Kuliah Sambil Jadi Ojol, Wahyu Aji Tetap Bisa Lulus Cumlaude Sarjana Hukum UGM

ADVERTISEMENT

Kuliah Sambil Jadi Ojol, Wahyu Aji Tetap Bisa Lulus Cumlaude Sarjana Hukum UGM

Abdur Rahman Ramadhan, Fahri Zulfikar - detikEdu
Kamis, 05 Feb 2026 09:00 WIB
Kuliah Sambil Jadi Ojol, Wahyu Aji Tetap Bisa Lulus Cumlaude Sarjana Hukum UGM
Foto: UGM/Wahyu Aji Ramadan, berhasil lulus dari FH UGM dengan predikat cumlaude meski selama kuliah sambil bekerja menjadi ojol.
Jakarta -

Bisa kuliah sambil bekerja, tetap berorganisasi, dan berprestasi tampak sulit dibayangkan. Namun, kesulitan ini berhasil dilewati oleh Wahyu Aji Ramadan, yang baru lulus dari Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (FH UGM).

Aji, sapaannya, harus kuliah dengan bekerja sebagai ojek online (ojol) pesan-antar makanan. Meski tak mudah, ia justru masih sanggup berorganisasi dan berprestasi juara lomba.

Lalu pada akhirnya, ia berhasil lulus dari UGM dengan mengalungkan tulisan Cumlaude, pertanda IPK-nya di atas rata-rata.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Mungkin jalan yang ditempuh nggak mudah. Tapi bisa jadi itu cara Tuhan memberi kenikmatan setelah pahitnya susah," ujarnya dalam laman resmi UGM, dikutip Rabu (4/2/2026).

Menjadi Ojol, Siasat Keterbatasan Biaya dan Tidak Dapat Beasiswa

Selama kuliah, Aji mengatakan tidak mendapatkan beasiswa meski ada keterbatasan ekonomi dalam keluarganya. Akhirnya, ia menyiasati dengan bekerja menjadi ojol pesan-antar makanan.

ADVERTISEMENT

Selain ingin punya penghasilan sendiri, ia merasa dengan bekerja, bisa meringankan beban orang tua. Perjalanannya pun tak mudah karena ia harus mengatur waktu.

Jika kuliah siang, pagi digunakan untuk mencari pesanan. Sebaliknya, jika kuliah pagi, siang atau sore ia pergunakan untuk bekerja.

"Jujur kenyataannya harus diakui nggak mudah dijalani," ungkapnya.

Selama bekerja, ia juga harus menghadapi berbagai persoalan. Ia pernah bersitegang dengan pemilik resto dan diancam sekitar jam dua pagi saat bulan puasa karena hendak ambil orderan tapi resto ternyata tutup.

"Lalu, orderan customer juga pernah jatuh di jalan dan akhirnya ganti rugi. Rela berangkat hujan-hujanan demi dapat bonus, bahkan panas-panasan nyari orderan tapi ban bocor di jalan," tambahnya.

Ia bercerita, dalam sehari, ia bisa menerima puluhan pesanan dengan komisi mulai Rp 6.000 hingga belasan ribu rupiah per order. Jumlah komisi bergantung pada jarak orderan pelanggan.

Tak hanya satu pekerjaan, ia juga sempat bekerja paruh waktu di Departemen Hukum Perdata Fakultas Hukum UGM untuk membantu pengelolaan jurnal, administrasi kenaikan pangkat dosen, penyusunan bahan pembelajaran, dan pekerjaan teknis atau administrasi lainnya.

Ia juga sempat bekerja sebagai content writer di platform media sosial yang membahas isu-isu hukum.

Tetap Aktif Berorganisasi dan Berprestasi

Nyatanya, bekerja bukan halangan untuk Aji tetap berorganisasi. Tercatat, ia aktif di Forum Penelitian dan Penulisan Hukum (FPPH), Asian Law Students' Association Local Chapter UGM (ALSA UGM), Business Law Community (BLC), dan Speech and Law Debate Society (Speciality).

Tidak hanya itu, ia juga berhasil menjuarai berbagai kompetisi ilmiah tingkat nasional, universitas, hingga fakultas. Beberapa di antaranya adalah Juara 1 Karya Tulis Ilmiah Airlangga Law Competition 2023, Juara 1 Kompetisi Artikel Ilmiah Constitutional Law Fair Universitas Brawijaya 2022, serta Juara 2 Legislative Drafting Competition Universitas Indonesia 2022. Di tingkat universitas, Aji berhasil meraih prestasi dalam kompetisi riset, lomba video digital, hingga olahraga tenis lapangan.

Bahkan ia juga terlibat dalam berbagai riset, termasuk dengan dosen FH UGM dan beberapa lembaga riset hukum. Ia juga sempat menjadi asisten penelitian dalam kajian perubahan Undang-Undang Pengelolaan Keuangan Haji serta terlibat dalam pengelolaan database dan pelacakan kasus hukuman mati di ICJR.

Baginya, apa yang dia jalani, harus dituntaskan sampai akhir. Meski lelah, ia mengaku tak pernah ingin menyerah.

"Capek pasti ada karena masalah ada-ada saja membentur dari berbagai arah. Bukan pengen nyerah tapi lebih memilih ke meluangkan waktu buat istirahat sejenak menata ulang apa yang seharusnya dibenahi, dilakukan, dituntaskan, dan dicapai dengan terarah," ujarnya.

Kini, perjalanan kuliah S1 Aji di UGM telah usai. Ia telah membuktikan bahwa keterbatasan bukan halangan karena dengan tantangan yang ada, ia mampu lulus dari UGM dengan IPK 3.55.

Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.




(faz/faz)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads