×
Ad

Tiada Ada Kata Terlambat untuk Belajar, Rumdani Kantongi Paket C Saat Usianya 52

Kalila Untsa - detikEdu
Kamis, 08 Okt 2026 07:30 WIB
Cerita Rumdani, ia baru menempuh Paket C pada usia 52. Foto: Kemendikasmen
Jakarta -

Tidak ada istilah terlalu tua untuk meraih pendidikan yang lebih tinggi. Itulah kira-kira yang dilakukan oleh Rumdani Prapti Sumiwi.

Ia berhasil mendapatkan ijazah Paket C ketika itu usianya sudah 52 tahun. Capaian ini ia dapat pada 2015 lalu.

"Saya itu lulus Paket B itu 2012, kemudian tahun 2015 Paket C saat itu sudah kepala lima," kata Rumdani dalam Peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) Ke-60 Tingkat Nasional di Cilacap, Jawa Tengah beberapa waktu lalu, dikutip dari Vokasi Kemendikdasmen.

Saat itu, ia merupakan peserta didik program kesetaraan di PKBM Al Fikri, Cilacap, Jawa Tengah. Mengapa Rumdani mau susah payah belajar kembali di usia yang cukup senior?

Minder Saat Mengisi Pelatihan

Rumdani sejatinya memiliki prestasi yang luar biasa. Sebagai wirausahawan, ia kerap menjadi narasumber untuk mengisi pelatihan.

"Saya, kan, sering diundang sebagai narasumber untuk mengisi pelatihan, kadang saya minder dengan narasumber lainnya, mereka memiliki pendidikan tinggi-tinggi, sementara saya cuma lulusan sekolah dasar," ungkap Rumdani.

Rumdani yang lahir pada 1963, mengungkapkan meski usianya tidak lagi muda, tetap bertekad untuk mengambil ujian kesetaraan tersebut.

"Saat Paket B itu usia saya sudah mau 50 tahun. Tapi, saya tidak malu walaupun sekelas mungkin saya sendiri yang paling tua," katanya.

Rumdani memilih PKBM Al Fikri karena lokasi PKMB cukup dekat dengan rumahnya. Di sana juga terdapat banyak program, termasuk kewirausahaan.

Dahulu ia belajar pada pukul 7 hingga 9 malam, Ia menyebut, teman-temannya masih muda.

"Kalau ada yang susah, saya biasanya tanya ke anak saja," ujar Rumdani.

Mengenal Rumdani, Wiraswasta Asal Cilacap

Pada 2019 lalu, detikfinance sempat memberitakan soal Rumdani. Pada saat itu, tercatat ia bersama komunitasnya dalam Kelompok Kampung Ekonomi Kreatif (Kemiren Asri), program binaan Pertamina Refinery Unit IV, berhasil mengekspor produk olahan jamur ke Malaysia dan Hong Kong. Setiap kelompok kegiatan Kemiren Asri dapat menghasilkan omset sekitar Rp 7 juta per bulannya.

Saat pandemi COVID-19 pada 2021, Rumdani bersama kelompok ekonomi tersebut juga menginisiasi aktivitas untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari yang terkait dengan kesehatan tubuh.

Kelompok tersebut memproduksi minuman jahe merah untuk meningkatkan imun, pembuatan masker, dan baju hazmat sebagai alat pelindung diri (APD) bagi para petugas medis. Mereka juga membuat hand sanitizer, yang pada saat itu layaknya kebutuhan primer sehari-hari.

Pada April 2021, Pertamina turut memberikan pelatihan khusus pembuatan hand sanitizer dengan aroma khas minyak kayu putih, bercampur dengan bioetanol dari buah nipah dan ekstrak lidah buaya.

"Hasilnya luar biasa, saat ini pesanan hand sanitizer mencapai kisaran 30 sampai 40 liter per bulan. Kami bersyukur PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Unit Cilacap yang selalu memberikan semangat, mendampingi dan merangsang kami untuk terus berkarya di masa pandemi, termasuk juga memberikan pelatihan pemasaran online, sehingga bisa memasarkan produk kami hingga ke Hongkong," dikutip dari arsip Antara.

Penulis adalah peserta Magang Kemnaker di detikcom.



Simak Video "Mensos RI: "Ayo Jihad Data""

(nah/nah)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork