Screen Time Gen Z Capai 9 Jam, Menko Pratikno Minta Diubah Jadi Green Time

Screen Time Gen Z Capai 9 Jam, Menko Pratikno Minta Diubah Jadi Green Time

Devita Savitri - detikEdu
Selasa, 10 Feb 2026 19:30 WIB
Screen Time Gen Z Capai 9 Jam, Menko Pratikno Minta Diubah Jadi Green Time
Ilustrasi. Kemenko PMK minta screen time diubah jadi green time, apa itu? Foto: Getty Images/Natee Meepian
Jakarta -

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menyoroti tingginya waktu screen time untuk anak-anak Generasi Z (Gen Z). Menurutnya, Gen Z bisa menghabiskan waktu untuk bermain ponsel capai 9 jam.

"Sekarang screen time kalau anak-anak generasi Gen Z itu sudah sekitar 9 jam, sudah tinggi sekali," katanya dalam acara Konsolidasi Nasional Pendidikan Dasar dan Menengah Tahun 2026, di Gedung PPSDM Kemendikdasmen, Kota Depok, Jawa Barat, Senin (9/2/2026), ditulis Selasa (10/2/2026).

Berangkat dari hal ini, Kemenko PMK ingin screen time bisa bergeser menjadi green time. Artinya, bila awalnya siswa memandang layar ponsel, green time mengharuskan siswa melihat realitas kehidupan nyata.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita berkepentingan agar anak mulai bergeser dari screen time ke green time, dari screen ke green, dari melihat layar menjadi melihat realita kehidupan yang sebenarnya," imbuhnya.

ADVERTISEMENT

Green Time di Ruang Kelas

Menurut Pratikno, manusia saat ini hidup di tengah era disrupsi. Ia membagi disrupsi menjadi dua jenis, yakni digital dan AI serta climate change atau perubahan iklim.

Untuk menghadapi era digital dan AI, Kemenko PMK menghadirkan platform pembelajaran itu disebut dengan "Bijak Cerdas Berdigital dan Ber-AI" yang bisa diakses melalui tautan https://bijakcerdas.dicoding.com/. Sedangkan untuk disrupsi perubahan iklim, Pratikno mengajak untuk menghadirkan green time.

Green time memungkinkan pembelajaran tidak hanya dilakukan di dalam kelas, tetapi lebih luas. Anak perlu diberi pemahaman lebih lanjut tentang perubahan iklim, mengingat bencana hidrometeorologi mengintai Indonesia.

"Climate change is real. Nah oleh karena itu mohon juga saya ingin mengajak Bapak-Ibu untuk satu menghadapi disrupsi digital dan AI, yang kedua menghadapi disrupsi climate change," jelasnya.

Mempelajari materi perubahan iklim di sekolah bisa dimulai dari langkah-langkah sederhana, seperti memilah sampah. Saat ini, Presiden Prabowo Subianto juga sedang menggaungkan program Waste to Energy.

Program Waste to Energy menurut Pratikno masih sulit dilakukan, bahkan di Jakarta. Alasannya, karena tidak terjadi pemilihan sampah yang disiplin, bahkan dimulai dari pihak keluarga dan sulit dikonversi ke energi.

Dengan begitu, dalam menghadapi perubahan iklim, sekolah bisa membiasakan anak-anak untuk memilah sampah.

Anak-anak Dilatih untuk Tidak Food Waste

Lebih lanjut, perubahan iklim juga beresiko pada ketahanan pangan. Untuk itu, Pratikno meminta untuk dilatih agar tidak menghasilkan food waste atau menyia-nyiakan makanan.

Dijelaskan Pratikno, Indonesia diperkirakan akan menghadapi food loss dan food waste bisa menghabiskan 30% dari stok pangan.

"Food loss itu ketika pengolahan dari sawah banyak yang tercecer atau hilang, kemudian food waste ketika makan tidak dihabiskan dan disiasiakan. Jadi food waste itu masalah serius. Membiasakan anak untuk tidak food waste, menyia-nyiakan makan," paparnya.

Kedua hal tersebut merupakan bagian penting untuk menghadapi perubahan iklim. Oleh karena itu, guru dan sekolah diajak bersama-sama untuk menanggulanginya.




(det/nah)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads