Pakar IPB Ungkap 3 Alasan Berbagai Satwa Langka Menampakkan Diri

ADVERTISEMENT

Pakar IPB Ungkap 3 Alasan Berbagai Satwa Langka Menampakkan Diri

Siti Nur Salsabilah - detikEdu
Sabtu, 18 Apr 2026 16:00 WIB
Pakar IPB Ungkap 3 Alasan Berbagai Satwa Langka Menampakkan Diri
Jakarta -

Akhir-akhir ini, banyak pemberitaan mengenai fenomena munculnya hewan langka di sejumlah wilayah. Apakah ini pertanda baik atau buruk?

Kehadiran hewan-hewan tersebut memicu optimisme bagi pihak yang memaknainya sebagai pertanda baik. Namun, sejumlah ahli konservasi mengungkapkan bahwa fenomena tersebut bukan sepenuhnya pertanda bahwa ekosistem telah membaik.

Pakar konservasi satwa di IPB University, Prof Ani Mardiastuti juga menyampaikan maraknya satwa langka yang memunculkan diri bukan selalu mencerminkan peningkatan populasi. Ia menyebutkan setidaknya ada 3 alasan utama mengapa satwa langka memunculkan diri lagi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

3 Alasan di Balik Kembalinya Satwa Langka

1. Fragmentasi dan Penyusutan Habitat

Alasan pertama yaitu area habitat alami mereka yang semakin sempit seiring berjalannya waktu. Karena kehabisan tempat, mereka harus melalui kawasan yang dekat dengan manusia.

"Satwa-satwa ini sebetulnya sudah ada, namun jumlahnya sedikit sehingga peluang untuk bertemu kecil. Namun, karena habitat hutan mereka kini menyusut, semakin sedikit, dan terfragmentasi, serta manusia semakin merangsek ke wilayah habitat mereka, satwa-satwa tersebut akhirnya lebih sering berpapasan dengan manusia," ujarnya dikutip dari laman resmi IPB University, Selasa (14/4/2026).

ADVERTISEMENT

2. Peran Teknologi Deteksi dan AI (Infrared, Bioakustik, Drone)

Selanjutnya, kemajuan teknologi memainkan peran penting dalam menemukan keberadaan hewan langka di alam liar. Para peneliti menggunakan kamera trap untuk merekam gerak-gerik satwa tanpa mengganggunya, dengan menggunakan sinar inframerah saat malam.

Bukan hanya dari segi visual, pemantauan juga berfokus pada perekaman suara menggunakan teknologi bioakustik. Dengan begitu, peneliti mampu mendeteksi keberadaan satwa malam seperti burung hantu.

"Kecerdasan buatan (AI) mulai diterapkan dalam kedua teknologi ini untuk mempercepat identifikasi, misalnya dalam mengenali individu harimau dari belangnya atau membedakan suara burung dengan mencocokkan rekaman dengan perpustakaan suara internasional seperti Xeno-canto," jelasnya.

Pemantauan kasat mata juga mengandalkan teknologi drone untuk mengamati secara langsung melalui monitor. Dengan menerbangkan drone, para peneliti mampu menyaksikan sarang burung berukuran besar seperti elang jawa, atau bangau yang umumnya berada di tebing tinggi atau hutang mangrove.

3. Ekspedisi Khusus 'Lazarus Species'

Selanjutnya, beberapa hewan langka mungkin muncul karena ekspedisi para peneliti yang mengungkap hewan atau tumbuhan yang telah punah (lazarus species). Prof Ani menilai bahwa fenomena tersebut berhubungan dengan aktivitas penelitian.

Cara tersebut berguna untuk menetapkan status konservasi sekaligus tingkat kelangkaan pada hewan menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN). Dengan begitu, penyusunan National Red List di Indonesia akan lebih mudah dilakukan.

Dalam beberapa kasus, upaya konservasi juga berkaitan dengan faktor sosial dan ekonomi. Seperti masyarakat Papua yang menggunakan bagian tubuh cendrawasih sebagai hiasan adat.

Prof Ani mengatakan bahwa masyarakat adat sebenarnya juga peduli dengan konservasi. Namun, tekanan ekonomi membuat kondisi mereka sulit untuk memutuskan, sehingga penegakkan hukum perlu diberlakukan.

Pakar IPB tersebut berharap dengan munculnya satwa langka, para peneliti dalam negeri lebih bersemangat lagi untuk mengeksplorasi keanekaragaman hayati di Tanah Air, meski perihal dana masih menjadi tantangannya.

Penulis adalah peserta MagangHub Kemnaker di detikcom.



(nah/nah)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads