Jajal Ngeriset di Usia 13, Apa Kata Peserta Termuda PIRN NTB?

Rahma Harbani - detikEdu
Jumat, 15 Jul 2022 21:00 WIB
Aisya, Peserta Termuda Pekan Riset BRIN di NTB
Aisya Nuzila Rahmatun, siswa termuda yang menjadi peserta Pekan Riset BRIN di Mataram, NTB. (Rahma Indina Harbani/detikcom)
Mataram -

Namanya Aisya Nuzila Rahmatun yang baru menginjak usia 13 tahun. Siswa ini dinobatkan menjadi peserta termuda dalam pelatihan riset oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Nusa Tenggara Barat (NTB).

Aisya, begitu ia kerap disapa, mengaku masih asing dengan dunia riset atau penelitian. Kegiatan di Pekan Pemuda Inovasi dan Riset Nasional (PIRN) menjadi pengalaman pertama Aisya dalam meneliti.

"Lumayan susah (ikut penelitian pertama kali), " kata Aisya saat disambangi di gedung Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah (BPSDMD), Jumat (15/7/2022).

Aisya bercerita, banyak kosa kata baru yang asing di telinganya. Tidak jarang, ia beberapa kali harus mengecek makna katanya melalui situs pencarian atau mencatat dalam bukunya.

"Sebelum turun lapang 'kan dikasi materi (pembekalan meriset). Kata-katanya tuh kayak masih baru pertama kali denger gitu," tutur siswa SMPN 1 Pringgabaya NTB tersebut.

Ditambah, Aisya mengaku sempat kebingungan saat instruktur peserta dari peneliti BRIN mengarahkan siswa untuk menyusun topik penelitian pada tahap awal. Meski pada akhirnya, hal itu teratasi berkat adanya diskusi bersama kelompok.

"Teman-teman kelompok (siswa) SMA semua. Jadi pas diskusi (penentuan topik penelitian) saling membantu gitu," ujar dia.

Punya Ketertarikan di Bidang IPA

IPA memang merupakan salah satu mata pelajaran yang digemari Aisya. Tidak mengherankan bila Aisya yang sejak dulu langganan juara kelas ini turut menjadi peserta riset di PIRN.

"Suka Bahasa Indonesia dan IPA," ungkap Aisya.

"Karena juga nilai (kedua mata pelajaran) suka paling gede," tambah dia lagi.

Di samping itu, Aisya mengaku mulai memiliki ketertarikan soal penelitian usai mengikuti kegiatan Pekan Riset BRIN ini. Utamanya soal meneliti biota-biota laut.

"Pengen sih (meneliti lagi). Senang saja. (Inginnya) meneliti tentang biota laut," katanya.

Bermula dari Ajakan sang Kakak

Sebagai siswi SMP yang belum mengenal riset di sekolah, informasi adanya Pekan Riset BRIN ini mungkin sedikit mustahil sampai ke telinganya. Tapi, hal itu bukan tidak mungkin bagi Aisya.

Berdasarkan penuturannya, Aisya mendapat informasi mengenai pelatihan riset tersebut dari kakaknya. Usut punya usut, sang kakak ternyata memang bekerja di bawah BRIN Daerah (Brida) NTB.

"Awalnya pas puasa, kakak pulang (ke rumah). Ini ada acara (PIRN), suka 'kan pergi-pergi, kata dia," cerita Aisya sembari menirukan gaya bicara sang kakak.

Aisya mengatakan, hanya dirinyalah perwakilan dari SMPN 1 Pringgabaya. Salah satu temannya batal ikut serta akibat gagal mengunggah berkas sebagai dokumen persyaratan peserta.

"Soalnya (berkas temen) gagal keupload. Jadi aku sendiri (dari perwakilan sekolah)," katanya.

Tidak hanya Aisya, ternyata kakaknya yang masih mahasiswa juga ikut serta dalam kegiatan pekan riset ini. Ajang tahunan ini memang baru melibatkan mahasiswa pada tahun 2022.

PIRN ke-20 di Mataram, NTB sendiri merupakan bentuk kerja sama antara Direktorat Manajemen Talenta BRIN dan Pemerintah Provinsi NTB. Penutupan event akan diselenggarakan pada Sabtu (16/7/2022) dengan diakhiri kegiatan field trip.



Simak Video "Alasan BRIN Batalkan Rencana Renovasi Rp 6,1 M Ruang Kerja Dewan Pengarah"
[Gambas:Video 20detik]
(rah/pal)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia