Padi termasuk komoditas pangan utama di Indonesia. Salah satu tantangan petani padi adalah cuaca panas ekstrem dan salinitas tinggi.
Untuk mengatasi hal tersebut, peneliti Universitas Hasanuddin (Unhas) mengembangkan galur padi yang tetap bisa mempertahankan produktivitas di tengah kondisi tersebut.
Pemulia padi Unhas, Dr Muhammad Fuad Anshori, SP, MSi mengatakan perbaikan genetik adalah salah satu pendekatan penting untuk menghasilkan tanaman yang memiliki kemampuan adaptasi terhadap perubahan lingkungan. Pemuliaan padi dilakukan dengan proses seleksi dan pengembangan galur yang mempunyai karakter sesuai kondisi target.
Galur padi ini diperoleh dari metode penggaluran double haploid atau teknik yang digunakan untuk mendapatkan tanaman dengan sifat genetik murni hanya dalam satu generasi. Metode ini membantu peneliti dalam hal mempersingkat waktu penelitian.
Peneliti juga mengandalkan teknik mutasi. Kombinasi ini memperluas keragaman galur yang juga digunakan dalam proses seleksi terhadap tekanan kadar garam dan kekeringan.
"Pengembangan yang telah dilaksanakan sudah mencapai tahapan evaluasi dan diakhiri dengan penggaluran. Hasilnya, diperoleh produksi sekitar 6 ton per hektar pada kondisi salinitas dan kekeringan tinggi," kata pemulia padi Unhas, Dr Muhammad Fuad Anshori, SP, MSi, dikutip dari Unhas, Jumat (9/10/2026).
Pada pengujian menggunakan metode PM AAS, Pertanian Modern - Advanced Agricultural System, salah satu galur padi menunjukkan hasil uji ubinan sekitar 12 ton per hektare. Namun, hasil uji ubinan ini hanya analisis kasar sehingga diperlukan pengujian lebih lanjut.
"Kalau galur ini dicobakan dengan metode PM AAS, hasil uji ubinan sekitar 12 ton. Itu standar ubinan, jadi penilaiannya masih kasar. Pemupukan juga dilakukan sesuai dengan kebiasaan petani," jelas Fuad.
Pengembangan galur padi ini selaras dengan SDGs 9 (Sustainable Development Goals) tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. Tepatnya, pada bagian inovasi melalui riset ilmiah dan pengembangan teknologi untuk menjawab tantangan pertanian.
Penulis adalah peserta Magang Kemnaker di detikcom.
Simak Video "Video: Gelombang Panas Ekstrem Landa Eropa, Rekor Suhu Terpanas Pecah"
(nah/nah)