Mahasiswa angkatan 2023 Program Studi Pendidikan Kepelatihan Olahraga (PKO) Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Firza Faturahman Listianto berhasil mengibarkan bendera Merah Putih di podium ASEAN Para Games 2026. Seperti apa kisah Firza?
Firza, sapaannya, bertanding dalam lintasan lari 100 meter dan 200 meter cabang olahraga atletik pada ASEAN Para Games 2026 di Nakhon Ratchasima, Thailand. Ia berhasil meraih dua medali emas sekaligus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rutin Berlari Sejak SMP
Kisah Firza dalam dunia atletik telah dimulai sejak bangku SMP. Bukan sekadar hobi, ia rutin berlatih selama bertahun-tahun.
Kemudian saat kuliah, sebagai mahasiswa PKO, Firza menerapkan langsung landasan ilmiah kepelatihan yang didapat di bangku kuliah dalam setiap derap langkahnya di lintasan. Imbasnya, ia berhasil mendobrak persepsi atau anggapan sebagian orang terhadap keterbatasan.
Dengan ketekukan dan perjuangannya, ia kemudian berhasil meraih medali pada ajang ASEAN Para Games 2026. Baginya, momen paling emosional bukanlah saat menyentuh garis finis, melainkan ketika melihat bendera Merah Putih berkibar tinggi di podium. Pada titik itulah, semua peluh dan tantangan yang ia hadapi selama proses latihan terbayar lunas.
Di balik kegemilangan tersebut,Firza mengaku harus menjaga stabilitas mental, konsistensi fokus, dan kepercayaan diri di tengah tekanan kompetisi internasional. Untungnya, orang tuaFirza mendukung setiap langkahnya.
Ke depan, Firza akan bertanding di Asian Para Games di Jepang. Perlombaan ini, menurutnya, akan menjadi langkah selanjutnya untuk membuktikan dedikasi dan keteguhan hati sebagai kunci utama untuk menembus batas.
Mahasiswa Magister Unesa Bawa Pulang Medali Cabang Panahan
Selain Firza, ada mahasiswa Unesa lain yang juga mengharumkan nama bangsa pada ajang ASEAN Para Games 2026. Dia adalah Ken Swagumilang, mahasiswa Magister Manajemen Olahraga Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK).
Ken turun pada cabor para panahan nomor compound men open individual dan compound men open doubles. Bahkan ia berhasil membawa 3 medali sekaligus yakni 2 emas serta 1 perunggu.
Menurutnya, ini merupakan pembuktian bahwa disabilitas punya hak yang sama untuk sukses di dunia olahraga.
"Ini cara saya membuktikan bahwa disabilitas juga memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk sukses di dunia olahraga, sembari tetap memprioritaskan pendidikan," ujar mahasiswa kelahiran Jember, 4 April 1997 tersebut.
Baginya, tantangan terberat dalam kompetisi olahraga bukan lawan, tetapi pengendalian diri sendiri. Terutama stabilitas emosi dan ketenangan mental.
"Jika mental goyah sedikit saja, hasil bisa berubah. Kontrol emosi adalah kunci," katanya.
Ke depan, ia berambisi ingin mempertahankan gelar pada ASEAN Para Games dan melangkah ke kejuaraan tingkat Asia, kejuaraan dunia, hingga puncaknya di ajang paralimpik.
"Selalu ada ruang untuk perbaikan. Tidak peduli sejauh mana kita sudah melangkah, pasti ada bagian yang bisa ditingkatkan. Itulah pelajaran berharga yang saya petik dari kompetisi internasional ini," pungkasnya.
(nir/faz)











































