Indonesia memiliki potensi grafit alam yang sangat besar, hingga mencapai total 54,67 juta ton. Potensi tersebut tersebar di dua wilayah utama yaitu di Kalimantan sebesar 31,24 juta ton dan di Sulawesi sebesar 23,43 juta ton. Di Sulawesi, salah satunya berada di kawasan Kolaka.
Menurut Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), melimpahnya grafit alam Indonesia berpotensi mendukung teknologi penyimpanan energi, termasuk superkapasitor dan baterai kendaraan listrik generasi berikutnya. Dengan riset material elektroda berbasis grafit, BRIN mengembangkan inovasi untuk meningkatkan kinerja elektroda superkapasitor.
Peneliti Posdoktoral Pusat Riset Teknologi Mineral BRIN, Lukmanul Hakim Samada mengatakan dalam risetnya dikembangkan transformasi grafit menjadi reduced graphene oxide (RGO) yang dikompositkan dengan polyaniline (PANI) berbantuan surfaktan cetyltrimethylammonium bromide (CTAB). Inovasi tersebut dikembangkan untuk mengatasi keterbatasan konduktivitas pada grafit murni.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tahap sintesis diawali dengan pengubahan grafit menjadi graphene oxide (GO) dengan metode oksidasi Hummers untuk memasukkan gugus beroksigen supaya lembaran karbon lebih mudah terdispersi, sebelum kemudian direduksi menjadi RGO.
"Integrasi surfaktan CTAB sebesar 0,02 M dalam sintesis ini berhasil mengubah morfologi partikel teraglomerasi menjadi jaringan nanoserat PANI yang terdispersi baik dengan porositas mesopori yang tinggi," kata Lukmanul dalam webinar DISEMINASI #12, berjudul "Pemanfaatan Mineral Grafit Alam sebagai Prekursor Elektroda Superkapasitor Berkinerja Tinggi", Rabu (14/10/2026), dikutip dari BRIN.
Inovasi tersebut menciptakan peningkatan kinerja elekroda yang signifikan. Kapasitas spesifik mencapai 918 F/g pada pengujian 1 A/g, artinya meningkat sekitar 2,9 kali lipat daripada komposit tanpa CTAB.
Di samping itu, material tersebut mempunyai resistansi seri (Rs) rendah sebesar 0,60 Ω dan retensi kapasitansi sebesar 95% setelah 1.000 siklus. Melalui pengujian asymmetric supercapacitor (ASC), material tersebut memperlihatkan tegangan 1,7 V dengan rapat energi 18,9 Wh/kg dan rapat daya 850 W/kg.
Keunggulan Grafit
Lukmanul memaparkan, grafit adalah salah satu bentuk kristalin karbon dengan ketahahan panas tinggi dan sifat konduksivitas yang sangat berpotensi untuk dikembangkan. Setiap endpan grafit di alam punya keunikan tersendiri, baik dari segi ukuran flake (serpihan), kadar kemurnian, ataupun asosiasi mineral pengotornya.
Untuk mengubah bijih grafit alam menjadi konsentrat bernilai tinggi, dibutuhkan alur ekstraksi secara terstruktur. Tahapannya terdiri dari eksplorasi untuk menemukan mineralisasi ekonomis, penambangan bijih grafit, pengecilan ukuran (crushing dan grinding) untuk membebaskan flake dari mineral pengotor tnpa merusak ukurannya, flotasi buih dengan pemanfaatan sifat hidrofobik grafit, sampai pembersihan, pengurangan air, pengeringan, juga pemilahan ukuran.
"Tantangan utama dalam pemrosesan grafit alam adalah memisahkan grafit dari mineral pengotor secara optimal sambil tetap mempertahankan karakter flake yang menentukan nilai produk," kata Lukmanul.
Ia berharap agar kekayaan cadangan grafit alam Indonesia tidak cuma diekspor dalam bentuk mentah (raw material), tetapi juga bisa diolah di dalam negeri jadi produk hilir bernilai tambah tinggi.
"Pengembangan platform elektroda RGO/PANI-CTAB ini diharapkan menjadi fondasi kuat dalam mendukung kemandirian teknologi penyimpanan energi nasional, khususnya untuk pembuatan superkapasitor dan baterai kendaraan listrik generasi berikutnya," pungkasnya.
