Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti menekankan pendidikan paket C tidak lebih rendah dari SMA. Ijazah pendidikan kesetaraan dan ijazah pendidikan formal memiliki kedudukan yang setara.
"Banyak Pak yang lulusan paket C dari kami itu menjadi anggota dewan. Bahkan dari paket C itu Pak, kariernya di lembaga itu menjadi bagus. Nah artinya apa? Paket C itu tidak berarti posisinya lebih rendah dari SMA," ucap Mu'ti.
Hal tersebut ia sampaikan pada Peluncuran Dapodik Lembaga Kursus dan Pelepasan 2.452 Alumni LPK Bekerja ke Luar Negeri di LKP Puspita Martha International Beauty School, Jl KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Kamis (17/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bekerja sambil Kejar Paket C
Mu'ti mengatakan, sebagian orang juga tidak berkesempatan mengikuti pendidikan formal karena alasan ekonomi. Mereka lalu dapat ikut kursus, sehingga memperoleh keterampilan dan sertifikat, yang kemudian mendatangkan pemasukan.
Kendati tidak dapat menempuh sekolah formal karena terbentuk waktu kerja, mereka kemudian dapat mengikuti program paket C dan mendapatkan ijazah kesetaraan.
"Jadi pada akhirnya dia punya ijazah dan ijazah kesetaraan itu kedudukannya sama dengan ijazah formal. Namanya kesetaraan, memang tidak sama karena namanya juga setara, tetapi nilainya sama," kata Mu'ti.
Atlet Nasional-Anak Diplomat Pun Ikut Paket C
Sementara itu, Mu'ti mengatakan, sebagian peserta didik ikut program paket C karena kesibukannya sebagai kalangan profesional. Contohnya yakni atlet nasional.
"Karena sebagian besar waktunya habis di pusat pelatihan dan mengikuti berbagai macam turnamen. Kalau seorang atlet itu tidak ikut turnamen, peringkatnya bisa turun. Karena itu ikut turnamen itu ya memang untuk bagaimana dia bisa meningkat dan menjaga reputasinya. Nah karena itu pilihan pendidikannya apa? Ya nonformal melalui program kesetaraan," ucapnya.
Mu'ti mengungkapkan, sejumlah anak diplomat pun mengikuti program paket C karena harus berpindah-pindah negara mengikuti tugas orang tua. Ia menyebut nilai peserta didik program kesetaraan ini tidak lantas rendah.
"Bahkan banyak program kesetaraan itu diikuti oleh anak para diplomat yang karena mereka harus mengikuti tugas orang tua yang pindah-pindah dari satu negara ke negara yang lainnya ya karenanya kemudian pilihan pendidikan yang paling mungkin adalah kesetaraan," ucapnya.
"Sehingga pernah ada peserta kesetaraan itu bahasa Inggrisnya nilainya 100, orang curiga jangan-jangan soalnya bocor. Ternyata dia anak diplomat yang memang bahasa Inggrisnya lebih bagus dari bahasa Inggris Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah ya," ujarnya tertawa.
(twu/nah)
