Fenomena bed rotting yang kian populer di kalangan remaja dan generasi Z mendapat sorotan dari Pakar Pendidikan Anak dan Remaja IPB University, Dr Yulina Eva Riany.
Bed rotting diketahui sebagai kebiasaan berdiam lama di tempat tidur sambil 'scrolling' di media sosial atau menonton video. Mayoritas pandangan menilai perilaku ini sebagai bentuk kemalasan seseorang.
Dalam penjelasannya, Yulina menegaskan bed rotting memiliki dimensi psikologis yang lebih kompleks. Dari sudut pandang psikologi perkembangan, perilaku ini dapat mencerminkan dinamika emosional dan mental yang sedang dialami remaja.
"Fenomena ini tidak bisa dilihat secara sederhana. Bed rotting sering kali langsung diberi label sebagai kemalasan. Padahal, dari perspektif psikologi perkembangan, perilaku ini jauh lebih kompleks," katanya dikutip dari laman resmi IPB University, Jumat (24/4/2026).
Indikasi Kesehatan Mental yang Terganggu
Yulina menjelaskan, bed rotting berada di wilayah abu-abu antara praktik self-care dan perilaku maladaptif. Pada fase remaja, individu tengah berada dalam proses pencarian jati diri, baik di dunia nyata maupun ruang digital. Dalam konteks tertentu, kebiasaan ini justru bisa menjadi ruang jeda untuk memulihkan energi dan mengeksplorasi diri.
"Bed rotting tidak selalu dibaca sebagai perilaku pasif. Dalam beberapa kasus, ia bisa menjadi ruang jeda sekaligus ruang eksplorasi bagi remaja," paparnya.
Namun demikian, ia mengingatkan perilaku tersebut juga dapat menjadi sinyal adanya gangguan kesehatan mental. Jika dilakukan secara berlebihan dan tanpa kesadaran, bed rotting berpotensi berkaitan dengan kondisi seperti kelelahan emosional (burnout), kecemasan berlebih, hingga depresi.
Ada beberapa gejala yang perlu diwaspadai, seperti:
- Kehilangan minat
- Gangguan tidur
- Menarik diri dari lingkungan sosial
- Penurunan fungsi dalam akademik atau pelajaran.
"Bed rotting bisa menjadi semacam pause button psikologis, tetapi juga berpotensi menjadi bentuk penarikan diri dari tekanan," imbuh Yulina lagi.
Cara Hindari Bed Rotting
Untuk menghindari dampak negatif dari bed rotting, Yulina menekankan pentingnya membangun pola istirahat yang sehat. Istirahat yang sehat dijelaskannya sebagai waktu istirahat yang dilakukan dengan kesadaran, memiliki batas waktu, dan benar-benar memulihkan energi.
Untuk itu, ia menyarankan agar Gen Z dan remaja menetapkan batasan waktu istirahat, membatasi penggunaan gawai di tempat tidur, serta mengganti istirahat pasif dengan aktivitas ringan, seperti berjalan santai atau peregangan.
"Self-care yang sehat bukan tentang berapa lama kita beristirahat, tetapi apakah kita tetap memegang kendali atas pilihan kita," tandas Yulina.
Simak Video "Video: Mengenal Istilah 'Bed Rotting' dan Bahayanya Bagi Kesehatan"
(det/pal)