El Nino saat ini tengah memasuki kategori sangat kuat. Dikarenakan hal tersebut, ancaman terhadap ketahanan pangan global juga meningkat.
Berdasarkan data National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), indeks Nino 3.4 pada 2 September 2026 mencapai +2,7°C (super/sangat kuat). Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, Prof Dwi Andreas Santosa menuturkan kondisi ini tidak hanya soal kekeringan.
Ia menyampaikan, fenomena El Nino sangat kuat berpotensi mengganggu produksi dan pasokan pangan dunia. Pada akhirnya, hal ini juga akan memicu kenaikan harga pada sejumlah komoditas hingga 2027.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dampak paling kuat untuk Asia Tenggara diperkirakan terjadi pada akhir 2026 dan awal 2027," jelas Andreas, demikian Prof Dwi Andreas Santosa biasa disapa, dikutip dari laman IPB University.
Ia menyebut El Nino akan berdampak pada musim tanam. Perkiraannya, El Nino sangat kuat akan berlangsung sampai Februari 2027. Akan tetapi kondisi El Nino kuat hingga moderat bisa berlanjut sampai April 2027.
"Musim hujan tahun ini juga diperkirakan mundur ke November atau Desember dengan curah hujan lebih rendah. Akibatnya, musim tanam pertama berpotensi bergeser dan produksi padi pada 2027 berisiko kembali tertekan," ungkapnya.
Ia menyebut persoalan pangan tidak cuma menyangkut harga sekarang ini, tetapi juga tentang bagaimana memastikan pasokan tetap tersedia saat dampak El Nino mulai terasa pada produksi pertanian.
Pergerakan Harga Pangan Global
Asia Tenggara adalah salah satu kawasan utama yang penghasil dan perdagangan beras dunia. Thailand, Vietnam, dan Myanmar, serta ada juga India di Asia Selatan merupakan wilayah pemasok beras yang sensitif terhadap El Nino. Terganggunya produksi beras di negara-negara tersebut bisa memberikan tekanan terhadap pasokan dan harga beras dunia.
Tekanan tersebut juga mulai tercermin melalui pergerakan harga pangan global. Food and Agriculture Organization (FAO) dalam Rice Price Update (4/9/2026) mencatat indeks harga pangan FAO menanjak dari 130,8 poin pada Juli menjadi 133,3 poin pada Agustus.
Indeks harga beras FAO juga naik dari 108,4 pada Juli menjadi 109,0 pada Agustus. Menurut Andreas, kenaikannya terutama disumbang oleh beras indika, yakni yang dikonsumsi rata-rata masyarakat Indonesia, dari 110,8 pada Juli menjadi 112,2 pada Agustus.
Indonesia Juga Perlu Hati-hati
Andreas menjelaskan Indonesia juga menghadapi persoalan yang tidak sederhana. Ia turut mencontohkan harga beras medium di pasar tradisional terus meningkat.
"Di satu sisi, produksi padi pada 2025 meningkat 13,29 persen dan stok beras pemerintah mencapai level tertinggi. Namun, peningkatan produksi dan besarnya stok tersebut belum berbanding lurus dengan harga beras di tingkat konsumen," paparnya.
"Dari Rp15.800 per kilogram pada Februari 2026, harga naik menjadi Rp16.370 pada Agustus dan mencapai Rp16.458 pada September 2026," ungkapnya.
Menurut Andreas, salah satu persoalan di Indonesia terletak pada dinamika penyerapan gabah. Pada Januari-Juli 2026, surplus produksi mencapai 4,03 juta ton setara beras.
Dari jumlah tersebut, sekitar 3,5 juta ton diserap Bulog, sehingga hanya sekitar 0,5 juta ton yang tersisa untuk pasar. Bersamaan, harga gabah kering panen terus meningkat hingga mencapai Rp 7.646 per kilogram pada Agustus.
Lulusan Technische Universitaet Braunscweig ini meyampaikan stok jumbo beras pemerintah tidak serta merta dapat berkontribusi terhadap pengendalian harga di pasar. Menurutnya, tata kelola pangan perlu diperkuat, khususnya melalui kebijakan berbasis data, perbaikan manajemen stok pemerintah, peningkatan elastisitas pasokan, dan penguatan kerja sama antara pemerintah dan sektor swasta.
Ia menegaskan langkah-langkah tersebut dibutuhkan untuk mengantisipasi supaya tekanan iklim dan pasar pangan tidak berkembang jadi gangguan pangan yang lebih luas.
