TNI Angkatan Udara (TNI AU) dan French Air and Space Force (FASF/Angkatan Udara dan Antariksa Prancis) mengadakan Latihan Bersama (Latma) Pegase 2026. Salah satu yang dilatih adalah 'air to air refueling' (AAR) ke pesawat tempur Rafale yang menjadi armada baru TNI AU tahun 2026 ini.
Apa Itu 'Air to Air Refueling'?
Air to air refueling merupakan pengisian bahan bakar di udara atau dapat dikatakan proses memindahkan bahan bakar dari satu pesawat ke pesawat lain saat melakukan penerbangan, demikian dilansir dari akun instagram resmi Skadron Udara 16 Lanud Iswahjudi, dikutip Rabu (23/9/2026).
Prosedur ini memungkinkan pesawat tempur untuk terbang lebih lama, menambah jarak jangkau atau waktu operasinya, tak perlu mendarat buat isi bahan bakar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikembangkan Sejak 1917, Diuji 1923
Metode ini pertama kali dikembangkan pada tahun 1917 oleh Alexander de Seversky, seorang warga negara Rusia-Amerika, dan kemudian diikuti oleh demonstrasi eksperimental berupa selang karet sepanjang lima belas meter dan katup aliran manual pada tahun 1920-an, demikian dikutip dari jurnal berjudul "Advances in air to air refuelling" yang ditulis Peter R Thomas dkk yang diterbitkan jurnal Progress In Aerospace Science, Volume 71 diterbitkan November 2014.
Kemudian pada 27 Juni 1923 eksperimen pengisian bahan bakar di udara pertama kali sukses dilakukan Amerika Serikat (AS). Para penerbang di Rockwell Field, San Diego, mengembangkan sistem pengisian bahan bakar di udara antara pesawat DH-4B.
Saat itu bahan bakar dialirkan menggunakan selang gravitasi antara dua pesawat De Haviland DH-4B. Satu pesawat yang dibawa Letnan Lowell H Smith dan John P Richter terbang selama 6 jam 38 menit sementara pesawat lain yang dipiloti Letnan Virgil Hine dan Frank W Seifert berfungsi sebagai pengisi bahan bakar menggunakan selang aliran gravitasi, demikian dilansir dari laman Museum Nasional AU AS.
Teknologi ini berkembang hingga sekarang.
Airbus A330 MRTT Isi Bahan Bakar Rafale TNI AU di Udara
Dalam Latma Pegase 2026, air to air refueling dilakukan di wilayah udara sekitar Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta.
Simulasi air to air refueling ini melibatkan pesawat Airbus A 330 Multi Role Tanker Transport (MRTT), dua pesawat Rafale FASF, serta dua pesawat Rafale TNI AU, demikian dilansir dari laman TNI AU, Rabu (23/9/2026).
"Dalam latihan ini, kita mencoba simulasi air refueling untuk meningkatkan kemampuan interoperabilitas sekaligus menambah jangkauan pesawat," ujar Komandan Skadron Udara 12 Letkol Pnb Arie Prasetyo.
Selain AAR, dalam Latma Pegase 2026 ini dilakukan pula latihan penerjunan taktis (Static Jump) oleh pasukan Pasgat TNI AU dari pesawat Airbus-400M, manuver pengawalan udara (Air Cover), serta forum pertukaran keahlian (Subject Matter Expert Exchange / SMEE) antar-penerbang dan teknisi.
Dalam latihan berskala internasional ini, kedua angkatan udara melibatkan jajaran alutsista mutakhir. TNI AU, mengirimkan pesawat tempur Rafale, pesawat angkut strategis A-400M, serta prajurit Komando Pasukan Gerak Cepat (Pasgat).
FASF menyiapkan pesawat tempur Rafale, pesawat tanker multi-peran A330 MRTT (Multi Role Tanker Transport), dan pesawat angkut A400M Atlas.
Dikutip dari laman Kementerian Pertahanan, Rafale yang merupakan pesawat tempur pabrikan Prancis sudah menjadi bagian alat utama sistem persenjataan Indonesia (alutsista) yang telah resmi diterima TNI AU pada Mei 2026 lalu.
Selain ada enam pesawat tempur Rafale, TNI AU juga telah menerima enam pesawat Falcon 8X, serta dua pesawat angkut A400M, demikian diungkapkan Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Madya TNI Mohamad Tonny Harjono, dilansir dari detikJogja.
