Sejarah Singkat Konflik Houthi di Yaman dengan Arab Saudi, Begini Mulanya

ADVERTISEMENT

Sejarah Singkat Konflik Houthi di Yaman dengan Arab Saudi, Begini Mulanya

Fahri Zulfikar - detikEdu
Minggu, 11 Okt 2026 16:00 WIB
Yaman kembali berperang. Operasi besar dilancarkan terhadap Houthi, dengan dukungan serangan Arab Saudi
Yaman kembali berperang. Operasi besar dilancarkan terhadap Houthi, dengan dukungan serangan Arab Saudi. Foto: DW (News)
Jakarta -

Serangan kelompok Houthi di Yaman ke bandara Riyadh, Arab Saudi, menyebabkan korban luka-luka pada Sabtu (10/10/2026). Serangan ini merupakan yang ketiga kalinya sejak awal Oktober 2026. Bagaimana awal mula konfliknya?

Untuk memahami konflik ini, perlu membedakan antara kelompok Houthi, Yaman (pemerintah), dan Arab Saudi. Dalam hal ini, kelompok Houthi tidak sama dengan Pemerintah Yaman, ya!

Houthi adalah kelompok bersenjata yang muncul di wilayah pegunungan Saada di utara pada 1990-an, menurut Al Jazeera. Sejak awal 2000-an pemberontakan sudah muncul, tetapi perlawanan kepada Pemerintahan Yaman dimulai pada 2014. Sejak inilah perang saudara di Yaman dimulai.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada Januari 2015, Houthi merebut istana presiden di Sanaa, memaksa Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi untuk melarikan diri ke kota pelabuhan Aden di selatan. Sang Presiden Yaman kemudian pindah ke Arab Saudi dengan tetap menjalankan pemerintahannya dalam pengasingan hingga pengunduran dirinya pada 2022.

ADVERTISEMENT

Bagaimana Houthi dan Arab Saudi Bisa Memanas?

Kelompok Houthi telah menguasai sebagian besar wilayah barat laut Yaman dan beberapa daerah yang berdekatan dengan Arab Saudi. Sejak September 2026, Houthi telah memperketat kendali atas pantai Laut Merah yang vital di Yaman.

Namun, keterlibatan Arab Saudi telah dimulai saat memimpin koalisi militer melawan Houthi pada Maret 2015, dengan tujuan memulihkan pemerintahan Presiden Hadi saat itu. Houthi kemudian menuduh Arab Saudi melakukan serangan untuk mendukung pemerintah Yaman.

Selama bertahun-tahun, Houthi terus melakukan serangan menggunakan rudal dan drone bersenjata ke wilayah Arab Saudi. Baru pada 2022, Houthi dan Arab Saudi dimediasi untuk melakukan gencatan senjata.

Pertempuran tersebut menyebabkan hampir setengah populasi di Yaman, atau sekitar 22 juta warga, sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan. Kondisi ini membuat Yaman menjadi negara dengan krisis kemanusiaan terburuk di dunia.

Hal ini diperparah oleh sistem kesehatan dan air yang rusak akibat perang saudara. Ditambah, jutaan warga Yaman terpapar penyakit kolera dan menjadikan negara tersebut sebagai wilayah wabah kolera terburuk di dunia.

Setelah Presiden Hadi mundur pada 2022, dibentuklah Dewan Pimpinan Presiden (Presidential Leadership Council/PLC). Dewan beranggotakan delapan orang tersebut mewakili pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.

Tujuan dibentuknya PLC adalah untuk mengelola urusan politik, keamanan, dan militer negara tersebut, serta untuk mengarahkan negosiasi menuju gencatan senjata permanen. Dewan ini diketuai oleh Rashad al-Alimi, seorang penasihat Presiden Hadi dan mantan menteri dalam negeri pada pemerintahan mendiang Presiden Saleh.

PLC didukung oleh Arab Saudi dan aliansi yang dipimpin Riyadh. Meski tujuannya untuk menyatukan Yaman, keterlibatan Arab Saudi semakin memperpanjang ketegangan.

Selama konflik, kelompok Houthi didukung oleh Iran untuk melawan koalisi militer (termasuk pemerintahan Yaman) yang dipimpin oleh Arab Saudi.

Apa Keinginan Houthi Sebenarnya?

Sampai saat ini perang saudara di Yaman masih terus berlangsung. Konflik dengan Arab Saudi kembali memanas sejak Juli 2026 usai runtuhnya kesepakatan gencatan senjata. Perang pun kembali dimulai.

Pada awal September, pasukan bersenjata Yaman yang didukung Arab Saudi terlibat pertempuran dengan Houthi di Marib selatan serta Taiz, Lahj, al-Jawf dan al-Bayda. Houthi meraih kemenangan dengan merebut kota Mocha di Laut Merah yang sangat penting, memperluas kendali atas Selat Bab al-Mandeb yang strategis.

Sebagai kelompok poros perlawanan, Houthi menginginkan kekuasaan yang lebih besar di Yaman. Dengan anggota yang sudah mencapai 350.000 orang per 2025, Houthi telah menguasai antara seperempat dan sepertiga wilayah Yaman.

Houthi juga ingin blokade Arab Saudi diakhiri, sehingga mereka bisa mengendalikan seluruh Yaman, termasuk akses ke pendapatan minyak dan gas dalam negeri, demikian menurut laporan BBC.

Kini, kelompok Houthi telah melarang pelayaran kapal-kapal Arab Saudi yang telah menggunakan Laut Merah sebagai alternatif Selat Hormuz. Pada pertengahan September 2026, pipa minyak Timur-Barat diserang dengan sebuah drone untuk mengganggu ekspor minyak Arab Saudi. Serangan ini menyebabkan harga minyak global melampaui USD 100 per barel.

Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dan Arab Saudi telah mendesak Presiden Trump untuk 'ikut' menyerang Houthi usai serangan ke pasokan minyak tersebut. Namun, Trump tidak melakukannya karena Houthi telah setuju untuk tidak menyerang aset-aset milik Amerika Serikat.



(faz/nah)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads