Cerita Alumnus IPB University Tembus Pasar Internasional Kopi

Trisna Wulandari - detikEdu
Kamis, 26 Mei 2022 20:45 WIB
Fikri Raihan dan Wildan Mustofa, ayah-anak lulusan IPB University pebisnis ekspor kopi.
Fikri Raihan dan Wildan Mustofa, ayah-anak lulusan IPB University pebisnis ekspor kopi. Foto: Dok. Java Frinsa Coffee
Jakarta -

Alumnus IPB University Fikri Raihan mengekspor kopi hijau ke pasar internasional lewat Java Frinsa Estate. Kopinya tembus pasar Australia hingga Norwegia.

"Kami telah mengekspor kopi hijau ini ke berbagai negara seperti Australia, Jepang, Amerika, Norwegia dan banyak lagi," kata Fikri dalam laman kampus, Kamis (26/5/2022).

Merintis Bisnis Kopi

Alumnus Departemen Teknik Mesin dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, IPB University ini menuturkan, ia semula punya ketertarikan bisnis saat lebih muda. Petani milenial ini kemudian melanjutkan bisnis orang tuanya, Wildan Mustofa dan Atieq Mustianingtyas yang mendirikan Java Frinsa Estate (CV Frinsa Agrolestari) dan semula dikenal sebagai pengekspor komoditas kentang.

Dikutip dari laman Sustainable Coffee Platform of Indonesia (SCOPI), sang ayah juga merupakan Sarjana Ilmu Tanah dari IPB. Wildan kelak melanjutkan studi jenjang Master di jurusan Manajemen, Universitas Padjajaran (Unpad.) Wildan mengelola usaha dan operasi, sementara Atieq mengelola sumber daya manusia dan pemasaran.

Fikri mengatakan, pada 2011, ia merintis bisnis kopi dan mulai menjual produknya sendiri berupa kopi green bean di Java Frinsa Coffee.

Dikutip dari laman The Q Coffee, Java Frinsa Estate merupakan salah satu produsen kopi asal Jawa Barat dikenal sebagai penghasil biji kopi untuk pasar nasional hingga mancanegara. Sebagian besar biji kopi yang dijual dan diekspor Java Frinsa Estate berasal dari petani-petani yang menjadi mitra. Harapannya, praktik ini turut meningkatkan kesejahteraan petani kopi di Indonesia.

Sejumlah varietas di lahan Frinsa juga dikembangkan agar memiliki rasa yang enak, kualitas konsisten, tidak gampang kena penyakit, dan cocok dengan kondisi lahan. Dikutip dari laman resmi Java Frinsa Estate, kopi dipilih sebagai komoditas untuk mengatasi risiko banjir dan longsor di lahan dataran tinggi tersebut.

Beberapa varietas yang dikembangkan yakni P-88, Lini-S795, Borbor, Andung Sari, dan Ateng Super. Pemrosesannya menggunakan metode fully washed, wet-hulled, honey, dan natural.

Inovasi Pemrosesan Kopi

Beberapa inovasi pemrosesan eco-friendly yang diterapkan antara lain yakni blue process, anaerobic lactic fermentation, dan saccharic fermentation. Dengan blue process, natural dan honey processed beans dibuat setengah kering lalu dikeringkan lagi sebelum dipilih. Proses ini membuat karakter heavy di wet-hulled signature.

Sementara itu, pemrosesan anaerobic lactic fermentation menggunakan probiotik Lactobacillus yang meniru sistem pencernaan luwak. Alhasil, bisa didapat kopi dengan rasa mirip kopi luwak, namun dengan rasa lebih clean.

Adapun saccharic fermentation menggunakan ragi Saccharomyces yang menguatkan rasa manis, keasaman, dan kompleksitas rasa kopi.

Bisnis Dunia Pertanian

Menurut Fikri, dunia pertanian merupakan dunia yang menarik karena sangat ditentukan keahlian.

"Dunia pertanian sangat menarik untuk saya, khususnya on farm. Karena Harga Pokok Penjualan (HPP) sangat ditentukan oleh produktivitas dan produktivitas sangat ditentukan oleh keahlian kita dalam bertani. Produktivitas tinggi sama dengan HPP rendah sama dengan margin tinggi," jelasnya.

Semula, Fikri menargetkan bisnisnya berkembang di pasar nasional. Usai menyelesaikan targetnya, Fikri menetapkan target pasar internasional. Saat itu, ia berstrategi agar bisnisnya sebagai pengusaha pemula dapat mengejar small win dan menghindari big loss (kegagalan besar).

"Berawal dari sedikit-sedikit, kita kembangkan menjadi bisnis besar. Kuasai soft skill, terutama yang berhubungan dengan manusia, hal ini sangat penting dalam wirausaha. Carilah bisnis yang jarang pemainnya atau didominasi oleh bisnis yang perlu skill khusus, agar kita bisa beberapa langkah di depan orang pada umumnya. Tidak lupa inovasi," tuturnya.

"Lebih baik memiliki konsep besar dan jangan berhenti belajar, walaupun pada kenyataannya tidak seperti yang diharapkan. Perlu ada keberanian untuk melangkah dan melakukan bisnis," imbuh Fikri.

Bagaimana detikers, mau belajar jadi petani milenial juga seperti Fikri?




Simak Video "Puluhan Petani Sawit di Riau Diserang OTK Pakai Pedang Katana"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/nwy)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia