempat mereka tinggal.

Semakin terancam, BRIN menilai studi jangka panjang tentang populasi, distribusi, ekologi, dan ancaman perlu terus dilakukan. Tujuannya agar populasi surilli yang tersisa bisa terus dipantau.



(det/nah)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads