×
Ad

Benarkah Pelihara Kucing Bisa Bikin Mandul?

Devita Savitri - detikEdu
Rabu, 07 Jan 2026 10:00 WIB
Pakar IPB University bantah mitor pelihara kucing bisa membuat mandul. Foto: Yuki Amalia Prasetyo
Jakarta -

Ungkapan jangan memelihara kucing lantaran membuat mandul menjadi mitos yang pasti diketahui para 'babu' anak bulu (anabul). Tapi benarkah begitu?

Pakar sekaligus dosen Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University, Leni Maylina mencoba menjawabnya secara sains. Menurutnya anggapan tersebut hanyalah mitos lantaran kucing tidak bisa menyebabkan kemandulan secara langsung.

"Isu yang kerap beredar di masyarakat tersebut berkaitan dengan infeksi parasit Toxoplasma gondii, bukan karena kucing itu sendiri," katanya dikutip dari laman resmi IPB University, Selasa (6/1/2026).

Tidak Semua Kucing Bisa Terinfeksi Parasit Toxoplasma gondii

Toxoplasma gondii adalah parasit protozoa yang memiliki ukuran sangat kecil. Saking kecilnya, parasit ini hanya bisa dilihat di bawah mikroskop.

Leni menegaskan tidak semua kucing bisa terinfeksi parasit kecil ini. Menurut sejumlah penelitian, jumlah kucing yang terinfeksi parasit ini bahkan tergolong sangat kecil.

"Tidak semua kucing bisa terinfeksi Toxoplasma gondii. Banyak penelitian menunjukkan prevalensinya sangat rendah, apalagi pada kucing yang dipelihara di dalam rumah," jelasnya.

Parasit Toxoplasma gondii bisa menginfeksi kucing bila anabul kita memakan daging mentah atau hasil buruan, seperti tikus. Tikus memang terkenal sebagai hewan yang mengandung kista parasit.

Ketika kucing terinfeksi, parasit akan keluar dalam bentuk ookista (berbentuk seperti telur kecil) melalui feses. Namun, ketika keluar dari tubuh, ookista tersebut tidak langsung bersifat infektif.

Dibutuhkan waktu sekitar 1-5 hari agar ookista menjadi infektif. Untuk itu, Leni mengingatkan agar para 'babu' rajin membersihkan kotoran kucing setiap hari.

Kucing yang sudah pernah terinfeksi Toxoplasma gondii umumnya akan membentuk antibodi. Ketika keadaan ini terjadi, kecil kemungkinan kucing mengeluarkan ookista infektif di kemudian hari.

Jika detikers melihat ookista di kotoran anabul, ada baiknya pemeriksaan secara medis dilakukan meskipun hasilnya tidak selalu akurat. Hasil akurat bisa didapatkan dengan membawa kucing ke fasilitas kesehatan hewan dan melakukan uji PCR atau imunologi.

Penularan Parasit ke Manusia dari Makanan Bukan Kucing

Lebih lanjut, Leni membeberkan bila penularan terbesar infeksi toksoplasmosis bukan dari kucing. Alih-alih si anabul lucu, lebih dari 80% kasus infeksi ternyata berasal dari makanan.

Makanan yang disoroti Leni adalah daging yang dimasak tidak sempurna dan sayuran serta buah-buahan yang tidak dicuci bersih. Terkait apakah infeksi toksoplasmosis ada hubungannya dengan kemandulan, Leni menyebutkan tidak ada bukti secara langsung.

Pada ibu hamil, infeksi toksoplasma bisa menyebabkan keguguran atau gangguan pada janin. Terlebih bila infeksi terjadi di masa kandungan trimester awal.

Tidak Perlu Singkirkan Kucing

Leni menekankan, pecinta kucing yang sedang merencanakan tak perlu menyingkirkan anabul dari rumah. Ia mengingatkan agar para 'babu' melakukan hal-hal seperti:

  • Menghindari kontak langsung dengan kotoran kucing.
  • Menggunakan sarung tangan saat membersihkan litter box.
  • Mencuci tangan hingga bersih.
  • Menjaga kebersihan pada makanan.

"Jangan langsung makan setelah memegang kucing tanpa mencuci tangan," pesannya.

Terakhir, Leni mengimbau agar masyarakat tidak mudah terhasut berita tidak benar dan takut memelihara kucing karena isu toksoplasmosis. Kebersihan dalam merawatnya adalah hal paling utama.

"Jangan takut memelihara kucing. Yang penting jangan memberi daging mentah, bersihkan kotoran kucing setiap hari, gunakan sarung tangan, dan rutin membawa kucing ke dokter hewan untuk pemeriksaan kesehatan," tandasnya.



Simak Video "Video Kecintaan Nova Soraya pada Kucing"

(det/nwk)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork