Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie mengungkap potensi hidrogen alami (natural hydrogen) di Indonesia. Menurutnya, potensi ini dapat menjadi peluang untuk bersaing di tingkat global.
Namun, ia menekankan bahwa pengembangannya membutuhkan riset yang kuat. Selain itu juga diperlukan dukungan regulasi dan pembiayaan yang memadai.
"Itu bukan saja penting untuk Indonesia, tapi juga peluang. Yang pertama, karena kita punya hidrogen alami. Yang kedua, market-nya atau off-taker-nya itu sudah sangat jelas. Lalu yang ketiga ini yang cukup luar biasa dari natural hydrogen. Kita bisa menjadi pemain utama. Seperti liga piala dunia, bahwa dengan hidrogen alami ini kita punya kesempatan untuk masuk liga piala dunia," ujar Wamen Stella dalam acara Hydrogen Day 2026 di ITB, dikutip dari laman Kemdiktisaintek pada Rabu (14/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Riset Hidrogen Alami Perlu Diperkuat
Melihat potensi tinggi dari hidrogen alami, Stella mendorong riset dan kolaborasi lintas sektor. Ia yakin, jika potensi ini ditindaklanjuti akan memberikan manfaat ekonomi sekaligus mendukung kedaulatan energi nasional.
Stella menilai momentum pengembangan hidrogen alami perlu dimanfaatkan sejak sekarang. Menurutnya, upaya tersebut tidak hanya berkaitan dengan keberlanjutan lingkungan, tetapi juga peluang Indonesia untuk memperkuat kedaulatan energi.
Potensi Hidrogen Alami di Sulteng
Stella turut mengungkapkan potensi hidrogen alami yang ada di Sulawesi Tengah (Sulteng). Potensi tersebut tengah dikaji bersama Pertamina Hulu Energi (PHE), akademisi, dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Stella mengatakan pengembangan hidrogen alami perlu dimulai dengan penelitian yang kuat. Riset diperlukan untuk memahami karakteristik sumber daya, mengukur potensinya, serta menentukan strategi pengembangan yang tepat.
"Waktunya itu sekarang. Kalau kita tidak melakukannya sekarang untuk hidrogen alami, ini kita akan lama. Saya sangat berterima kasih kepada pihak-pihak yang terus mendorong ini semua. Karena momentumnya memang harus kita angkat bersama. Ini sangat penting, bukan saja untuk keberlanjutan, sustainability, tapi juga untuk kedaulatan Indonesia," tegas Wamen Stella.
Regulasi & Pembiayaan: Kunci Pengembangan Hidrogen
Selain riset, Stella menyoroti pentingnya dukungan regulasi dan pembiayaan agar pengembangan hidrogen dapat berlanjut hingga tahap pemanfaatan. Ia menyebut keterlibatan berbagai pihak, termasuk badan usaha milik negara (BUMN), diperlukan untuk mendukung pendanaan penelitian.
"Kita perlu research. Research ini perlu regulasi. Research juga perlu financing. Makanya saya senang sekali di sini ada teman-teman BUMN, yang memang akan bisa membantu financing," kata Stella.
Begitu juga yang disampaikan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan ITB Edwan Kardena. Guru Besar Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan ITB ini menegaskan bahwa pengembangan teknologi hidrogen membutuhkan ekosistem yang melibatkan berbagai pihak.
"Teknologi hidrogen itu adalah bagaimana kita bekerja sama, pemerintah sebagai regulator, BRIN, ITB sebagai penyedia inovasi, industri sebagai penggerak pasar. Saya kira sangat penting. Kedua adalah bahwa kita ingin di lingkungan teknologi ini, akademik ini, adalah suatu bagian daripada ekosistem hidrogen," katanya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi menyampaikan bahwa Indonesia kini juga sudah mengembangkan potensi green hydrogen atau hidrogen hijau.
Eniya mengatakan identifikasi potensi green hydrogen telah dilakukan di lebih dari 23 lokasi bersama PT PLN (Persero). Hidrogen hijau tersebut diproduksi melalui proses elektrolisis, yakni pemisahan hidrogen dari air menggunakan energi listrik.
"Nah, ini sekarang kita melihat bagaimana potensi penggunaannya. Jadi, 200 ton per tahun sekarang sudah mulai tercapai, tahun depan lebih banyak lagi. Jadi, kita harapkan investasi-investasi ini bergerak semua. Dan terakhir, kita ingin menggiring penggunaan hidrogennya," ujarnya.
