Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah siap menjalankan pelatihan pengajaran guru bahasa Inggris mulai semester genap 2025/2026. Hal ini dilakukan sebagai persiapan penerapan bahasa Inggris sebagai mata pelajaran (mapel) wajib mulai kelas 3 SD.
Direktur Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan dan Pendidikan Guru (Dirjen GTKPG) Nunuk Suryani, menyebut masih ada 130 ribu guru satuan pendidikan yang belum mempunyai latar belakang bahasa Inggris. Melalui pelatihan, mereka akan ditingkatkan kompetensi terkait pengajaran mapel bahasa Inggrisnya.
"Kita ada 130 ribu guru satuan pendidikan yang belum berlatar belakang bahasa Inggris, itu dia (akan) punya peningkatan kompetensi terhadap pengajaran bahasa Inggris. Jadi dimulai semester ini (pelatihannya)," tutur Nunuk usai acara Konsolidasi Nasional Pendidikan Dasar dan Menengah Tahun 2026, di Gedung PPSDM Kemendikdasmen, Kota Depok, Jawa Barat, Senin (9/2/2026) ditulis Selasa (10/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pelatihan pengajaran mapel bahasa Inggris ini akan dilakukan pada 2026 hingga semester pertama tahun ajaran 2026/2027. Sementara penerapan mapel bahasa Inggris di sekolah akan mulai di laksanakan pada ajaran 2027/2028.
"Kalau pelajaran bahasa Inggris kelas 3 SD mulai tahun 2027. Jadi tahun ajaran 2027-2028. Tapi pelatihannya kapan? Mulai semester ini, kemudian semester depan, semester 1 tahun 2026/2027," ujar Mendikdasmen Abdul Mu'ti melengkapi Dirjen Nunuk.
Tentang Program Pelatihan Guru Bahasa Inggris
Program pelatihan guru bahasa Inggris disebut dengan Program Peningkatan Kompetensi Guru Sekolah Dasar dalam Mengajar Bahasa Inggris (PKGSD-MBI).
Berdasarkan hasil kajian PSKP (Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan) tentang Kompetensi Bahasa Inggris Guru yang merujuk pada CEFR (Common European Framework of Reference for Languages), memperlihatkan bila 80% guru SD memiliki kemampuan di bawah level B1.
Menurut British Council Indonesia Foundation, level B1 dalam bahasa Inggris membuktikan bila seseorang punya kemampuan, seperti:
- Mampu memahami poin-poin utama teks dengan bahasa sederhana terkait topik yang mereka kenal, baik dalam konteks pekerjaan, studi, atau rekreasi.
- Mampu mengatasi kendala yang mungkin timbul di tempat bahasa tersebut digunakan.
- Mampu menghasilkan teks sederhana dan koheren.
- Dapat menggambarkan pengalaman, peristiwa, keinginan dan aspirasi, serta secara singkat mengeluarkan pendapat atau menjelaskan sebuah rencana.
Kemendikdasmen mencatat bila jumlah SD di Indonesia sebanyak 150.447 sekolah. Dari jumlah tersebut, 90.447 SD tidak memiliki guru bahasa Inggris.
Untuk itu, pada 2026, Kemendikdasmen merencanakan ada 90.447 SD yang akan diintervensi mengikuti program PKGSD-MBI dengan sasaran 5.777 orang. Jumlah ini meningkat dari pelaksanaan 2025 yang hanya menyasar 1.078 orang.
(det/faz)











































