Sekolah Sibuk, tetapi Belum Berubah

ADVERTISEMENT

Kolom Edukasi

Sekolah Sibuk, tetapi Belum Berubah

Odemus Bei Witono - detikEdu
Rabu, 26 Agu 2026 20:30 WIB
Ilustrasi Sekolah Sibuk, tetapi Belum Berubah
Foto: Ilustrasi AI diolah oleh ChatGPT
Jakarta -

Pendidikan Indonesia tidak kekurangan program. Justru mungkin terlalu banyak program. Kurikulum berubah, asesmen diperbarui, pelatihan guru digelar, anggaran pendidikan terus dialokasikan, dan berbagai gerakan peningkatan mutu datang silih berganti. Namun, hasil belajar peserta didik belum menunjukkan perubahan yang sebanding.

Di sinilah persoalannya, yaitu barangkali yang kurang bukan program, melainkan kemampuan mengubah program menjadi sistem kerja sekolah yang konsisten.

Rapor Pendidikan, Tes Kemampuan Akademik (TKA), dan Programme for International Student Assessment (PISA) memberi kita cukup banyak petunjuk. Rapor Pendidikan 2026 memuat data capaian mutu layanan pendidikan tahun 2025 dan dirancang sebagai dasar perencanaan berbasis bukti. TKA 2026 memberikan pemetaan kompetensi peserta didik hingga tingkat satuan pendidikan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara itu, PISA 2022 menunjukkan bahwa kemampuan siswa Indonesia masih menghadapi persoalan serius. Hanya 18 persen siswa mencapai tingkat kecakapan minimum matematika, 25 persen dalam membaca, dan 34 persen dalam sains. Skor Indonesia juga berada di bawah rata-rata OECD.

Angka tersebut tidak berarti pendidikan Indonesia gagal. Hasil belajar dipengaruhi kondisi keluarga, sosial-ekonomi, kualitas guru, kepemimpinan sekolah, lingkungan belajar, kebijakan, serta ketimpangan antarwilayah.

ADVERTISEMENT

Namun, kompleksitas tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti mencari akar masalah.

Data tersebut seharusnya menjadi alarm untuk mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar: mengapa begitu banyak intervensi belum menghasilkan perubahan yang cukup kuat?

Sekolah yang Sibuk Belum Tentu Berubah

Saya melihat banyak sekolah memiliki kemauan untuk berubah. Kepala sekolah ingin meningkatkan mutu. Guru ingin mengajar lebih baik. Yayasan ingin sekolah berkembang. Orangtua menghendaki pendidikan yang bermutu.

Masalahnya, energi itu sering habis untuk memenuhi tuntutan administratif.

Sekolah menjalankan banyak kegiatan, tetapi tidak selalu jelas hubungan kegiatan tersebut dengan peningkatan hasil belajar. Pelatihan guru berlangsung, tetapi tidak selalu mengubah praktik pembelajaran. Supervisi dilakukan, tetapi belum tentu menjadi ruang percakapan profesional. Evaluasi disusun, tetapi hasilnya kadang berhenti sebagai laporan.

Akibatnya, sekolah terlihat bergerak, tetapi belum tentu bertransformasi.

Kita perlu membedakan antara aktivitas dan dampak. Banyak kegiatan menunjukkan bahwa sekolah bekerja. Tetapi kegiatan bukanlah bukti bahwa peserta didik belajar lebih baik.

Transformasi terjadi ketika program mengubah praktik, praktik memperbaiki pengalaman belajar, dan pengalaman belajar meningkatkan kompetensi peserta didik.

Karena itu, tantangan sekolah bukan memperbanyak program, melainkan membangun keterhubungan antarelemen sekolah.

Kembalikan Pusat Perubahan ke Kelas

Transformasi seharusnya dimulai dari pertanyaan sederhana: apa yang sebenarnya terjadi di dalam kelas?

Apakah siswa membaca dan memahami bacaan? Apakah mereka menalar, bertanya, berdiskusi, bereksperimen, memecahkan masalah, dan merefleksikan pembelajaran?

Pertanyaan ini lebih penting daripada berapa banyak kegiatan yang tercantum dalam kalender sekolah. Sebab, mutu pendidikan pada akhirnya diproduksi di ruang kelas.

Sekolah tidak harus menunggu gedung baru, teknologi terbaru, atau kebijakan baru. Perubahan dapat dimulai dengan mekanisme sederhana.

Guru merefleksikan pembelajaran. Kelompok guru membahas hasil pekerjaan siswa. Kepala sekolah membaca data. Sekolah menentukan prioritas. Tindakan dilakukan. Hasilnya dievaluasi.

