Ketika berkunjung ke sahabat lama di pelosok Ciranjang, Kabupaten Cianjur, saya tertegun karena pada 2026, di era AI ini, masih terdengar kisah begini: Mereka yang berkebutuhan khusus (disabilitas) dianggap aib keluarga, sehingga harus disingkirkan ke hutan dengan kaki dipasung!
Di sisi lain, perhatian terhadap pendidikan inklusif di Indonesia terus meningkat, terlihat dari semakin banyaknya guiding block (permukaan lantai dengan penanda khusus) hingga jalur khusus tanpa tangga di lobi bangunan yang memudahkan.
Artinya, terdapat kesenjangan pemahaman mengenai ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) di masyarakat Indonesia. Dan cara untuk menyetarakan pemahaman ialah literasi, sebagaimana ditawarkan buku Bimbingan Anak Berkebutuhan Khusus ini.
Merujuk daftar isi, pembahasan tersusun dalam empat belas bab yang menghadirkan alur pembelajaran berjenjang, mulai pemahaman konsep dasar sampai keterampilan akademik dan penelitian.
Bab pembuka membahas konsep dasar anak berkebutuhan khusus (ABK), landasan pendidikan inklusif, klasifikasi ABK, serta beragam hambatan yang dapat memengaruhi proses belajar.
Pembaca selanjutnya diajak memahami asesmen, komunikasi bersama orang tua, penyusunan Program Pembelajaran Individual (PPI), strategi pembelajaran, pengembangan profesional, metodologi penelitian, penulisan artikel ilmiah, hingga seminar hasil kajian mahasiswa.
Sistematika tersebut memperlihatkan, buku ini bukan hanya diperuntukkan calon guru, melainkan juga mahasiswa, peneliti, dan praktisi pendidikan yang hendak mendapatkan pemahaman menyeluruh tentang pendidikan inklusif.
Daya tarik buku ini sudah tampak sejak bab pertama yang menguraikan konsep dasar anak berkebutuhan khusus. Penulis membuka pembahasan dengan memaparkan perubahan cara masyarakat memandang ABK sepanjang sejarah.
Simak Video "Video: Pramono Janji Akan Dirikan SLB di Jakarta Utara"
(nwk/nwk)