Ini Alasan Karhutla di Sumatera-Kalimantan Sulit Padam Menurut Pakar UGM

ADVERTISEMENT

Ini Alasan Karhutla di Sumatera-Kalimantan Sulit Padam Menurut Pakar UGM

Nikita Rosa - detikEdu
Rabu, 14 Okt 2026 19:30 WIB
Karhutla Tumbang Nusa, Petugas Hadapi Hujan Bara
Karhutla Tumbang Nusa, Kalimantan. (Foto: Kemenhut)
Jakarta -

Kebakaran Hutan dan Lahan (karhutla) di Sumatra dan Kalimantan masih terjadi. Meski tim pemadaman sudah dikerahkan, asap kebakaran masih mengepul hingga ke Singapura dan Malaysia.

Sejumlah sekolah sampai ditutup dari kegiatan belajar mengajar tatap muka. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan, mengapakarhutla sulit dipadamkan?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pakar Bidang kebakaran hutan dan lahan, Fakultas Kehutanan UGM, Fiqri Ardiansyah, mengungkapkan sulitnya memadamkan karhutla kali ini adalah karena fenomena El Nino. Selain itu, curah hujan yang sedikit membuat lahan gambut menjadi lebih rentan.

"Jadi memang curah hujannya minimum dan ini bukan di awal-awal musim. Artinya, semakin lama semakin masuk ke periode El Nino, curah hujannya mendekati nol, kondisi bahan bakar (gambut) itu menjadi lebih rentan", ungkapnya dalam laman UGM, Rabu (14/10/2026).

ADVERTISEMENT

Kerentanan ini meningkat seiring berjalannya musim kemarau karena berkurangnya pasokan air untuk menjaga kelembaban lahan gambut.

Kekeringan Bukan Satu-satunya PenyebabKahurtla

Kendati demikian, Fiqri menegaskan kekeringan bukan merupakan satu-satunya penyebab kebakaran. Karhutla tetap membutuhkan sumber penyulutan yang berinteraksi dengan bahan bakar dan oksigen.

"Kebakaran itu terjadi karena interaksi antara ekosistem dan juga sumber panas. Karhutla dapat terjadi di berbagai jenis ekosistem, baik gambut maupun non-gambut. Perbedaan utamanya terletak pada karakteristik dan perilaku api ketika kebakaran berlangsung," tuturnya.

Identifikasi Pemadaman Lebih Sulit

Pada ekosistem non-gambut, kebakaran umumnya terjadi di permukaan dan dapat menjalar hingga bagian tajuk tanaman. Sementara pada lahan gambut, api dapat membakar permukaan dan lapisan di bawah tanah.

Karakteristik ini membuat proses identifikasi dan pemadaman menjadi lebih kompleks karena sumber tidak terlihat secara langsung.

Kebakaran pada gambut ini berpotensi menyisakan bara di bawah permukaannya. Apabila penyiraman air hanya menjangkau lapisan atas, bara di bagian bawah masih dapat bertahan dan memicu munculnya titik api.

Terbatasnya Akses Menuju Lokasi Kebakaran

Keterbatasan akses menuju lokasi kebakaran juga menjadi kendala dalam memadamkan api. Diketahui, sejumlah titik api berada di wilayah yang sulit dijangkau.

"Di beberapa area, sumber airnya terbatas sehingga api tidak bisa langsung dipadamkan seketika. Kebakarannya juga semakin luas, sementara di beberapa wilayah personel ataupun sarana-prasarananya terbatas," jelasnya.



(nir/nwk)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads