ITS Buat Baterai Ramah Lingkungan dari Air Laut dan Aluminium Lokal

ADVERTISEMENT

ITS Buat Baterai Ramah Lingkungan dari Air Laut dan Aluminium Lokal

Kalila Untsa - detikEdu
Selasa, 15 Sep 2026 06:01 WIB
Uji coba menyalakan lampu dengan sumber energi dari hydro-aluminium baterai yang dikembangkan oleh Laboratorium Elektrokimia dan Korosi, Departemen Teknik Kimia ITS
Uji coba menyalakan lampu dengan sumber energi dari hydro-aluminium baterai yang dikembangkan oleh Laboratorium Elektrokimia dan Korosi, Departemen Teknik Kimia ITS. Foto: ITS
Jakarta -

Tim peneliti dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) berhasil mengembangkan prototipe baterai isi ulang aluminium-udara berbasis air atau hydro-aluminium bernama AluBayu.

Tim peneliti merupakan bagian dari departemen Teknik Kimia ITS, tepatnya Laboratorium Elektrokimia dan Korosi. Pengembangan ini dilakukan sebagai bentuk komitmen untuk menciptakan inovasi berkelanjutan.

Baterai yang bekerja dengan sistem dual-hydrogel tersebut diproyeksikan sebagai solusi penyimpanan energi masa depan yang aman dan ramah lingkungan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Prof Dr Ir Heru Setyawan ME, ketua tim peneliti, menuturkan bahwa komponen dalam baterai ini menyerap sumber daya biomassa lokal. Beberapa di antaranya adalah anoda dari aluminium, elektronik padat dari gel polymer electrolyte yang terbuat dari sabut kelapa, elektronik cair yang memanfaatkan NaCl dari air laut, dan komponen katoda yang bersumber dari nikel dan besi.

Melalui pemanfaatan komponen-komponen tersebut, AluBayu menawarkan keunggulan dalam penggunaan sistem elektrolit ganda berperekat padat. Sistem tersebut memisahkan jenis elektrolit antara kutub anoda yang merupakan kutub negatif dan katoda sebagai kutub positif.

ADVERTISEMENT

"Pemanfaatan dua jenis elektrolit yang berbeda itu berfungsi dalam mengoptimalkan reaksi kimia antara logam aluminium dan oksigen udara," kata Heru dikutip dari ITS.

Saat ini, satu modul prototipe AluBayu terdiri dari 20 sel berukuran kompak yakni 4×6 cm dengan bobot sekitar 20,2 gram. Modul tersebut dijelaskan mampu menghasilkan tegangan nominal sekitar 11,6 volt dengan nilai arus dan daya eksisting sekitar 0,15 mA. Dengan spesifikasi tersebut, baterai ini dinilai memiliki prospek utilitas yang sangat tinggi untuk aplikasi spesifik.

Selain itu, inovasi teknologi ini mendapat dukungan pendanaan oleh PT Pertamina Persero dalam hal pengembangan strategis untuk mendukung kemandirian teknologi nasional. Bahkan, badan usaha milik negara tersebut bersedia mendukung pengembangan AluBayu hingga masuk ke tahap hilirisasi.

"Dengan keunggulan yang ringan dan berbasis bahan baku ramah lingkungan, AluBayu sangat potensial untuk diaplikasikan pada perangkat penunjang darurat," kata Haryo Satria, Senior Specialist Technology Innovation Downstream dan New Energy PT Pertamina Persero, dikutip dari ITS.

Haryo menjelaskan bahwa prototipe AluBayu harus dibawa ke Jakarta guna mendukung pengembangan lebih lanjut mengenai beberapa hal yang masih menjadi catatan, salah satunya adalah daya tahan baterai yang masih lemah.

"Prototipe yang ada akan kita bawa ke Jakarta untuk ditelaah dan dikaji lebih lanjut bersama arah kebijakan manajemen perusahaan," lanjutnya.

Pengembangan baterai isi ulang ramah lingkungan ini menjadi salah satu upaya ITS untuk mencapai Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-7 tentang Energi Bersih dan Terjangkau.

Penulis adalah peserta MagangHub Kemnaker di detikcom.



(nah/nah)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads