Cerita Durinda-Durinta, Saudara Kembar Kompak Lulus S1-S3 di Jurusan yang Sama

ADVERTISEMENT

Cerita Durinda-Durinta, Saudara Kembar Kompak Lulus S1-S3 di Jurusan yang Sama

Devita Savitri - detikEdu
Selasa, 15 Sep 2026 18:30 WIB
Durinda dan Durinta, saudara kembar yang berhasil lulus S3 UM bersama.
Durinda dan Durinta, saudara kembar yang berhasil lulus S3 UM bersama. Foto: dok. Universitas Negeri Malang
Jakarta -

Bersama sejak dalam kandungan, saudara kembar Durinda Puspasari dan Durinta Puspasari juga kompak dalam proses menyelesaikan pendidikan. Keduanya baru saja berhasil meraih gelar doktor (S3) dari Program Doktor Pendidikan Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Malang (FEB UM).

Ada cerita unik di balik kekompakan Durinda dan Durinta. Tak hanya jalani S3 di program studi yang sama, keduanya juga mengambil jurusan S1 dan S2 yang serupa!

Disampaikan Dr Durnida dan Dr Durinta, mereka merupakan alumni S1 Pendidikan Administrasi Perkantoran, S2 Pendidikan Ekonomi, hingga akhirnya kini meraih gelar S3 Pendidikan Ekonomi UM bersama.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kembali kompak, saudari kembar yang lahir dan besar di Malang ini mengabdikan diri sebagai dosen pada Program Studi S1 Pendidikan Administrasi Perkantoran, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

ADVERTISEMENT

S3 Bersama Tak Direncanakan Sejak Awal

Berprofesi sebagai dosen, Durinda dan Durinta menyebut melanjutkan S3 bukan sekadar pilihan akademik. Langkah ini merupakan upaya mereka untuk terus meningkatkan kapasitas sebagai pendidik dan peneliti.

Resmi lulus bersama, ternyata Durinda dan Durinta tak merencanakan kuliah S3 bersama sejak awal. Menyakini dirinya perlu meningkatkan kompetensi, berkuliah lagi menjadi jalan yang diambil saudara kembar ini.

Menjaga motivasi dan kesehatan mental menjadi dua aspek penting yang mereka pegang teguh selama menyelesaikan S3. Tak lupa dukungan keluarga, teman, dan sikap positif menjadi tambahan semangat untuk tetap bertahan dan menyelesaikan perjalanan akademik.

Teman Diskusi-Penyemangat

Jalani kuliah di tempat dan waktu yang sama, Durinda dan Durinta menjadikan hubungan persaudaraan mereka sebagai ruang diskusi yang produktif. Di tengah proses pengerjaan disertasi, masing-masing kerap bertukar gagasan, memberikan masukan, dan menjadi penyemangat ketika tantangan penelitian datang.

"Kami merasa memiliki teman sekaligus saudara yang dapat saling berbagi dan berdiskusi terkait perkuliahan maupun disertasi yang sedang dikerjakan. Meskipun tema penelitian berbeda, kami bisa saling memberikan masukan dan dukungan," jelas keduanya dikutip dari laman resmi UM, Selasa (15/9/2026).

Jalani Tema Disertasi yang Berbeda

Satu hal perbedaan yang terjadi di proses S3 Durinta dan Durinda adalah tema disertasi masing-masing. Durinta mengkaji intensi berwirausaha pada mahasiswa pada disertasinya.

Literasi digital disebut sebagai variabel mediasi baru yang bisa memperkaya pemahaman terkait proses terbentuknya intensi berwirausaha mahasiswa. Dalam disertasinya ini, Durinta merekomendasikan agar pendidikan kewirausahaan tidak hanya diajarkan melalui mata kuliah.

Lebih lanjut, pendidikan kewirausahaan menurutnya bisa diperkuat melalui project-based learning, inkubasi bisnis mahasiswa, serta pemanfaatan platform digital sebagai media praktik kewirausahaan.

Upaya tersebut turut mendukung SDGs poin ke-8 melalui penguatan keterampilan kewirausahaan dan kesiapan generasi muda menghadapi dunia kerja, sekaligus SDGs poin ke-9 melalui pemanfaatan teknologi dan inovasi digital.

Sedangkan Durinda membahas tentang perilaku belajar mahasiswa di era digital pada disertasinya. Ia mengembangkan model integratif yang menjelaskan perilaku belajar mahasiswa melalui interaksi empat faktor utama, yakni social influence, literasi digital, motivasi belajar, dan self-efficacy.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan digital, lingkungan sosial, motivasi belajar, dan keyakinan terhadap kemampuan diri memiliki peran penting dalam membentuk perilaku belajar mahasiswa di era transformasi digital.

Temuan ini sejalan dengan upaya pencapaian SDGs ke-4, khususnya dalam mendorong pendidikan yang inklusif, berkualitas, dan relevan dengan perkembangan zaman.

Meski telah mencapai jenjang pendidikan tertinggi, Durinta dan Durinda tak menganggap S3 sebagai tujuan akhir. Gelar doktor yang keduanya sandang adalah jalan baru untuk menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat.

"Menempuh studi pada Program Doktor Pendidikan Ekonomi UM bukan hanya tentang meraih gelar akademik tertinggi, tetapi juga membangun visi besar untuk memberi dampak nyata bagi masyarakat," tegas keduanya.



(det/twu)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads