Bermula dari beasiswa, perempuan satu ini mampu menunjukkan kontribusi nyatanya bagi tanah air. Ia adalah Dewi Nur Aisyah, seorang perempuan yang pernah memimpin Divisi Data dan TI Gugus Tugas Nasional COVID-19 Indonesia.
Dewi menjadi kepala divisi termuda dan satu-satunya perempuan saat itu. Berbekal ilmu epidemiologi modern yang ia pelajari di Inggris, Dewi menjadi salah satu figur kunci dalam penanganan pandemi.
"Bagaimana kita membawa data dan bukti ke dalam pembuatan kebijakan, termasuk meningkatkan keberlanjutan dan dampaknya ke masyarakat, itu pengalaman yang luar biasa bagi saya," ujar Dewi usai acara Study UK Alumni Awards Indonesia 2026 di The Tribata Dharmawangsa Opus Ballroom Lobby Level, Jakarta Selatan pada Jumat (6/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari UI ke Kampus Terbaik UK
Dewi menempuh pendidikan sarjana Epidemiologi di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI). Perjalanan akademiknya kemudian berlanjut ke Inggris, saat ia mengambil studi magister Modern Epidemiology di Imperial College London.
Ia menuturkan, program tersebut ditempuhnya pada 2010, ketika bidang modern epidemiology masih tergolong langka dan belum banyak ditawarkan. Imperial College London sendiri dikenal sebagai salah satu perguruan tinggi terbaik di dunia.
"Modern Epidemiology di Imperial College London, salah satu kampus terbaik dunia, pada 2010. Saat itu, jurusan tersebut masih sangat jarang ditawarkan," katanya.
Pendidikan pascasarjana Dewi tak lepas dari dukungan beasiswa pemerintah. Hal serupa ia peroleh ketika melanjutkan studi doktoral.
Dengan Beasiswa Unggulan Dikti, Dewi menempuh pendidikan S3 di University College London pada bidang Infectious Disease Epidemiology and Informatics, sebuah keilmuan yang kelak memperkuat perannya dalam pengambilan kebijakan kesehatan berbasis data.
"Dengan beasiswa Unggulan Dikti. Saya S3 di University College London, jurusan Infectious Disease Epidemiology and Informatics," katanya.
Jadi Sosok Kunci Penanganan COVID-19 di RI
Ketika pandemi COVID-19 melanda, Dewi dipercaya bergabung dalam jajaran tim pakar nasional. Perannya krusial, menjembatani hasil riset ilmiah agar dapat diterjemahkan menjadi kebijakan penanganan COVID-19 yang berbasis data dan bukti.
Hanya dalam waktu empat bulan, Dewi kemudian ditunjuk sebagai Ketua Bidang Data dan Teknologi Informasi Gugus Tugas Penanganan COVID-19 Nasional. Ia bertanggung jawab menyajikan gambaran situasi pandemi di Indonesia secara akurat dan terintegrasi.
"Langsung membangun sistem informasi terintegrasi untuk penanganan COVID-19 di Indonesia," katanya.
Pada masa itu, ia merancang dan mengembangkan sistem terpadu yang menjadi tulang punggung pengelolaan data COVID-19 nasional. Kini, kiprahnya berlanjut di Kementerian Kesehatan, di mana ia menjabat sebagai pimpinan Transformasi Digital Layanan Kesehatan Primer dan Penanggulangan Penyakit.
Kuliah Membekali Kemampuan Analitis yang Baik
Bagi Dewi, pengalaman dan keilmuan yang ia peroleh selama menempuh studi di Inggris menjadi fondasi penting dalam membentuk kemampuan analitisnya. Ia menilai, lingkungan akademik di UK turut menempa profesionalisme sekaligus cara berpikirnya dalam menghadapi persoalan nyata.
"Salah satu hal yang mungkin paling berkesan adalah dengan pendidikan di UK," tuturnya.
Dewi juga menyoroti peran dukungan pemerintah serta British Council yang membuka banyak peluang dalam perjalanan akademik dan profesionalnya.
Selama menempuh studi doktoral, prestasinya bahkan mendapat pengakuan di tingkat global. Ia berhasil meraih Six Travel Awards, penghargaan yang diberikan untuk riset terbaik. "Jadi itu merupakan riset 5% terbaik teratas se-dunia," tuturnya.
Atas kontribusinya, Dewi juga dinobatkan sebagai penerima Study UK Alumni Awards Indonesia 2025 untuk kategori Science and Sustainability Award. Penghargaan tersebut diberikan kepada alumni kampus Inggris yang dinilai mampu menghadirkan dampak nyata dan berkelanjutan bagi Indonesia.
Di balik deretan prestasi yang mengantarkannya ke berbagai pencapaian, Dewi tak menampik bahwa perjalanan studinya di Inggris penuh tantangan. Masa itu ia jalani bukan hanya sebagai mahasiswa, tetapi juga sebagai ibu yang membagi waktu antara keluarga dan tuntutan akademik. Di tengah kesibukan tersebut, Dewi bahkan masih sempat menulis tiga buku.
"Jadi juggling lumayan banyak, tapi di tengah-tengah kondisi itu pun saya masih bisa menulis tiga buah buku. Itu mungkin menarik untuk di-share bahwa kadang kita merasa jadi perempuan terbatas. Jadi seorang ibu, apalagi kalau sudah menikah," ungkapnya.
Menutup perbincangan, Dewi menyampaikan pesan untuk generasi muda Indonesia. Ia mengajak anak muda untuk selalu percaya dan melakukan yang terbaik untuk mimpinya.
"Tapi percayalah pada saat kita bisa membagi waktu kita dengan baik, memberikan yang terbaik juga, dan membuktikan bahwa kita bisa komitmen memberikan yang terbaik, pasti akan ada hasil yang jauh lebih indah lagi di ujung cerita," tuturnya.
Simak Video "Video: Apakah Ini Benar-benar Simulasi Pandemi yang Direkam Pada 2017?"
[Gambas:Video 20detik]
(cyu/pal)











































