NASA telah mengukur cadangan air tanah menggunakan satelit sejak 2002. Menurut laporan terbaru, terjadi penipisan air tanah akibat aktivitas manusia. Apakah krisis air sedang terjadi di Bumi?
Para peneliti di NASA membagikan gambar dari satelitnya yang memperlihatkan adanya perubahan cadangan air tanah di 40 wilayah. Ini termasuk kehilangan cadangan air yang jauh lebih besar daripada perkiraan sebelumnya.
Mary Michael O'Neill, Matthew Rodell, dan Bryant D. Loomis melakukan penelitian di Pusat Penerbangan Antariksa Goddard NASA di Maryland. O'Neill juga bekerja di Pusat Interdisipliner Ilmu Sistem Bumi Universitas Maryland.
Bagaimana NASA Melacak Air di Bumi?
Pada 2002, NASA meluncurkan pasangan satelit pertamanya untuk melacak perubahan cadangan air dari tahun ke tahun. Kemudian pada 2018, diganti dengan satelit baru bernama GRACE-FO.
Satelit tersebut merupakan kerja sama antara NASA dengan German Research Center for Geosciences. Terdiri dari sepasang satelit kembar, GRACE-FO mengorbit Bumi di lintasan yang sama dengan jarak 220 kilometer di antara keduanya.
Benarkah Bumi Krisis Cadangan Air Tanah?
Berdasarkan pantauan GRACE-FO, ditemukan perubahan jumlah air di 94 titik di seluruh dunia. Perubahan sebanyak ini terlalu acak untuk disebut sebagai kebetulan semata.
Para peneliti menyebutkan 40 titik di antaranya menunjukkan pola yang cocok dengan aktivitas manusia. Beberapa yang disebutkan sebagai contoh aktivitas manusia adalah memompa air tanah untuk mengairi sawah dan kebun, menebang hutan, bertani tapi hanya mengandalkan air hujan, hingga mengisi waduk.
Jumlah seluruh air yang hilang di 40 titik tersebut mencapai 750 mil kubik atau sekitar 3.122 kilometer kubik sejak 2002 hingga 2025. Sedangkan, jumlah pertambahan airnya hanya sekitar empat perlima dari jumlah yang hilang. Artinya, jumlah air yang hilang lebih banyak daripada yang bertambah.
"Wilayah yang paling mengkhawatirkan adalah wilayah yang sudah diakui sebagai wilayah yang kekurangan air, di mana kita sekarang mengamati kehilangan air yang bahkan lebih besar daripada yang diperkirakan sebelumnya," kata Mary Michael O'Neill, salah satu peneliti di NASA, dikutip dari Earth.com, Kamis (15/10/2026).
Wilayah yang Kehilangan Banyak Air
Masih dengan penyebab yang sama, yaitu aktivitas manusia, sejumlah wilayah di penjuru dunia ini turut mengalami fenomena berkurangnya jumlah air di sekitarnya. Di Asia ada India bagian utara, Arab Saudi, dan Iran.
Di India bagian utara, kehilangan cadangan air paling besar yaitu sebesar 32,5 kilometer kubik per tahun. Padahal, studi lain memprediksi angka kehilangan airnya hanya setengah dari jumlah aktual. Sebanyak 15 persen dari jumlah kehilangan air ini disebabkan oleh pencairan gletser Himalaya dan kontributor terbesarnya adalah pemompaan air tanah.
Di Arab Saudi dan Turki, cadangan air tanah diambil enam kali lipat lebih banyak daripada jumlah air hujan dan sungai yang menyerap kembali ke tanah. Kehilangan air di Turki bahkan berdampak hingga ke Suriah dan Irak.
Iran kehilangan air paling banyak di dua wilayah yang luasnya sekitar seperempat dari negara. Dari dua wilayah tersebut, jumlah air yang hilang setara dengan prediksi jumlah kehilangan air di seluruh negara.
Di Amerika Serikat, terdapat dua titik yang termasuk dalam 40 titik yang sebelumnya disebutkan. Titik pertama terletak di Central Valley California yang telah mengalami kekeringan sejak 2003 dan meningkat hingga permukaan air tanahnya turun.
Padahal di atas lembah tersebut terdapat ladang pertanian yang aktif. Titik kedua adalah High Plains Aquifer yang menopang lebih dari 80 persen lahan irigasi yang bergantung pada air tanah.
Afrika Utara dan Timur Tengah secara keseluruhan memiliki akuifer yang terbentuk ribuan tahun lalu, sehingga memang sulit untuk terisi kembali. Kini, wilayah tersebut kian tertekan oleh pertanian di gurun dan pemanasan global.
Selain wilayah yang mengalami kehilangan air, terdapat pula beberapa wilayah yang memiliki cadangan air berupa waduk. Diketahui, waduk dapat menghasilkan sinyal penyimpanan air individual terkuat di Asia Utara di luar wilayah kutub.
Di Malaysia, terdapat Waduk Bakun yang memiliki kapasitas 700 kilometer persegi dan terdeteksi sebagai salah satu area terkecil oleh satelit kembar GRACE-FO.
Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.
Simak Video "Video: Krisis Air Sukabumi, Ratusan Warga Bertahan di 'Kobakan'"
(faz/faz)