×
Ad

Bukan Lulusan Ilmu Komputer, Guru Ini Buat Web Akses Mudah Semua Capaian Pembelajaran

Novia Aisyah - detikEdu
Selasa, 01 Sep 2026 10:00 WIB
Foto: Muh Sarjan
Jakarta -

Banyak guru madrasah menghadapi masalah yang sama, yakni ketiadaan satu titik akses resmi untuk seluruh Capaian Pembelajaran(CP). Sekarang ini, dari pemerintah terdapat tiga keputusan resmi yang mengatur CP, yaitu Keputusan Kepala BSKAP Kemendikdasmen Nomor 046/H/KR/2025 untuk mapel umum, Keputusan Kepala BKPDM Kemendikdasmen Nomor 020 Tahun 2026 untuk mapel agama, dan Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 9941 Tahun 2025 untuk mapel Pendidikan agama Islam dan bahasa Arab di madrasah.

Dikarenakan ada tiga ketentuan dari dua kementerian, maka guru madrasah jadi harus mengetahui sendiri dokumen mana yang berlaku untuk pembelajarannya. Mereka harus mencari di antara ribuan halaman, kemudian menyalin secara manual bagian yang dibutuhkan, setiap kali menyusun modul ajar atau rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).

Permasalahan ini kemudian mendorong Guru MIN 3 Sinjai membuat sebuah website sederhana bernama Cepein. Website ini memuat berbagai Capaian Pembelajaran dan memungkinkan penggunannya mencari, memfilter, dan menyalin dalam hitungan detik.

"Ini bukan soal guru yang kurang cekatan dalam mengoprasikan teknologi. Ini kesenjangan struktural yang dampaknya jatuh ke pekerjaan administratif guru sehari-hari, berulang setiap kali menyusun perangkat mengajar yang tentunya melelahkan. Saya dan rekan-rekan guru di madrasah mengalami persoalan tersebut secara langsung," kata Muh Sarjan, guru MIN 3 Sinjai yang membuat aplikasi tersebut, dikutip dari Kemenag pada Senin (31/8/2026).

Bukan Lulusan Ilmu Komputer

Sarjan mengatakan, ia bukan lulusan ilmu komputer. Ia merupakan lulusan S1 Pendidikan Guru MI dari UIN Alauddin Makassar.

Dalam proses membuat website ini ia memanfaatkan AI untuk membantu mengekstrak teks secara verbatim dan menulis sebagian kode program. Kesulitan terbesarnya justru dalam menyatukan tiga sumber dokumen resmi dengan format berbeda dan total ribuan halaman ke dalam satu sistem yang dapat difilter.

"Saya beberapa kali terkena limit penggunaan AI yang saya gunakan untuk membaca dan mengolah dokumen dalam jumlah besar. Prosesnya harus dikerjakan secara bertahap dan dicicil, tidak bisa diselesaikan dalam sekali proses. Saya juga harus utak-atik sendiri tampilan dan struktur website, coba-coba sampai terasa pas dipakai, semuanya dikerjakan di sela kesibukan mengajar dan keluarga," ungkapnya.

Melalui aplikasi ini, guru tinggal memilih kelas, fase, dan mapel. Maka teks CP yang relevan akan langsung muncul lengkap dengan tombol salin.

Platform yang ia buat juga bukan sekadar kumpulan file. Bahkan, di dalamnya terdapat CP fase fondasi dan CP SLB yang paling kerap sulit ditemukan.

Sarjan juga membagikan Cepein melalui akun Instagram. Kolom komentar mengonfirmasi dugaannya, ada banyak guru mengalami permasalahan yang sama.

"Yang sebenarnya dibutuhkan guru bukan dokumen yang lebih baik, tapi cara mengakses yang sama sekali berbeda: bisa difilter, bisa langsung disalin, tanpa harus membongkar file panjang setiap kali butuh satu potongan teks saja, dan yang paling penting, bisa di akses kapan saja. Dari situ saya putuskan bentuknya harus aplikasi berbasis website, bukan lagi berkas," sebutnya.

Akses untuk website ini juga gratis, sebab tujuan Sarjan memang untuk menutup kesenjangan yang dialaminya sendiri, bukan mencari untung dari kesulitan sesama guru. Menurutnya ada dua hal yang layak jadi renungan dari pengalamannya ini.

Pertama, selama jalur regulasi CP terpisah, maka kesenjangan akses kemungkinan akan terus muncul di berbagai titik, bukan hanya terkait CP. Ia menilai, unifikasi akses idealnya memang tanggung jawab yang lebih besar dari sekadar satu guru yang kebetulan bisa "ngoding" sedikit.

"Kedua, sambil menunggu itu, guru hari ini sebenarnya punya opsi yang dulu tidak ada: alat untuk membangun solusinya sendiri jauh lebih terjangkau dibanding lima atau sepuluh tahun lalu," ungkapnya.

"Saya bukan orang dengan keahlian teknis istimewa, dan proses membangun Cepein pun jauh dari mulus, penuh coba-coba dan berkali-kali mentok karena keterbatasan alat yang saya pakai. Tapi kesenjangan yang saya alami cukup nyata untuk dijadikan alasan mencoba menutupnya sendiri, alih-alih menunggu," sambungnya,

Ia masih akan terus mengembangkan Cepein. Dari pengalamannya ini, menurutnya kesenjangan struktural sekecil apa pun titiknya jika dibiarkan, akan terus dibayar oleh waktu dan energi guru di lapangan.

"Dan selama menunggu perbaikan yang lebih besar, guru tidak harus diam saja menghadapinya," pungkasnya.



Simak Video "Video Guru Madrasah Swasta Protes Gak Bisa Ikut PPPK: Sangat Diskriminatif!"

(nah/nwk)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork