×
Ad

Cara Ariel Berhasil Masuk Harvard, Meski Nilai di Sekolah Tak Menonjol

Abdur Rahman Ramadhan - detikEdu
Rabu, 27 Mei 2026 09:00 WIB
Foto: Dokumentasi Ariel Adhidevara
Jakarta -

Masuk ke Harvard University sering dianggap identik dengan siswa ranking kelas dan nilai akademik sempurna. Namun, pengalaman Ariel Adhidevara menunjukkan bahwa jalan menuju kampus dunia tidak selalu ditentukan oleh rapor yang menonjol.

Dalam wawancara bersama detikEdu, Ariel mengaku dirinya bukan tipe siswa yang unggul secara akademik saat sekolah. Ia bahkan merasa kurang cocok dengan lingkungan belajar yang terlalu kompetitif.

"Nilai aku juga dulu kurang bagus," ujar Ariel, ditulis Selasa (26/5/2026).

Meski begitu, Ariel tetap berhasil melanjutkan studi hingga Harvard setelah melalui perjalanan panjang, termasuk pengalaman ditolak sejumlah kampus saat mendaftar kuliah S1.

Perjalanan ke Harvard Tidak Instan

Meski kini kuliah dan akan lulus dari Harvard, Ariel menegaskan bahwa prosesnya tidak mudah dan tidak bisa disederhanakan menjadi "nilai jelek tapi sukses". Ia mengaku harus melalui proses panjang sebelum akhirnya diterima di Harvard.

"Yang tidak kalian tahu juga proses setelah itu juga aku panjang. Dan sempat ditolak beberapa kali di kampus," kata Ariel. Menurutnya, akan lebih baik jika siswa tetap berusaha menjaga akademik sejak awal sambil mengembangkan minat yang dimiliki.

"Kalau misalkan bisa nilai lebih bagus dari dulu dan bisa mulai belajar lebih dulu, itu jauh lebih bagus," ujarnya. Oleh sebab itu, Ariel tidak ingin kisahnya dipahami sebagai alasan untuk menyepelekan sekolah.

Harvard Cari Mahasiswa yang Kritis

Ariel juga menilai kampus seperti Harvard tidak hanya mencari siswa dengan angka tinggi, tetapi juga orang yang punya perspektif, pengalaman, dan karakter yang kuat. Selama kuliah di Harvard, ia merasa kesempatan paling berharga justru datang dari interaksi dengan banyak orang dari berbagai latar belakang.

"Kalau bisa berinteraksi sama orang lain juga, kalau menurut aku itu yang penting," ujarnya.

Ia mengatakan lingkungan Harvard membuat mahasiswa bisa bertemu banyak tokoh penting dan berdiskusi langsung dengan mereka. Oleh sebab itu, Ariel menyarankan mahasiswa tidak hanya fokus belajar sendirian, tetapi juga membangun relasi dan pengalaman baru.

Sempat Kena Mental Saat Kuliah di Harvard

Di balik pencapaiannya, Ariel juga mengaku pernah mengalami masa sulit saat awal kuliah di Harvard. Ia merasa kesepian karena berada di lingkungan baru dengan jumlah mahasiswa Indonesia yang sedikit.

"Karena aku di GSD (Graduate School of Design), nggak banyak orang Indonesia, dan program itu kecil banget, cuma 18 orang, aku cukup kena mental," ujarnya.

Bahkan, ia sempat mengambil cuti karena mengalami kesulitan dalam beradaptasi akan hal tersebut. Menurut Ariel, salah satu hal yang paling membantunya bangkit adalah membangun hubungan yang sehat dengan orang lain.

"Make meaningful connections with people and be genuine (jalin hubungan yang bermakna dengan orang lain dan bersikaptuluslah)," katanya.

Fokus Cari "Warna" Diri Sendiri

Menurut Ariel, salah satu hal yang paling membantunya adalah mulai memahami apa yang benar-benar ia sukai. Dari situ, ia perlahan membangun arah dan pengalaman yang sesuai dengan bidangnya.

"Coba kenali diri sendiri, coba kenali apa yang kita inginkan mungkin," kata Ariel.

Ia mengatakan banyak siswa merasa tertinggal ketika tidak menjadi yang terbaik di kelas. Padahal, setiap orang bisa punya jalur yang berbeda. Menurut Ariel, perbedaan itu tetap harus dibuktikan lewat karya dan hasil nyata.

"It's okay to be different, but it has to be right," lanjutnya.

Ariel mencontohkan, jika seseorang merasa tidak unggul di akademik, tetapi tertarik pada musik, bisnis, desain, atau bidang lain, maka ketertarikan itu harus benar-benar ditekuni.

"Kalau misalkan kalian tidak di dunia akademis, ya sudah, di dunia apa? Musik? Oke, buktikan," katanya.

Menurut Ariel, dukungan sosial dan relasi yang sehat menjadi salah satu hal penting untuk menjaga kesehatan mental selama kuliah.

Ariel berpesan agar siswa yang merasa nilainya biasa saja tidak langsung menyerah. Baginya, setiap orang punya jalur masing-masing, selama tetap mau berkembang dan membuktikan kemampuan yang dimiliki.

"Kadang-kadang kita harus kita yang kompromis, kita tetap harus ikuti jalur mainnya, tapi kita nanti bisa pakai jalur kita sendiri sebagai additional," pungkasnya.

Penulis adalah peserta MagangHub Kemnaker di detikcom.



Simak Video "Yamaha NMAX: Saksi Perjuangan 3 Generasi"

(nah/nah)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork