Saat ini, Indonesia masih bergantung pada produk impor untuk membuat chip paspor elektronik (e-passport). Untuk itu, para peneliti di Institut Teknologi Bandung (ITB) mengembangkan chip yang dibuat dari produk dalam negeri selama satu tahun.
Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui PT LAPI ITB bekerja sama dengan Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (Peruri) untuk mengembangkan prototipe chip paspor elektronik pertama di Indonesia.
"Ini yang pertama didesain di Indonesia. Sebelumnya, chip didesain di luar negeri dan diproduksi di luar negeri," kata Prof Ir Arif Sasongko, dikutip dari ITB, Kamis (15/10/2026).
Dosen dan peneliti yang terlibat dalam pengembangan chip paspor pertama di Indonesia selain Prof Ir Arif Sasongko adalah Muhammad Iqbal Arsyad, ST, MT, Nana Sutisna, ST, MT, PhD, Ir Mervin Tangguar Hutabarat, MSc, PhD, Dr Waskita Adijarto, ST, MT, Dr Yusuf Kurniawan ST, MT, serta Prof Sarwono Sutikno, Dr Eng, CSX-F, IIAP, CC dari Institut Teknologi Sumatera (Itera).
Dimulai pada 2025, pengembangan chip ini dilanjutkan dengan pengujian dan demonstrasi yang dilaksanakan pada September 2026 lalu. Saat ini, chip masih dalam bentuk prototipe dan diperlukan pengembangan lebih lanjut untuk diproduksi secara massal dengan biaya yang lebih efisien.
Fungsi Keamanan-Nilai Ekonomi
Prof Arif menjelaskan bahwa ada tiga tujuan utama dari pengembangan chip untuk e-paspor ini. Tiga tujuan tersebut adalah untuk meningkatkan penguasaan teknologi keamanan, untuk memperbesar nilai tambah ekonomi di dalam negeri, serta membuka peluang pemanfaatan teknologi untuk berbagai kebutuhan lainnya.
Lebih lanjut, pada tujuan peningkatan penguasaan teknologi keamanan, kemampuan merancang chip secara mandiri memungkinkan peneliti memahami dan mengendalikan arsitektur serta komponen teknologi yang digunakan. Ditambah, chip nantinya akan berisi informasi penting berupa identitas pemegang paspor.
Pembuatan chip secara mandiri ini juga berpotensi menambah nilai ekonomi karena sebagian besar aktivitas desain dan pengembangan dikerjakan oleh sumber daya lokal. Selain itu, utamanya, pembuatan chip lokal ini juga sebagai upaya mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap chip impor.
Selain alasan keamanan data dan nilai tambah ekonomi, penguasaan teknologi chip ini juga penting karena merupakan komponen utama dalam berbagai perangkat elektronik modern, termasuk transaksi elektronik atau teknologi lain yang juga memerlukan perlindungan informasi.
"Kalau chip Peruri dan ITB bisa dibuat (produksi massal), nilai tambahnya tinggi sekali. Chip itu juga bisa digunakan untuk berbagai keperluan lain selain paspor elektronik," katanya.
Prof Arif menyampaikan bahwa keberhasilan merancang chip di dalam negeri dapat menjadi pijakan bagi pengembangan industri semikonduktor nasional.
"Ini mengembangkan industri semikonduktor di Indonesia, khususnya chip design," ujarnya.
Simak Video "Video: Ada 'Paus Raksasa' Terdampar di Pasar Seni ITB"
(twu/twu)