Universitas Brawijaya mengembangkan eceng gondok dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas menjadi probiotik dan ecoenzyme. Dalam program Pengabdian Masyarakat Kolaborasi Indonesia (PMKI) JATIMPRO 2026 itu, tim melakukan pelatihan produk tersebut bersama pembudidaya ikan lele dan nila di Dusun Tanggung, Desa Tanggung, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang.
Tim terdiri atas Muhammad Fakhri, PhD dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) sebagai ketua, bersama Prof Dr Eng Riyanto Haribowo, Dr I Made Dedi Mahariawan, Dr Nasrullah Bai Arifin dan Pratama Diffi Samuel, M Ling. Program ini juga melibatkan kolaborasi Universitas Negeri Malang (Dr Otto Fajarianto) dan Universitas Negeri Surabaya (Arie Wardhono, Ph D).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam kegiatan tersebut, masyarakat dikenalkan pada pemanfaatan eceng gondok dari DAS Brantas sebagai bahan organik yang dapat diolah melalui proses fermentasi. Pendekatan ini bertujuan untuk mengubah biomassa menjadi produk yang bernilai guna.
"Pendekatan yang kami kembangkan adalah bagaimana bahan organik yang sebelumnya dianggap sebagai masalah lingkungan dapat masuk kembali ke dalam siklus produksi. Eceng gondok dari DAS Brantas kami manfaatkan sebagai salah satu bahan untuk pengembangan produk fermentasi berupa probiotik dan ecoenzyme," jelasnya dalam laman Universitas Brawijaya dikutip Minggu (27/9/2026).
Pembudidaya eceng gondok memperoleh pendampingan mulai dari persiapan bahan, formulasi, fermentasi, pengukuran pH, hingga penyimpanan dan kontrol mutu sederhana. Fakhri menegaskan masyarakat tidak cukup diberikan transfer teknologi, tapi perlu pelatihan langsung agar bisa memproduksi secara mandiri.
"Target kami adalah pembudidaya memahami prosesnya sehingga mampu memproduksi, mengevaluasi kualitas secara sederhana, dan memanfaatkannya secara mandiri," katanya.
ManfaatProbiotik danEcoenzyme pada Budidaya Ikan
Probiotik dapat membantu proses penguraian bahan organik dan mendukung pengelolaan kualitas air budidaya. Kemudian ecoenzyme dimanfaatkan sebagai bahan pendukung sanitasi sarana, pengurangan bau, serta pengelolaan lingkungan sekitar kolam.
Teknologi tersebut diharapkan dapat membantu berbagai persoalan yang dihadapipembudidaya ikanlele dan nila, seperti penumpukan sisa pakan dan feses, peningkatan bahan organik, dan naik-turunnya kualitas air.
"Apabila biomassa lokal dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat, masyarakat memperoleh keuntungan ekologis sekaligus ekonomis. Beban bahan organik dapat dikurangi, sementara hasil pengolahannya dapat mendukung pengelolaan budidaya," ujar Fakhri.
Tim UB berharap program ini dapat membangun hubungan yang lebih kuat antara konservasi lingkungan, pemanfaatan sumber daya lokal, inovasi teknologi, dan peningkatan kapasitas pembudidaya ikan sehingga teknologi yang diperkenalkan dapat diterapkan dan dikembangkan secara mandiri oleh masyarakat.