Siklusnya adalah:

data β†’ diagnosis β†’ refleksi β†’ tindakan β†’ evaluasi β†’ perbaikan.

Jika kemampuan membaca siswa rendah, sekolah tidak cukup menyimpulkan bahwa literasi rendah. Sekolah harus bertanya: keterampilan apa yang lemah? Pada kelompok siswa mana? Apa yang terjadi dalam pembelajaran? Apakah bahan bacaan memadai? Apa yang harus diubah?

Demikian pula dengan numerasi. Rendahnya kemampuan numerasi tidak otomatis berarti siswa tidak pandai matematika. Persoalannya mungkin terletak pada kemampuan memahami soal, strategi pembelajaran, atau kurangnya pengalaman menggunakan matematika dalam konteks kehidupan nyata.

Data baru bermakna jika mengubah cara sekolah bertindak.

Belajar, Bukan Meniru

Kita patut belajar dari sistem pendidikan yang berhasil, termasuk Singapura dan Jepang. PISA 2022 menunjukkan keduanya berada dalam kelompok dengan capaian tinggi.

Namun, yang perlu dipelajari bukan sekadar hasil akhirnya. Yang lebih penting adalah mekanisme di belakangnya: bagaimana guru dipersiapkan, bagaimana pengembangan profesional berlangsung, bagaimana sekolah dipimpin, bagaimana data digunakan, dan bagaimana budaya perbaikan dibangun.

Indonesia tentu tidak bisa menyalin sistem negara lain. Kondisi sosial, budaya, geografis, dan demografis kita berbeda.

Tetapi kita juga tidak perlu selalu mencari contoh ke luar negeri. Indonesia memiliki banyak sekolah yang berhasil memperbaiki pembelajaran dalam keterbatasan.

Sekolah-sekolah tersebut jangan hanya diberi penghargaan. Pelajari cara kerjanya.

Kepala sekolah belajar dari kepala sekolah. Guru belajar dari guru. Pengawas menjadi fasilitator pembelajaran antarsekolah. Praktik baik tidak berhenti sebagai cerita sukses, tetapi menjadi pengetahuan yang dapat dipelajari dan disesuaikan oleh sekolah lain.

Kepala Sekolah sebagai Pemimpin Pembelajaran

Pada akhirnya, perubahan sekolah sangat bergantung pada kepemimpinan. Kepala sekolah bukan hanya pengelola administrasi. Ia harus mengetahui apa yang terjadi di kelas, memahami data hasil belajar, mengembangkan guru, membangun budaya refleksi, dan menentukan prioritas.

Sekolah tidak mungkin memperbaiki semuanya sekaligus. Pilih dua atau tiga masalah paling penting. Misalnya kemampuan membaca, numerasi, dan kualitas pembelajaran.

Kemudian seluruh sumber daya diarahkan ke sana. Rapat guru, supervisi, pelatihan, anggaran, dan evaluasi harus memiliki hubungan dengan prioritas tersebut.

Dengan demikian, sekolah tidak sekadar melaksanakan program, tetapi mengelola perubahan.

Tidak Perlu Menunggu Program Baru

Pendidikan Indonesia tidak kekurangan guru baik, sekolah inspiratif, data, atau gagasan. Yang perlu diperkuat adalah sistem yang membuat semuanya bekerja secara konsisten.

Data harus terhubung dengan keputusan. Pelatihan terhubung dengan praktik kelas. Demikian juga supervisi dan anggaran terkait dengan pengembangan guru, maupun prioritas pembelajaran.

Karena itu, kita tidak selalu membutuhkan program baru. Kita membutuhkan disiplin baru: disiplin membaca data, menentukan prioritas, menghentikan kegiatan yang tidak berdampak, mengembangkan guru, dan memperbaiki pembelajaran secara terus-menerus.

Transformasi sekolah tidak harus dimulai dari proyek besar. Ia dapat dimulai dari satu kepala sekolah, satu kelompok guru, bahkan satu kelas.

Pertanyaannya bukan lagi apakah kita tahu apa yang harus diperbaiki. Kita sudah tahu cukup banyak.

Pertanyaan sebenarnya, yakni apakah kita berani mengubah cara kerja sekolah?

Jika jawabannya ya, transformasi sekolah sebenarnya tidak sulit.

Yang sulit bukan mengetahui apa yang harus dilakukan, melainkan konsisten melakukannya sampai perubahan benar-benar terjadi pada diri peserta didik.

*) Odemus Bei Witono
Direktur Perkumpulan Strada dan Pemerhati Pendidikan

*) Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detikcom

Halaman 2 dari 4


Simak Video "Video: Momen Paduan Suara Sekolah Rakyat Persembahkan Lagu Hari Merdeka di Istana"
[Gambas:Video 20detik] (nwk/nwk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads