Pelaksanaan Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 masih berlangsung. Namun, salah satu jalur yakni Jalur Domisili menjadi jalur yang dikhawatirkan para orang tua murid.
Dalam survei yang dihasilkan oleh Lembaga Survei KedaiKOPI, sebanyak 71,8% orang tua merasa khawatir akan akurasi sistem dalam membaca lokasi rumah dan mengukur jarak ke sekolah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebanyak 71,8 persen orang tua merasa khawatir mengenai keterandalan sistem dalam membaca lokasi mereka," ujar Head of Research KedaiKOPI, Ashma Nur Afifah, dalam Survei Opini Pelaksanaan SPMB 2026 yang disiarkan dalam Youtube Survei KedaiKOPI, Jumat (3/7/2026).
Ashma menyebut kekhawatiran itu berkaitan dengan banyaknya responden yang mengandalkan Jalur Domisili untuk mendaftarkan anaknya ke sekolah tujuan.
"Ini didorong banyak yang mengandalkan Sistem Zonasi atau Domisili yang mendaftarkan anaknya ke sekolah yang ingin mereka tujukan," ungkapnya.
Sebagai informasi, data survei ini didapat dari 585 responden yang merupakan orang tua atau wali calon murid SD hingga SMA. Pengambilan data berlangsung pada 14-22 Juni 2026 dengan metode Computer Assisted Self Interview atauCASI.
34% Orang Tua Tidak Setuju dengan Jalur Domisili
Dalam kategori lain, 34% orang tua murid tidak setuju dengan Jalur Domisili ini. Alasannya pun beragam, mulai dari kuota tidak transparan, rawan manipulasi data, hingga merugikan anak yang memiliki prestasi tetapi tinggal jauh dari sekolah tujuan.
"Masih ada nih 34 persen yang resisten terhadap penerapan jalur domisili dari SPMB ini," ujarnya.
"Bagi yang tidak mendukung jalur domisili, mereka menganggap bahwa adanya jalur domisili itu merugikan anak yang berprestasi,"paparnya.
Mayoritas Orang Tua Dukung Jalur Domisili
Kendati demikian, 66% orang tua masih mendukung adanya Jalur Domisili. Menurut survei tersebut, orang tua menilai Jalur Domisili dapat meringankan biaya transportasi dan memberi kesempatan lebih besar bagi warga di sekitar sekolah.
"Mereka juga menganggap ini bisa memeringankan biaya transportasi dan juga memberikan kesempatan bagi warga di sekitar sekolah untuk masuk sekolah tersebut. Jadi dianggap lebih adil untuk warga yang tinggal di sekitar sekolah," tuturnya.
(nir/nir)











































