Teliti Burnout Mahasiswa, Rachel Jadi Wisudawan Terbaik Psikologi UB

ADVERTISEMENT

Teliti Burnout Mahasiswa, Rachel Jadi Wisudawan Terbaik Psikologi UB

Cicin Yulianti - detikEdu
Rabu, 14 Okt 2026 16:30 WIB
Rachel jadi lulusan terbaik Psikologi UB
Rachel jadi lulusan terbaik Psikologi UB. Foto: UB
Jakarta -

Tak pernah terbayangkan sebelumnya oleh Rachel Nasha Aziza menjadi Wisudawan Terbaik Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Brawijaya (UB). Ia baru saja lulus dengan predikat tersebut.

Selain itu, Rachel lulus dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,95. Menariknya, topik yang ia angkat pada penelitian berkaitan dengan fenomena yang banyak dialami anak muda zaman sekarang, yakni burnout.

Rachel mengangkat penelitian berjudul Hubungan antara Perfeksionisme dan Academic Burnout pada Mahasiswa Tingkat Akhir. Ide tersebut muncul dari fenomena yang ditemuinya di lingkungan sekitar, ketika mahasiswa tingkat akhir harus menghadapi berbagai tuntutan secara bersamaan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Senang dengan Dunia Psikologi

Ketertarikannya pada ilmu psikologi berangkat dari keinginan memahami dinamika manusia. Ia penasaran dengan bagaimana cara berpikir manusia, cara manusia merespons situasi, hingga mengambil keputusan.

ADVERTISEMENT

"Selama menjadi mahasiswa Psikologi UB, pengalaman yang paling berkesan adalah proses pembelajarannya yang cukup hands on," katanya dikutip dari laman UB, Rabu (14/10/2026).

Selama kuliah, Rachel tidak hanya mendalami teori, tetapi juga mengikuti berbagai praktik psikologi. Pengalaman membuatnya memiliki perspektif yang lebih luas soal masalah psikologi yang ada pada manusia.

Rachel melihat ada banyak tuntutan yang dirasakan mahasiswa, mulai dari dari menyelesaikan skripsi, mengejar target kelulusan, memenuhi ekspektasi akademik, hingga mempersiapkan kehidupan setelah lulus.

Berbagai tuntutan tersebut tak jarang menjadikan seorang mahasiswa merasa harus perfeksionis. Oleh karena itu, Rachel tertarik meneliti bagaimana perfeksionisme berkaitan dengan kejenuhan akademik.

"Menurut saya, perfeksionisme tidak sesederhana ingin melakukan sesuatu dengan baik," jelas Rachel.

Menurutnya, perfeksionisme juga dapat muncul ketika seseorang menetapkan standar yang sangat tinggi. Banyak mahasiswa yang merasa harus memenuhi standar tertentu karena tuntutan dari lingkungan.

"Hasil penelitian saya menunjukkan bahwa perfeksionisme memang berhubungan dengan burnout akademik pada mahasiswa tingkat akhir. Dari ketiga dimensinya, yaitu standar tinggi terhadap diri sendiri, orang lain, dan standar tinggi yang kita rasa harus dipenuhi karena berasal dari orang lain, yang paling kuat hubungannya dengan burnout akademik adalah standar yang berasal dari ekspektasi orang lain," papar Rachel.

Sempat Merasakan Burnout Itu Sendiri

Selama mengerjakan penelitian tersebut, Rachel sendiri mengaku sempat menghadapi tantangan yang serupa dengan persoalan yang ditelitinya. Ia menuturkan sempat mengalami kejenuhan akademik akibat perfeksionisme yang dimilikinya.

Pengalaman tersebut di sisi lain membuatnya semakin memahami persoalan yang diangkat dalam skripsinya. Ia juga menemukan banyak mahasiswa tingkat akhir yang merasa dekat dengan topik penelitiannya.

"Hal ini membuat saya semakin merasakan urgensi penelitian saya dan termotivasi," ujarnya.

Rachel menilai standar tinggi dapat memberikan dampak berbeda bagi setiap mahasiswa. Bagi sebagian orang, standar tersebut bisa menjadi motivasi untuk mencapai hasil terbaik. Namun, bagi sebagian lainnya, standar yang sama justru dapat menjadi beban.

Aktif Organisasi-Raih Best Team Leader

Selain berprestasi di bidang akademik, Rachel aktif mengembangkan diri melalui organisasi dan kepanitiaan selama kuliah di UB. Salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya adalah bergabung dengan Girl Up Brawijaya dan meraih Best Team Leader.

Di organisasi tersebut, Rachel terlibat dalam bidang External Relations dan Social Media. Ia juga mengikuti kegiatan National dan International Club-to-Club bersama organisasi kepemimpinan Girl Up dari Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Airlangga (Unair), Girl Up Harvard, dan Girl Up USA.

Melalui berbagai kegiatan tersebut, Rachel berkesempatan mendalami isu feminisme interseksional dan kesetaraan gender. Baginya, Girl Up Brawijaya bukan sekadar tempat untuk belajar berorganisasi, melainkan juga komunitas yang aman dan suportif.

Rachel turut terlibat dalam sejumlah kepanitiaan, salah satunya Brawijaya Film Festival. Berbagai pengalaman itu membantunya mengembangkan kemampuan kerja sama tim, kepemimpinan, manajemen waktu, dan pemecahan masalah.

Setelah menyelesaikan pendidikan S1, Rachel kini memasuki masa transisi menuju tahap berikutnya. Ia tengah mengeksplorasi berbagai kegiatan dan bidang yang ingin ditekuni setelah lulus.



(cyu/twu)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads