Top! ITS Juara Umum Kompetisi Robot Terbang Indonesia 2026 di IKN

ADVERTISEMENT

Top! ITS Juara Umum Kompetisi Robot Terbang Indonesia 2026 di IKN

Tim detikEdu - detikEdu
Sabtu, 26 Sep 2026 16:00 WIB
Divisi Vertical Take-Off and Landing (VTOL) memperkenalkan inovasi Real-Time Kinematic (RTK) yang memiliki sensor LiDAR agar pesawat tetap dapat terbang secara presisi dan cepat di area tanpa GP
Foto: ITS
Jakarta -

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menjuarai Kompetisi Robot Terbang Indonesia (KRTI) 2026. KRTI 2026 berlangsung pada 21-26 September 2026 di Institut Teknologi Kalimantan (ITK) dan Ibu Kota Nusantara (IKN).

Capaian ITS sebagai Juara Umum diperkuat melalui prestasi Tim Bayucaraka ITS yang meraih Juara I Divisi Fixed Wing, Juara I Divisi Long Endurance Low Altitude (LELA), serta Juara Harapan I Divisi Technology Development (TD), demikian dilansir dari laman Institut Teknologi Kalimantan (ITK), Sabtu (26/9/2026).

Kedigdayaan ITS Surabaya diumumkan di vision center Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan pada Jumat malam (25/9/2026) kemarin. Vision center adalah amphitheater mini yang berhadapan langsung dengan patung Burung Garuda, yang menjadi pusat dari malam penutupan KRTI 2026, dilansir dari laman Kemdiktisaintek.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tim Bayucaraka ITS mengirimkan sekitar 50 anggota yang terbagi dalam lima divisi, yakni:

ADVERTISEMENT
  1. Fixed Wing
  2. Racing Plane
  3. Vertical Take-Off and Landing (VTOL)
  4. Technology Development (TD)
  5. Long Endurance Low Altitude (LELA)

Kelima divisi membawa fokus inovasi yang berbeda. Fixed Wing mengembangkan teknologi pemetaan pesawat dengan mengutamakan ketangguhan. Sementara itu, LELA mengembangkan teknologi penerbangan berdurasi panjang pada ketinggian rendah dengan konsumsi energi minimal. Adapun Racing Plane berfokus pada pencapaian kecepatan maksimum pesawat.

Salah satu inovasi yang diandalkan berasal dari divisi TD. Divisi ini mengembangkan Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau pesawat nirawak untuk mempercepat penanganan bencana dan kecelakaan lalu lintas. Teknologi tersebut dirancang untuk membantu pemerataan pencarian dan pemantauan korban secara real-time sehingga dapat memangkas waktu respons aparat di medan kritis, demikian dilansir dari laman ITS.

Mohammad Rifqi Firmansyah, mahasiswa Departemen Teknik Elektro ITS semester lima dari divisi TD, mengungkapkan bahwa persiapan telah dilakukan selama empat bulan. "Kami hampir setiap hari melakukan uji coba, belajar dari kegagalan, lalu memperbaiki kekurangan," ungkapnya.

Berbeda dengan tahun sebelumnya, UAV TD menghadirkan kebaruan pada airframe serta sejumlah komponen yang dibuat secara mandiri, seperti sistem dan pengendali jarak jauh. Bagi Rifqi, inovasi tersebut menjadi pembuktian kemampuan mahasiswa Indonesia dalam mengembangkan pesawat nirawak secara mandiri.

Sementara itu, divisi VTOL menghadirkan teknologi Real-Time Kinematic (RTK) untuk meningkatkan akurasi GPS. Tantangan tahun ini mendorong tim mengembangkan sensor Light Detection and Ranging (LiDAR) agar pesawat tetap dapat terbang secara presisi dan cepat di area tanpa GPS.

Sedangkan Mohammad Khirz El Jausyan, mahasiswa Departemen Teknik Komputer ITS semester lima dari divisi VTOL, mengatakan inovasi juga dilakukan pada sistem dropper. "Tahun ini kami mengganti desain dropper menjadi kotak P3K yang melintang vertikal," jelasnya.

"Perjalanan kami sampai di titik ini cukup panjang. Sejak tahun lalu kami terus melakukan riset, belajar dari hasil yang belum sesuai harapan, dan melakukan berbagai perbaikan. Prosesnya tentu melelahkan, tetapi semua terbayarkan ketika kami bisa berada di IKN dan meraih hasil yang selama ini kami impikan. Kami sangat bersyukur dan berterima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung perjalanan kami. Semoga capaian ini menjadi semangat bagi kami untuk terus belajar, berkembang, dan menghasilkan inovasi yang lebih baik ke depannya," demikian kata perwakilan ITS.

Kebangaan buat ITS yang menjadi juara umum KRTI 2026 setelah sepekan lalu meraih juara umum Kontes Kapal Indonesia (KKI) 2026 di Bengkalis sekaligus menciptakan hattrick.

Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kemdiktisaintek, Beny Bandanadjaja, memastikan KRTI 2026 mempunyai makna tersendiri karena wahana terbang tanpa awak yang mampu memetakan wilayah luas, menjangkau titik evakuasi yang sulit, dan memantau kondisi lapangan dari udara, bukan sekadar objek perlombaan. Lebih dari itu, inovasi yang digagas seluruh peserta adalah solusi nyata yang kelak akan sangat diandalkan negara dalam penanggulangan bencana dan kemanusiaan.

Berikut ini adalah daftar lengkap pemenang KRTI 2026.

1. Divisi Racing Plane

Juara 1: Universitas Sebelas Maret, Tim Narash BUV.

Juara 2: Universitas Andalas, Tim Gonjong Tujuah AFRG-036.

Juara 3: Universitas Negeri Yogyakarta, Tim REJETION.

Juara 4: Universitas Riau, Tim BeladauSerindit.

Fastest Plane in Single Race: Universitas Gadjah Mada, Tim Rasayana.

Best Airmanship and Safety: Universitas Islam Indonesia, Tim ABIMANYU.

Best Teamwork: Institut Teknologi Bandung, Tim Javistha Asvatara.


2. Divisi Fixed Wing

Juara 1: Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Tim BAYUCARAKA ITS.

Juara 2: Universitas Gadjah Mada, Tim Fiachra.

Juara 3: Universitas Negeri Surabaya,Tim DEWANAGARI.

Juara Harapan 1: Universitas Andalas, Tim Unggeh Tabang AFRG-037.

Juara Harapan 2: Universitas Negeri Malang, Tim Cakrawala 2.

Best Design: Sekolah Tinggi Teknologi Kedirgantaraan, Tim Sky Phoenix.

Best Team: Universitas Syiah Kuala, Tim Seulawah.


3. Divisi Vertical Take Off Landing

Juara 1: Universitas Diponegoro, Jantayu Copter.

Juara 2: Institut Teknologi Bandung, Tim Altigen Krasnala.

Juara 3: Universitas Ahmad Dahlan, Tim King Phoenix.

Juara Harapan, Politeknik Negeri Bali, Tim Jatayu PNB.

Best Design: Universitas Andalas, Tim Sikumbang Api AFRG-038.

Best Strategy: Universitas Telkom, Tim Sosrasky.

Best Spirit: Universitas Negeri Malang, Tim Wisanggeni.


4. Divisi Long Endurance Low Altitude

Juara 1: Institut Teknologi Sepuluh Nopember, BAYUCARAKA ITS.

Juara 2: Universitas Negeri Yogyakarta, Voyager.

Juara 3: Universitas Gadjah Mada, Virachakra.

Juara Harapan 1: Universitas Diponegoro, Jentayu LELA.

Juara Harapan 2: Politeknik Elektronika Negeri Surabaya, Tim ESPYRO-LELA.

Best Prototype: Universitas Gunadarma, Tim UG AETHER.

Best Team Work: Institut Teknologi Bandung, Tim Akasadhipa.

5. Divisi Technology Development

Juara 1: Politeknik Elektronika Negeri Surabaya, Tim EFRISA TEAM.

Juara 2: Universitas Brawijaya, Tim Atyabrama.

Juara 3: Universitas Sebelas Maret, Tim Akasha Seva BUV.

Juara Harapan 1: Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Tim BAYUCARAKA ITS.

Juara Harapan 2: Universitas Negeri Yogyakarta, Az-Zawra Biantara.

Best Innovation Pitch: Universitas Gadjah Mada, Tim Khageswara.

Best Technology Potential: Institut Teknologi Bandung, Tim Aksa Vikara.

Best New Comer: Institut Teknologi Kalimantan, Tim Pandhega Daksa.

6. Juara Umum

Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya.



(nwk/nwk)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads