Kisah Anak Guru Ngaji yang Kini Studi S3 di Belanda

Kisah Anak Guru Ngaji yang Kini Studi S3 di Belanda

Nikita Rosa - detikEdu
Jumat, 13 Mar 2026 19:00 WIB
Ahmad Rifan Khoirul Lisan
Ahmad Rif'an Khoirul Lisan Foto: Dok. UGM
Jakarta -

Ahmad Rif'an Khoirul Lisan merupakan anak dari seorang guru ngaji asal Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Ia tidak menyangka kegigihannya akan mengantarkannya ke Negeri Kincir Angin.

Perjalanan akademik Ri'fan dimulai saat ia menginjakkan kakinya di Fakultas Geografi UGM pada 2012 silam. Bukannya mendapat dukungan, ayahnya justru menentang pilihan Ri'fan untuk berkuliah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun pertentangan ini bukan tanpa alasan. Ayah Ri'fan merasa keluarganya tidak memiliki cukup biaya. Masih ada enam adiknya masih kecil membutuhkan perhatian dan penghidupan.

Permintaan sang Ayah tidak mengendorkan semangat Ri'fan untuk mengejar mimpi. Bagi Rif'an, melanjutkan pendidikan adalah untuk mengubah kondisi keluarganya dan membantu adik-adiknya mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

ADVERTISEMENT

Bertahan Hidup sebagai Mahasiswa

Pada hari-hari awal kuliah di Fakultas Geografi UGM pada tahun 2012, Ri'fan harus mencari cara agar tetap bisa bertahan hidup sebagai mahasiswa. Ia akhirnya berhasil mendapatkan beasiswa Bidikmisi yang dapat membantunya dalam kehidupan sehari-harinya hingga lulus kuliah.

Ri'fan aktif di berbagai organisasi kampus. Tak hanya menjadi ruang belajar dan berjejaring, Ri'fan setidaknya ia bisa ikut makan saat ada kegiatan kepanitiaan di organisasi.

"Saya suka ikut kegiatan karena tahu ada konsumsi,"kenangnya dalam laman UGM dikutip Jumat (13/3/2026).

Dalam kondisi tertentu, Ri'fan harus sangat berhemat untuk sekadar makan. Jika benar-benar lapar, ia mencari warung paling murah di sekitar kampus. Dengan sekitar uang saku Rp4.000, ia hanya membeli nasi, sayur, dan satu gorengan.

Dapat Beasiswa LPDP

Di semester akhir, Rif'an menjadi mentor bahasa Inggris di Kampung Inggris Pare, Kediri. Ia terus mengajar sambil mengasah kemampuan bahasa Inggrisnya.

Dengan bekal nilai TOEFL 570, Ri'fan berhasil lolos beasiswa LPDP Kementerian Keuangan ke Arizona State University, Amerika.

Meski kondisi ekonominya sudah jauh lebih baik berkat beasiswa LPDP, Rif'an tetap menjalani hidup sederhana. Ia lebih sering memasak sendiri dan memanfaatkan food bank di kampus.

Pandemi COVID-19 sempat mengubah rencana studinya. Setelah 15 bulan di Amerika, ia kembali ke Indonesia dan menyelesaikan program magisternya dari tanah air hingga lulus pada 2020.

Bekerja di Bappenas

Sepulang dari Amerika, Rif'an sempat bekerja di Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Kemudian ia diterima menjadi dosen di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta.

Namun perjalanan akademiknya belum berhenti. Pada 2024, Ri'fan kembali meraih beasiswa LPDP dan melanjutkan studi doktoral di Wageningen University & Research di Belanda dengan fokus pada pengelolaan sumber daya air dan pertanian.

Bagi Rif'an, perjalanan akademik yang ia tempuh bukan sekadar pencapaian pribadi, tetapi juga kesempatan untuk kembali berkontribusi kepada masyarakat.

"Kalau boleh menyampaikan pesan untuk siapa pun yang sedang berjuang, saya selalu percaya satu hal: Gusti mboten sare-Tuhan tidak pernah tidur," kata Rif'an.

Kini, Rif'an tengah menyelesaikan pendidikan doktor dari salah satu kampus riset pertanian terkemuka di Eropa. Namun, ia selalu mengenang perjalanan panjangnya dalam meraih mimpi. Ia berharap bisa kembali memberi makna bagi pertanian di Indonesia.




(nir/pal)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads