Benarkah Rasa Takut Bisa Menular? Ini Faktanya

ADVERTISEMENT

Benarkah Rasa Takut Bisa Menular? Ini Faktanya

Kalila Untsa - detikEdu
Senin, 19 Okt 2026 06:00 WIB
Ilustrasi paranoid
Foto: iStock/martin-dm/Ilustrasi takut.
Jakarta -

Pernahkah kamu merasa jantungmu berdebar kencang atau tanganmu berkeringat saat akan memulai wawancara kerja? Itu termasuk gugup dan bisa jadi takut tidak bisa menjawab pertanyaan serta berakhir dengan kegagalan.

Menurut seorang psikolog di Wayne State University, Arash Javanbakht, rasa takut dapat dipelajari dengan memperhatikan orang lain melalui reaksi dan perilakunya. Misalnya, saat seorang kandidat merasa takut untuk masuk ke ruangan wawancara, kandidat lain juga dapat merasa takut karena memperhatikannya.

"Kita (manusia) adalah makhluk sosial yang belajar dari orang lain. Rasa takut harus menular. Sistem rasa takut bersifat primitif dan sebagian besar berkembang dengan mempertimbangkan ancaman fisik," kata Javanbakht, dikutip dari Popular Science, dikutip Jumat (16/10/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bagaimana Rasa Takut Dapat Menular?

Dalam studi yang terbit di Social Cognitive and Affective Neuroscience pada 1 Maret 2007, dijelaskan bahwa manusia dapat mengembangkan rasa takut terhadap orang lain tanpa pengalaman langsung terhadap situasi tersebut. Rasa takut ini mengaktifkan amigdala di otak.

ADVERTISEMENT

Amigdala merupakan bagian otak yang merespons ancaman dengan memberi sinyal kepada hipokampus untuk mengaktifkan sistem saraf, melepaskan lonjakan adrenalin sehingga mempercepat detak jantung dan pernapasan.

Pada studi tersebut, 11 orang peserta diminta untuk menonton video seseorang yang menerima sengatan listrik saat menyentuh kotak berwarna tertentu. Setiap orang tersebut tersengat listrik, ekspresi wajahnya dapat terlihat tidak nyaman.

Peserta kemudian menjalankan tes serupa dengan video tersebut. Namun, tidak ada sengatan listrik pada kotak berwarna apa pun. Di saat yang sama, peneliti merekam aktivitas otak 11 peserta tersebut dengan fMRI serta respons tubuh seperti keringat di kulit.

Hasilnya, para peserta menunjukkan respons takut yang kuat terhadap warna yang dianggap berbahaya, padahal mereka tidak diberikan sengatan sama sekali. Peneliti juga menemukan bahwa saat menonton video dan melakukan tes secara langsung, amigdala peserta aktif.

Selain amigdala, area otak lainnya yang terkait dengan empati turut aktif. Salah satunya adalah insula anterior, yang aktivitasnya berhubungan dengan lemah-kuatnya rasa takut yang telah dipelajari.

Pada studi lain yang dipublikasikan di PLOS ONE, para peneliti mengumpulkan keringat dari orang-orang yang akan melakukan terjun payung dan orang-orang yang berlari di atas treadmill. Para peserta diminta untuk menghirup kapas berisi sampel keringat tersebut.

Hasilnya, saat menghirup keringat orang yang akan terjun payung, pemindaian otak peserta menunjukkan adanya peningkatan aktivitas di amigdala.

Faktor Biologis, Pengalaman, dan Empati

Cara kerja otak manusia tidak 100 persen sama antara satu dengan yang lain. Hal ini dipengaruhi oleh faktor empati, biologis, dan pengalaman.

Pada orang yang kurang berempati, rasa takut mungkin tidak begitu menular. Sedangkan orang yang lebih berempati, saat di situasi yang sama, kemungkinan akan merasakan takut yang sama atau bahkan lebih intens.

Dalam hal ini, faktor biologis bersama dengan pengalaman dapat menciptakan rasa takut yang telah siap dihadapi oleh seseorang. Hal ini karena trauma masa lampau dapat mengubah cara gen yang berhubungan dengan stres diekspresikan, sehingga seseorang dapat merespons rasa takut dan menjadi lebih waspada terhadap ancaman.

"Mereka yang pernah mengalami bencana atau perang, gen anak-anak mereka telah berubah menjadi lebih siap untuk merasa takut," tutur Javanbakht.

Jadi, rasa takut memang bisa menular. Namun, alih-alih dikategorikan sebagai hal negatif, rasa takut yang menular justru dapat membantu kita meningkatkan kewaspadaan untuk menghindari bahaya dalam kehidupan sehari-hari.

Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.



(faz/faz)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads