Godzilla El Nino Ancam RI, Pakar UGM Sebut Sektor Ini Akan Paling Terdampak

ADVERTISEMENT

Godzilla El Nino Ancam RI, Pakar UGM Sebut Sektor Ini Akan Paling Terdampak

Devita Savitri - detikEdu
Jumat, 03 Apr 2026 08:00 WIB
Petani melihat sawah mereka yang kekeringan di Desa Rayeuk Kareung Kecamatan Blang Mangat, Lhokseumawe, Aceh, Selasa (13/2/2024). Petani setempat menyebutkan seluas 67 haktar tanaman padi musim tanam pertama tahun 2024 di daerah tersebut alami kekeri
Pakar UGM sembut dampak yang terjadi dari Godzilla El Nino. Foto: ANTARA FOTO/Rahmad
Jakarta -

Memasuki musim kemarau, Indonesia diperkirakan akan dibayangi oleh fenomena 'Godzilla El Nino'. Penyebutan fenomena tersebut digunakan untuk menggambarkan intensitas El Nino yang sangat kuat.

Pakar dan Guru Besar bidang Agroklimatologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Bayu Dwi Apri Nugroho beri pandangan terkait fenomena ini. Ia menyebut El Nino pada dasarnya adalah bagian dari siklus iklim yang telah berlangsung lama.

Namun, perubahan iklim dan pemanasan global yang terus memburuk membuat kemunculan El Nino sulit diprediksi. Pada suatu waktu, El Nino bisa dalam kondisi normal, tapi ada suatu kondisi El Nino bisa menggila hingga timbul istilah 'Godzilla El Nino'.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Istilah itu merujuk pada intensitas El Nino yang jauh lebih kuat dari biasanya. Kondisi ini menurut Bayu akan memberikan dampak serius pada ketersediaan air.

Akibatnya, akan ada satu sektor yang paling terdampak Godzilla El Nino. Ya, bidang tersebut adalah pertanian.

ADVERTISEMENT

"El Nino itu sebenarnya siklus alami, sudah lama terjadi. Tapi sekarang polanya terasa makin cepat karena pemanasan global. Nah, kalau intensitasnya sudah sangat kuat, dampaknya pasti terasa ke pertanian, terutama dari sisi produksi," kata Bayu dikutip dari laman UGM, Kamis (2/4/2026).

Kalau Kekeringan, Gagal Panen Mengancam

Dijelaskan Bayu, komoditas pangan utama, seperti padi dan jagung sangat membutuhkan air dalam jumlah besar untuk tumbuh. Ketika suplai air menurun, kedua tanaman tersebut tidak bisa berkembang secara optimal.

Penurunan ketersediaan air, juga menyebabkan hasil panen dan kualitas produksi komoditi lain ikut terdampak. Dalam kondisi ekstrem, tanaman bahkan berpotensi mengalami kerusakan permanen dan bahkan berujung gagal panen.

Ketika hal itu terjadi, petani pasti akan mengalami kerugian yang cukup besar. Mengingat, biaya produksi yang telah dikeluarkan kemungkinan tidak bisa kembali menjadi keuntungan.

"Kalau kekeringan terjadi setelah tanam, petani bisa gagal panen. Artinya, biaya yang sudah dikeluarkan itu tidak kembali dan jadi kerugian," jelasnya.

Langkah Mitigasi Hadapi Godzilla El Nino

Untuk menghadapi hal tersebut, Bayu memberikan beberapa saran mitigasi, seperti:

1. Perkuat Komunikasi Antara Petani dan Penyuluh Pertanian

Petani harus bisa mendapat akses informasi mengenai kondisi cuaca secara aktual. Selain itu, penyuluh pertanian bisa memberikan pilihan varietas yang bisa ditanam petani.

Satu hal yang tidak kalah penting adalah pendampingan yang intensif. Melalui pendampingan ini, petani bisa terbantu dalam hal penyesuaian praktik di lapangan.

"Kuncinya ada di komunikasi petani dan penyuluh. Kalau informasinya jelas, petani bisa ambil keputusan yang lebih tepat di lapangan," urainya.

Menurut Bayu, Indonesia sudah punya pengalaman untuk menghadapi fenomena El Nino ekstrem pada 2024 lalu. Ia juga menyoroti berbagai program yang telah dijalankan untuk mengantisipasi dampak kekeringan.

Salah satu programnya adalah penguatan infrastruktur dan teknologi pertanian. Saat ini, inovasi irigasi hemat air dan kehadiran varietas tahan kekeringan terus dikembangkan, untuk itu petani tinggal memanfaatkannya dengan baik.

Pemanfaatan inovasi ini akan efektif bila petani bisa mengadaptasinya dengan baik di lapangan. Oleh karena itulah, penyuluh punya peran penting dalam penerapan inovasi dan praktik pertanian sehari-hari.

Pendampingan yang berkelanjutan dapat membantu petani lebih siap menghadapi kondisi iklim ekstrem. Dengan begitu, tantangan gagal panen mungkin bisa teratasi dengan baik.

"Peran penyuluh ini penting sekali, terutama saat petani menghadapi kekeringan panjang seperti sekarang," tegasnya.

2. Penyediaan Informasi Cuaca Akurat

Langkah mitigasi kedua perlu dilakukan bersama antara pemerintah, perguruan tinggi, dan lembaga terkait. Menurut Bayu, informasi terkait cuaca merupakan hal krusial yang harus diketahui masyarakat.

Jika informasi sampai ke desa, tantangan hingga dampak cuaca ekstrem akan bisa ditangani. Bayu juga menegaskan perlunya pengembangan teknologi pertanian untuk meningkatkan ketahanan sektor pangan.

Kolaborasi lintas sektor ini akan menjadi kunci dalam menghadapi Godzilla El Nino yang siap menghadang.

"Pemerintah melalui BMKG perlu memberikan early warning yang akurat hingga level desa, sementara perguruan tinggi harus terus didorong untuk menghasilkan inovasi varietas tahan kekeringan supaya dampak El Nino bisa ditekan," pungkasnya.




(det/pal)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads