×
Ad

Curhat Kuliah 5 Tahun, Menko Yusril Akhirnya Raih Gelar Doktor dari UI

Nikita Rosa - detikEdu
Kamis, 02 Jul 2026 14:57 WIB
Sidang doktor Yusril Ihza Mahendra di kampus UI Depok, Jawa Barat, Kamis (2/7/2026). Foto: Depok
Jakarta -

Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, baru saja mempertahankan disertasinya dalam sidang di Balai Sidang Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, pada Kamis (2/7). Calon Doktor Filsafat dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya itu diketahui membahas pemikiran Pahlawan Nasional Mohammad Natsir dalam disertasinya.

"Disertasi itu saya tulis cukup lama. Saya mengikuti program doktor di bidang filsafat ini selama 5 tahun dan baru menyelesaikannya pada hari ini," ujar Menko, ditemui usai sidang.

Yusril berkelakar jika ia fokus kuliah tetapi 'melupakan' riset. Ia mengaku banyak kegiatan yang harus diimbangi.

"Kuliah fokus, menulisnya agak terbengkalai karena sibuk, banyak-banyak kegiatan," kelakarnya.

Di tengah kesibukannya itu, ia merasa melanjutkan studi di bidang filsafat bukanlah hal yang mudah.

"Saya merasa bersyukur ya di usia yang sudah tidak muda lagi dengan-dengan kesibukan yang luar biasa banyaknya, saya masih menyempatkan diri untuk melakukan studi di bidang filsafat yang agak rumit dan jelimet sebenarnya, menulis disertasi di bidang filsafat itu," ujarnya.

Disertasi Yusril

Yusril mengangkat disertasi berjudul "Penafsiran Kembali Pemikiran Mohammad Natsir Tentang Relasi Islam dengan Negara: Sebuah Telaah Filsafat dengan Pendekatan Hermeneutika Fenomenologis-Eksistensial". Menurutnya, Natsir adalah salah satu pemikir penting dalam sejarah Indonesia.

"Dan kalau kita bicara mengenai Islam dalam negara, maka tokoh yang paling tepat untuk diangkat pemikirannya itu adalah Muhammad Natsir," ungkapnya.

Yusril menjelaskan jika Natsir adalah tokoh yang mengajukan gagasan Islam sebagai dasar negara. Natsir juga mengumumkan konsep teistik demokrasi sebagai jalan tengah untuk menghadapi Islam dan sekulerisme.

"Natsir bukan orang yang menolak Pancasila. Dia menerima Pancasila itu sebagai sebuah kompromi, tapi sila Ketuhanan Yang Maha Esa menurut pendapatnya harus ditaksirkan dengan mengaitkannya dengan ajaran-ajaran agama Islam khususnya dan agama-agama lain di Indonesia," tuturnya.

"Kuatnya argumen mengatakan Tuhan itu ada dengan Tuhan itu tidak ada. Tapi itu persoalan filsafat. Persoalan agama lebih daripada persoalan filsafat karena menyangkut keyakinan yang terpendam dalam hati seluruh manusia. Apa yang dimaksud Natsir dengan teistik demokrasi? Itulah yang diungkapkan dalam disertasi ini," imbuhnya.

Jelang sidang doktornya, Yusril sempat berkunjung ke makam Pahlawan Nasional Mohammad Natsir di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat pada Rabu (24/6). Melansir laman pribadinya, ziarah pribadi itu menjadi momen refleksi sekaligus penghormatan kepada sosok yang menginspirasi perjalanan intelektual Yusril.



Simak Video " Video Soroti Kasus Pemerasan Izin WNA, Yusril Minta Jajaran Benahi Sistem"

(nir/twu)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork