Konflik Thailand dengan Kamboja sejak Kamis (24/7/2025) masih tegang. Imbasnya, Kamboja menarik kontingennya dari SEA Games 2025 yang berlangsung di Thailand pada Desember 2025 ini.
Seperti diketahui, konflik Thailand-Kamboja dimulai sejak penetapan perbatasan kedua negara usai pendudukan Prancis di Kamboja, lebih dari 1 abad lalu. Hubungan Thailand-Kamboja memburuk saat Kamboja coba mendaftarkan kuil Ta Moan Thom, yang terletak di wilayah sengketa, sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada 2008 lalu. Thailand mengeluarkan protes atas usulan Kamboja.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bentrokan sporadis terjadi selama bertahun-tahun antara kedua negara itu. Ketegangan ini bahkan menewaskan belasan korban jiwa di wilayah perbatasan hingga akhir Juli 2025 lalu.
Kedua negara ini merupakan anggota dari asosiasi negara-negara di Asia Tenggara atau ASEAN. Melihat ketegangan ini, Rektor Universitas Prasetiya Mulya yang juga Menteri Luar Negeri periode 2001-2009, Hassan Wirajuda, menekankan jika ASEAN termasuk dalam wilayah dengan pendapatan terbesar di dunia. Bahkan, mengalahkan Negeri Matahari Terbit Jepang.
"Saya katakan tadi, dari segi ekonomi, interaksi antara kita juga semakin intensif," ujarnya kepada detikEdu, usai acara wisuda Universitas Prasetiya Mulya yang berlangsung di ICE BSD, Senin (15/12/2025).
Adanya Kemunduran di ASEAN
Untuk menguatkan wilayah ASEAN, Hassan mengatakan masyarakat perlu mempunyai penguasaan keilmuan yang mumpuni serta kemampuan berbahasa. Namun, ia menyoroti adanya kemunduran di wilayah Asia Tenggara ini.
"Di ASEAN kita mengalami kemunduran, krisis di Myanmar sejak kudeta 4 tahun lalu belum terselesaikan, yang kedua muncul lagi konflik perbatasan antara Kamboja dengan Thailand, yang menjadikan ASEAN tidak lagi kohesif," ujarnya.
Konflik-konflik ini menyebabkan ASEAN menjadi terbelah. Di sisi lain, menurutnya, ASEAN memiliki peran sentral.
"Saya selalu mengingatkan bahwa peran sentralitas itu tidak akan tercapai jika kita tidak strong and cohesive," katanya lagi.
Perwakilan Indonesia di PBB itu juga mengaku kecewa akan posisi Indonesia yang tidak membantu menyelesaikan konflik di ASEAN.
"Saya agak kecewa yang pengamat dari luar ya, sebagai pengamat, tidak ada yang bertindak membantu menyelesaikan krisis Myanmar, juga perang perbatasan Thailand-Kamboja, jadi ada lack of leadership di sini," ungkap Rektor Universitas Prasetiya Mulya itu.
"Bayangkan, sejak kudeta di Myanmar 4 tahun lalu, 5 ketua ASEAN, mau dari Laos, Brunei, Laos, Kamboja, Indonesia termasuk, dan sekarang Myanmar, berakhir, tidak menyelesaikan masalah ini," katanya.
Perlunya Reformasi ASEAN
Melihat situasi ini, Hassan merekomendasikan adanya reformasi di ASEAN. Hal ini termasuk ASEAN Regional Forum dan East Asia Summit.
"Sepertinya kita agak complacent, agak lalai, karena itu ada keperluan untuk melakukan pembendahan lagi, reformasi ASEAN. Itu yang diperlukan," tegasnya.
Wisuda Universitas Prasetiya Mulya Hadirkan Ilmuwan Carina Joe
Wisuda Universitas Prasetiya Mulya menghadirkan Prof (H.C.UA) Carina Citra Dewi Joe, BSc, MSc, PhD sebagai pembicara utama. Ilmuwan Indonesia yang berkontribusi dalam pengembangan vaksin Oxford-AstraZeneca serta penerima Bintang Jasa Utama Republik Indonesia itu menekankan pentingnya lifelong learning sebagai kunci adaptasi di tengah percepatan teknologi. "Di era kecerdasan artifisial yang berkembang sangat cepat, kemampuan untuk terus belajar menjadi kunci utama. AI adalah alat yang sangat kuat, namun dampaknya akan bermakna dan berkelanjutan hanya jika digunakan dengan kreativitas, intuisi, dan tanggung jawab manusia," ujarnya.
Sejalan dengan hal tersebut, Rektor Universitas Prasetiya Mulya, Dr. Hassan Wirajuda, menegaskan keunggulan lulusan Prasetiya Mulya terletak pada keseimbangan antara
kompetensi teknologi, pemikiran strategis bisnis, dan nilai kemanusiaan. "Kecerdasan artifisial dapat mengoptimalkan proses dan hasil, tetapi tidak dapat menggantikan
makna, empati, dan kebijaksanaan yang lahir dari nurani manusia. Inilah fondasi yang kami bangun dalam pendidikan di Prasetiya Mulya," ungkapnya.
Dalam wisuda tersebut terungkap, sebanyak 28% lulusan Universitas Prasetiya Mulya tercatat telah membangun usaha, baik berupa STEM-driven business maupun traditional business. Selain itu, 40% lulusan telah bekerja di berbagai perusahaan multinasional dan nasional, 5% melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, serta 27% lainnya sedang mengikuti program magang atau berada dalam proses rekrutmen.
(nir/faz)











































