Salah satu yang menjadi sasaran diseminasi riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) adalah anak-anak sekolah dari SD hingga SMA. Caranya yaitu dengan memancing imajinasi anak-anak sekolah itu. Konkretnya bagaimana?
Cara itu dilakukan, salah satunya melalui platform Rumah Inovasi Indonesia yang rencananya akan diluncurkan pada Januari 2026.
"Buat anak SD, SMP, SMA, ini (Rumah Inovasi Indonesia), ini jadi apanya? Galerinya, ini bisa memunculkan inspirasi dan imajinasi anak-anak hari ini," ujar Kepala BRIN Arif Satria.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal itu disampaikan Arif dalam pemaparannya di Temu Pemimpin Redaksi (Temu Pemred) bertema 'Arah Baru Riset dan Inovasi Nasional: Dialog Kepala BRIN dan Pemimpin Redaksi Media' di Gedung BJ Habibie, BRIN, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat (9/1/2026).
Arif menjelaskan, dalam platform Rumah Inovasi Indonesia itu, hasil-hasil riset BRIN dalam bentuk prototipe bisa dipamerkan. Dia yakin anak-anak sekolah akan bisa membayangkan dan kemudian berimajinasi serta berkeinginan jadi periset.
"Bila anak SD sampai SMA ini tidak punya imajinasi, jangan harap (bisa jadi peneliti). Imajinasi itu dari mana, ya dari inovasi ini," jelas mantan Rektor IPB University ini.
Bila memunculkan imajinasi adalah dampak yang diharapkan dari adanya Rumah Inovasi Indonesia, fungsi utamanya adalah memamerkan hasil riset BRIN dalam bentuk prototipe siap produksi. Pihak industri yang tertarik bekerja sama untuk memproduksi skala industri akan bisa mengontak peneliti yang menelurkan prototipe riset itu.
Rangkul Perguruan Tinggi untuk Tingkatkan Jumlah Periset
BRIN juga berencana merangkul perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta untuk meningkatkan jumlah periset. Arif ingin kondisi kampus-kampus top dunia seperti National University of Singapore (NUS) dan Monash University, di mana jumlah periset dua kali lipat dari jumlah dosen.
"Akan ada jabatan fungsional periset di kampus. Tidak hanya dosen, tapi juga periset. Kan ada yang senang meneliti, dia betah ngadepin kambing di kandang tapi kalau menghadapi orang, sulit. Yang suka menghadapi orang ya jadi dosen," jelas Arif.
Para periset di kampus ini, imbuhnya, punya publikasi tapi tidak punya jenjang karier di kampus. Akhirnya berakhir jadi tenaga kependidikan (tendik) yang tugasnya sebatas administratif. Melihat potensi ini, Arif pun segera 'mencolek' Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto.
"Saya bilang ke Pak Brian, bagaimana kalau kita berkolaborasi. Peneliti seperti ini di kampus berakhir menjadi tendik, kalau kita berdayakan di jabatan fungsional periset bisa menjadi setara Ahli Peneliti Utama (APU)," jelas Arif.
Ahli Peneliti Utama atau kini disebut Peneliti Ahli Utama (PAU) di BRIN adalah jabatan fungsional tertinggi bagi peneliti di BRIN, setara dengan profesor riset, memungkinkan penyandang gelar Profesor di depan namanya, dan biasanya memiliki jenjang pendidikan minimal S3.
Cara ini juga adalah terobosan BRIN untuk meningkatkan jumlah periset. Tidak perlu merekrut periset baru, tapi memberdayakan peneliti di kampus. Arif menginformasikan jumlah perguruan tinggi di Indonesia mencapai 4 ribuan.
'Membumikan' Sains
Arif juga berupaya 'membumikan' sains. Salah satunya, terbuka terhadap temuan dan inovasi masyarakat.
"Kita siap berkolaborasi dengan masyarakat. Masyarakat kan juga punya inovasi, kami siap memverifikasi temuan masyarakat itu. Nanti akan kami buat pos khusus masyarakat, ada sistem pakar atau expert system," ujarnya untuk mendekatkan periset dengan masyarakat.
(nwk/faz)











































