Kisah Ariel Adhidevara, Anak IPS yang Kuliah Arsitektur-Desain di AS

ADVERTISEMENT

Kisah Ariel Adhidevara, Anak IPS yang Kuliah Arsitektur-Desain di AS

Abdur Rahman Ramadhan - detikEdu
Rabu, 27 Mei 2026 07:00 WIB
Ariel Adhidevara
Ariel Adhidevara. Foto: Dok Ariel Adhidevara
Jakarta -

Perjalanan Ariel Adhidevara, mahasiswa Indonesia hinga berkuliah di Harvard University tak mulus dan mudah. Dalam pos media sosial yang viral, ia mengaku sempat menjadi siswa dengan nilai biasa saja, masuk jurusan IPS saat SMA, hingga harus memulai kuliah dari community college di Amerika Serikat.

"Nilai aku tuh sebenarnya nggak bagus-bagus banget," ujar Ariel kepada detikEdu, Kamis (21/5/2026).

Meski begitu, Ariel tetap melanjutkan minatnya di bidang arsitektur. Ia perlahan membangun jalannya sendiri, mulai dari mengambil banyak kelas saat kuliah, mengembangkan portofolio, hingga akhirnya diterima melanjutkan studi di Harvard.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sempat Jualan-Masuk IPS

Ariel bercerita dirinya bukan tipe siswa yang sangat fokus akademik sejak SMP. Di luar sekolah, ia justru aktif mencoba banyak hal, mulai dari membuat toko sulap hingga berjualan pulsa.

Meski berhasil masuk SMA Regina Pacis Bogor, Jawa Barat, Ariel mengaku nilainya saat itu sebenarnya tidak terlalu menonjol. Ketika memasuki SMA, ia juga sempat berharap bisa masuk jurusan IPA.

ADVERTISEMENT

Namun, keinginannya tidak berjalan sesuai rencana. Ariel akhirnya masuk IPS setelah nilai akademiknya menurun.

"Jadi, akhirnya nilaiku jeblok banget, aku nggak bisa masuk IPA, padahal aku pengennya jadi arsitek. Jadi, akhirnya aku masuk IPS," katanya.

Menurut Ariel, saat itu ia juga belum benar-benar fokus belajar. Ia merasa lebih banyak mengeksplorasi hal-hal yang disukai dibanding terlalu mengejar akademik di sekolah.

Green Card

Perjalanan Ariel berubah ketika keluarganya memperoleh green card lottery Amerika Serikat. Ariel secara terbuka mengakui bahwa ini adalah faktor keberuntungan yang sangat besar dan di luar kendalinya.

"Sampai akhirnya singkat cerita, kita dapat green card lottery dari pemerintah Amerika, jadi itu kayak izin tinggal di Amerika secara gratis," kenang Ariel.

Ariel menegaskan bahwa pencapaiannya bukan semata-mata karena kemampuan akademisnya saat itu.

Mengutip laman resmi U.S. Department of State, program ini secara resmi disebut Diversity Immigrant Visa Program. Setiap tahunnya, Pemerintah AS menyediakan sejumlah visa bagi orang-orang dari negara dengan tingkat imigrasi rendah ke Amerika, pemenangnya dipilih secara acak (random) melalui sistem komputer.

Masuk Community College

Setelah pindah ke AS pada 2014, Ariel memulai kuliah di community college, tepatnya di Diablo Valley College. Di sana, ia harus berjuang lebih lama untuk mengejar ketertinggalannya.

"Nah, aku spend waktu di community college cukup lama. Empat tahun. Yang normalnya dua tahun, ya. Itu harga yang harus aku bayarkan karena dulu aku nakal banget itu. Jadi aku harus stay lebih lama dibandingkan orang-orang lain dengan struggling aku sendiri saat itu," ujarnya.

Masa di community college ini menjadi titik balik bagi Ariel. Ia memanfaatkan institusi tersebut untuk belajar lagi dari nol hingga akhirnya berhasil transfer ke universitas impiannya.

Dari Kelas IPS ke Arsitektur Cal Poly

Setelah menempuh community college, Ariel mendapat kesempatan melanjutkan studi ke beberapa kampus. Ia akhirnya memilih California Polytechnic State University atau Cal Poly untuk melanjutkan kuliah program sarjana bidang arsitektur pada 2018.

Menurut Ariel, salah satu alasan utamanya memilih kampus tersebut adalah pendekatan pembelajaran yang lebih praktis dan dekat dengan dunia kerja.

Semasa kuliah dan pascakelulusan di Cal Poly, Ariel serius membangun portofolio arsitekturnya. Ia mengembangkan berbagai proyek desain dan memperluas pengalaman serta kemampuan akademis, hingga lulus dengan predikat Magna Cum Laude pada 2021.

Bekal dari masa sekolah hingga kerja rupanya membuka pintu S2 di Harvard bagi Ariel. Ia kelak diterima untuk melanjutkan studi di Master in Design Studies, Harvard Graduate School of Design dengan beasiswa Dean's Merit Scholarship.




(twu/twu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads