Seberapa recommended kuliah di India? Mahasiswa Indonesia yang menempuh studi di Indian Institute of Technology (IIT) Delhi, Hilyatuz Zahroh, menceritakan pengalamannya berkuliah S3 sekaligus menjadi asisten dosen yang mengajar S2.
Menurut Hilya, kuliah S3 di IIT patut direkomendasikan karena kualitas dan fasilitas kampus yang bagus. Di Department of Biochemical Engineering and Biotechnology, ia juga langsung mendapatkan dukungan berupa buku-buku medis dan sebagainya sejak pertama masuk kampus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sangat recommended untuk IIT Delhi dan untuk S3 di sini. Pertama, karena kualitas kampusnya bagus. Terus support dari IIT Delhi ke mahasiswa juga bagus ya. Buku, semuanya, fasilitas itu ada semuanya lah. Pokoknya nggak perlu (banyak ngurus), begitu kita masuk, itu juga langsung dapat username, email, segala untuk password, segala macam. Hari pertama masuk udah langsung dapat buku medis gitu-gitu," katanya saat ditemui di Kampus IIT Delhi, Rabu (9/9/2026).
Hilya juga melihat prospek lulusan dan hasil riset IITD bisa bersaing secara global. Kampus India ini bekerja sama dengan kampus luar negeri lain, seperti University of Queensland, Australia.
"Terus juga lulusan dari sini juga bagus-bagus ya, bisa postdoc ke luar negeri. Ada yang postdoc-nya kalau di departemen... kayak di bidang aku ada yang ke Johns Hopkins, segala macam, ada yang... pokoknya banyak lah. Dan IIT Delhi ini juga punya kerja sama dual degree sama UQ, University of Queensland. Jadi bisa join lewat international program-nya itu 2 tahun di UQ Australia, 2 tahun di sini," imbuh lulusan S1 Biokimia IPB University tersebut.
Dapat Beasiswa
IIT Delhi merupakan kampus terbaik di India versi QS World University Rankings (WUR) 2027. Kampus ini masuk top 118 dunia.
Bagi mahasiswa internasional, terdapat sejumlah beasiswa yang bisadiraih. Salah satunya International PhD Fellowship Programme atau IPFP, yang didapatkan oleh Hilya. Ini merupakan program beasiswa yang disediakan IITD di bidang sains, matematika, teknik atau teknologi, humaniora, dan manajemen.
"Cakupan beasiswanya kalau yang di tahun saya nggak ada tiket pesawat. Tapi sejak tahun 2025 ya, pokoknya setelah batch saya ini, tiket pesawat ditanggung. Per bulannya itu ada namanya stipend sekitar ₹37.500 (sekitar Rp 6,8 juta) gitu ya, beserta HRA sekitar 10%. Jadi totalnya ₹48.100 (sekitar Rp 8,8 juta)," ungkapnya.
Selain itu, juga ada contingency fund per 1 tahun. Bantuan tersebut bisa dipakai untuk ikut workshop, conference, atau seminar dalam negeri.
"Nah, kalau misalnya kita mau ikut seminar di luar negeri atau conference di luar negeri, ada yang namanya RSTA, Research Scholar Travel Award. Nah, itu jumlahnya kalau nggak salah 2 lakh atau sekitar Rp 40 juta, gitu," lanjut Hilya, yang kini merupakan ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) India.
Mahasiswa juga mendapatkan layanan medis gratis di IIT Hospital. Syaratnya cuma membawa buku ke rumah sakit, lalu akan mendapatkan obat secara gratis.
Sementara untuk diagnosis, misalnya tes darah, juga gratis. Hilya menyebut hanya beberapa tes saja yang perlu bayar sendiri.
"Terus kalau misalnya kita pun harus ada imaging kayak USG atau X-Ray atau lain-lainnya, itu juga diskon 50% dengan kartu kita. Gitu," tuturnya.
Dapat Tempat Tinggal dengan Full Fasilitas
Bagi Hilya, yang terpenting adalah dirinya bisa fokus untuk belajar, riset, dan mengajar. Sebab, beasiswa IPFP tidak mengharuskan awardee untuk mengabdi.
"Terus habis itu di sini beasiswanya itu nggak mengharuskan mengabdi segala macam. Terus, jumlah support-nya cukup (banyak) dan ada hostel juga di sini. Jadi, sebagai mahasiswa, bisa fokus (tanpa perlu memikirkan tempat tinggal)," ujarnya.
"Kalau mau belajar atau studi, itu bagus banget di India. Kenapa? Dengan adanya sistem hostel ini, mahasiswa bisa fokus belajar. Makanan juga udah disediain dari sini," katanya lagi.
Menurut Hilya, salah satu tantangan yang ditemui sebagai mahasiswa internasional di luar negeri adalah memasak. Terlebih bagi mahasiswa S3 yang sibuk dengan laboratorium dan riset.
"Nah, di sini kalau tinggal di hostel itu semua udah dijamin ya, udah dimasakin, terus ada tempat untuk washing machine juga ya untuk pakai bersama. Terus juga fasilitas di sini bagus ya, ada gym, ada sports center-nya juga ya, ada Olympic-size swimming pool, segala macam, itu bagus," papar Hilya.
Militansi dalam Belajar
Selain fokus studi, Hilya juga menjadi seorang asisten dosen untuk mahasiswa S2 di Biochemical Engineering and Biotechnology. Ia melihat bahwa perbedaan paling mencolok mahasiswa Indonesia dan luar negeri adalah cara belajarnya.
"Di sini tuh mereka belajarnya serius banget dan militan ya. Dan mereka tuh anak-anaknya benar-benar kayak kompetitif banget di IITD ini ya. Nggak tahu kalau di kampus lain, tapi di IITD ini sangat-sangat kompetitif gitu," katanya.
Kondisi ini menurutnya akan lebih terlihat saat musim ujian tiba. Biasanya kelas diatur untuk belajar khusus dan perpustakaan juga akan buka 24 jam.
"Di sini kalau lagi ujian, library ini buka 24 jam. Bahkan ada setup kelas lain ya, ruang studi selama ujian. Jadi kayak untuk tempat belajar mahasiswa gitu. Memang kalau soal belajar mereka memang ini, apa sih, kayak militan gitu lah," tutur Hilya.
