Deretan Doktor Non-Muslim yang Lulus S3 dari UIN Jakarta, Terbaru Ivon Rahmani!

ADVERTISEMENT

Deretan Doktor Non-Muslim yang Lulus S3 dari UIN Jakarta, Terbaru Ivon Rahmani!

Devita Savitri - detikEdu
Kamis, 10 Sep 2026 12:30 WIB
Ivon Rahmani, Doktor Non-Muslim yang lulus S3 dari UIN Jakarta.
Ivon Rahmani, Doktor Non-Muslim yang lulus S3 dari UIN Jakarta. Foto: UIN Jakarta
Jakarta -

Meski bernama Universitas Islam Negeri, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta terbuka untuk mereka yang ingin menuntut ilmu dari latar belakang apa pun. Termasuk bila mahasiswa memiliki latar belakang selain agama Islam.

Hal itulah yang dirasakan oleh Dr Ivon Rahmani, STh MTh. Dr Ivon baru saja menyelesaikan Program Doktor (S3) di Sekolah Pascasarjana (SPs) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Uniknya, Ivon menjalani program S3 Pengkajian Islam melihat latar belakangnya sebagai non-muslim.

Program S3 Pengkajian Islam merupakan program yang berlandaskan ajaran dan etika keislaman. Profil utama lulusan program studi ini biasanya akademisi, peneliti, dan Ahli Agama Utama yang mampu mengembangkan teori-teori.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sempat Khawatir Kuliah di UIN

Ivon mengaku memang dirinya tertarik untuk masuk ke UIN Jakarta. Ia melihat kampus ini sebagai institusi yang terbuka terhadap dialog keberagaman agama.

ADVERTISEMENT

"Saya tertarik untuk masuk ke UIN Jakarta mengambil program doktoral karena melihat UIN Jakarta sebagai institusi yang sangat terbuka terhadap dialog keberagamaan agama dari berbagai macam denominasi agama yang ada," tuturnya dikutip dari laman resmi UIN Jakarta.

Sebagai sosok yang memiliki latar belakarng berbeda, Ivon memang sempat cemas keberadaannya bisa diterima atau tidak. Namun, setelah menjalani studi, ia merasakan penerimaan dan fasilitas yang baik.

"Awalnya mengalami tantangan dan ada sedikit kecemasan apakah saya diterima atau tidak. Tetapi seiring berjalannya waktu, ternyata kampus UIN Jakarta menerima saya dengan sangat terbuka dan sangat baik," ceritanya.

Pengalaman belajar di UIN Jakarta memberikan perspektif baru padanya. Ia kini meyakini bila proses pendidikan tidak harus berlangsung di ruang yang sama dan familiar.

"Kita tidak perlu hanya belajar di ruang yang sama, yang familier, atau dengan latar belakang yang sama. Kita bisa belajar di mana pun, termasuk di lingkungan yang memiliki latar belakang yang berbeda dengan kita," jelas Ivon.

Ivon berharap, UIN Jakarta terus membuka kesempatan yang luas bagi mahasiswa sepertinya. Ia juga berharap UIN punya banyak kerja sama dengan institusi pendidikan berbasis agama lainnya.

"Pastinya saya mengharapkan UIN Jakarta terus membuka kesempatan yang selebar-lebarnya dan seluas-luasnya bagi mahasiswa non-muslim," ujar Ivon lagi.

Ada Lulusan S3 Non-Muslim Lainnya

Ivon bukan lulusan S3 non-muslim pertama dari UIN Jakarta. Sebelumnya, ada beberapa alumnus lainnya, yaitu:

1. Dr Bara Izzat Wiwah Handaru STh MTh

Dr Bara menyelesaikan pendidikan doktoral di SPs UIN Jakarta pada 2023. Ia berhasil meraih gelar doktor Konsentrasi Dakwah dan Komunikasi (FDIKOM) dengan predikat sangat memuaskan dan mendapatkan IPK 3,65.

Disertasi yang ia buat berangkat dari pengalamannya sebagai umat Kristen. Diketahui disertasi itu berjudul (Respons Umat Kristen dalam Izin Pendirian Rumah Ibadah) Komunikasi Regulasi dalam Kehidupan Beragama di Indonesia.

Mirip dengan Ivon, Bara sempat merasa takut dan pesimis karena berada dalam posisi minoritas. Ia mengakui, hal itu menjadi tantangan studinya karena mempelajari ilmu dan berinteraksi dalam lingkungan sosial dengan latar belakang agama yang berbeda.

"Saya belajar ilmu yang berbeda (atau) lintas agama, dan terlibat dengan lingkungan sosial agama yang berbeda pula," katanya.

Dengan budaya UIN Jakarta, Bara merasa nyaman dalam menyelesaikan studi karena antarmahasiswa memiliki sikap yang saling menghormati. Kondisi ini membuat terciptanya lingkungan yang inklusif dan terbuka. Bara merupakan Dosen Sekolah Tinggi Teologi (STT) Baptis Kalvari Jakarta.

2. Dr Gregorius Soetomo Sj

Dr Gregorius adalah seorang Pastor Katolik yang menyelesaikan S3 di SPs UIN Jakarta pada 2017. Tidak hanya akademik, Gregorius mengaku bertemu dengan teman, guru hebat, dan pelajaran hidup selama menempuh kuliah di UIN.

Pengalaman perkuliahannya, juga kerap ia bawa kepada jemaatnya dan berpesan untuk turut membangun relasi Islam-Kristen yang baik. Di sidang doktoralnya, Gregoris membawa disertasi berjudul berjudul "Bahasa, Kekuasaan dan Sejarah: Historiografi Islam Marshall G.S. Hodgson dalam Perspektif Kajian Poststrukturalisme Michel Foucault".

Disertasi ini mendapat pujian. Gregorius juga disebut sebagai representasi relasi Muslim-Katolik yang harmonis.

UIN Jakarta menyebut pengalaman para doktor non-muslim menjadi bukti bila kampus, khususnya SPs UIN Jakarta tidak hanya menjadi ruang pengembangan keilmuan. Tetapi, kampus juga bisa jadi ruang perjumpaan berbagai latar belakang agama dan budaya.



(det/det)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads