×
Ad

BMKG Deteksi Ribuan Hotspot di RI, Ada Wilayahmu?

Nikita Rosa - detikEdu
Kamis, 15 Okt 2026 06:01 WIB
Ilustrasi titik api Foto: Antara Foto/Nova Wahyudi
Jakarta -

Cuaca panas dan kondisi kering masih mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia pada Oktober 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bahkan mendeteksi lebih dari 1.000 titik panas atau hotspot di 10 provinsi.

Dalam keterangan resminya, BMKG menyatakan sebagian besar wilayah Indonesia masih didominasi oleh kondisi kering. Kondisi kering ini juga meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya pada daerah yang mengalami periode hari tanpa hujan berkepanjangan.

Wilayah dengan Hotspot Tinggi di Indonesia

Berdasarkan pantauan pada 11 Oktober 2026, hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi masih teridentifikasi di sejumlah wilayah, yaitu:

1. Jambi (16 titik)

2. Sumatera Selatan (234 titik)

3. Kepulauan Bangka Belitung (23 titik)

4. Lampung (19 titik)

5. Kalimantan Barat (71 titik)

6. Kalimantan Tengah (213 titik)

7. Kalimantan Timur (30 titik)

8. Kalimantan Selatan (15 titik)

9. Maluku Utara (15 titik)

10. Papua Selatan (482 titik)

AsapKarhutla diSumatera hingga Papua

Selain itu, melalui pengamatan citra satelit Himawari BMKG juga melihat masih adanya sebaran asap yang mencakup:

1. Sebagian Sumatera bagian tengah hingga selatan

2. Sebagian besar Kalimantan

3. Sulawesi

4. Maluku

5. Maluku Utara

6. Sebagian Papua.

"Kondisi ini mengindikasikan bahwa risiko karhutla masih menjadi perhatian, khususnya di wilayah dengan curah hujan rendah dan kondisi tutupan lahan yang semakin kering," ungkap BMKG dalam keterangan resminya dikutip Rabu (14/10/2026).

Penyebab Cuaca Panas

Cuaca panas yang dirasakan belakangan ini di sejumlah wilayah dipengaruhi kondisi musim kemarau yang membuat curah hujan berkurang. Menurut Sekretaris Utama (Sestama) BMKG Guswanto kondisi langit lebih cerah juga membuat radiasi matahari yang mencapai permukaan bumi makin kuat.

"Musim kemarau plus langit lebih cerah saat curah hujan berkurang dan awan sedikit, radiasi matahari yang sampai ke permukaan bumi jadi lebih maksimal, cuaca panas di Indonesia sering dipengaruhi kondisi langit cerah dan penyinaran matahari yang kuat," kata Guswanto dalam detikNews, Rabu (14/10/2026).

Adapun cuaca panas di Ibu Kota Jakarta, menurut Guswanto bisa pula dipengaruhi oleh urban heat island. Fenomena ini terjadi ketika kawasan perkotaan memiliki suhu lebih tinggi dibanding wilayah sekitarnya yang memiliki lebih banyak vegetasi.

"Efek 'urban heat island' Jakarta Ini faktor lokal. Aspal, beton, gedung, kendaraan, dan minimnya area hijau membuat panas tersimpan lebih lama dibanding daerah yang lebih banyak vegetasinya. Akibatnya malam hari pun sering masih terasa gerah. Ini adalah penjelasan ilmiah yang umum digunakan untuk kota besar seperti Jakarta," ujarnya

Guswanto menyimpulkan panas Jakarta kemungkinan besar merupakan kombinasi dari kemarau, langit cerah, udara kering, efek kota besar, dan El Nino.

"Bukan karena gelombang panas seperti yang sering terjadi di negara subtropis. Makanya banyak orang merasa siang hari sekarang 'pedes' banget di kulit walaupun termometer mungkin hanya menunjukkan 33-35°C. Yang kita rasakan itu sudah ditambah efek radiasi matahari langsung, kelembapan, dan kondisi perkotaan," ujarnya.

Masyarakat Diminta Hemat Air

Seiring menguatnya kondisi kering, BMKG mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah diimbau untuk menghemat penggunaan air. Selain itu, mewaspadai ancaman kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan.

BMKG meminta masyarakat tidak membakar sampah atau membuka lahan secara sembarangan, terutama di kawasan seperti lahan gambut, semak belukar, dan hutan.

Meski musim kemarau masih dominan, BMKG tidak menutup kemungkinan adanya potensi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang yang disertai kilat/petir secara lokal. Oleh karena itu, masyarakat dimintai mewaspadai potensi genangan, longsoran material, dan sambaran petir.

Informasi lebih lanjut mengenai cuaca terkini dapat dipantau melalui laman www.bmkg.go.id, aplikasi InfoBMKG, dan media sosial @infobmkg.



Simak Video "Video: BMKG Prediksi El Nino Berpuncak di Desember atau Januari 2027"

(nir/pal)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork