TNI Angkatan Udara (AU) terus memperkuat kemampuan pertahanan udara melalui modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista). Sejumlah alutsista baru mulai didatangkan, mulai dari pesawat tempur Rafale, pesawat Falcon, pesawat angkut A400M, hingga radar baru yang diproyeksikan menutup wilayah blind spot pengawasan udara.
Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Madya TNI Mohamad Tonny Harjono mengatakan modernisasi alutsista tersebut merupakan bentuk perhatian pemerintah terhadap penguatan pertahanan udara nasional.
"Yang pertama poinnya adalah kami sangat berterima kasih kepada Bapak Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto, atas perhatian beliau kepada Angkatan Udara yang begitu besar, sehingga beliau melengkapi, memodernisasi alutsista Angkatan Udara," kata Tonny usai memimpin Upacara Hari Bakti TNI AU ke-79 di Akademi Angkatan Udara (AAU), Sleman, Selasa (29/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Tonny, modernisasi dilakukan secara menyeluruh, mencakup pesawat tempur, pesawat angkut, helikopter, radar hingga sistem rudal.
"Dari mulai pesawat tempur, kemudian pesawat angkut dengan heli yang berbagai jenis, kemudian termasuk radar dan rudal, baik dari udara ke udara maupun rudal dari darat ke udara," ujarnya.
Ia mengungkap sejumlah alutsista yang telah diterima TNI AU antara lain enam pesawat tempur Rafale, enam pesawat Falcon, serta dua pesawat angkut A400M. Selain itu, TNI AU juga tengah menyiapkan dua radar baru yang akan ditempatkan di Takalar, Sulawesi Selatan, dan Banjarbaru, Kalimantan Selatan.
"Apa saja, saya tidak rinci satu per satu, tetapi yang sudah datang ada enam pesawat Rafale, kemudian kita juga mendapatkan enam pesawat Falcon, dua pesawat A400M. Kemudian yang sedang berproses ini penyiapan dua radar yang kita tempatkan ada di Takalar dengan di Banjarbaru," jelasnya.
Tonny berharap kedua radar tersebut dapat segera beroperasi sehingga mampu memperkuat sistem pengawasan udara nasional.
"Mudah-mudahan dalam waktu dekat sudah mulai bisa beroperasi sehingga tidak ada lagi blind spot atau daerah yang tidak bisa tertangkap oleh radar kita," katanya.
Meski demikian, Tonny menegaskan ruang udara Indonesia saat ini tetap berada dalam pengawasan. Menurutnya, TNI AU mengintegrasikan sistem radar dengan sejumlah instansi lain, seperti Kementerian Perhubungan, AirNav Indonesia, dan Angkasa Pura.
"Hampir sebagian di sebelah barat Indonesia. Tetapi kita bekerja sama dengan instansi lain. Jadi bukan berarti blind spot saat ini tidak terawasi ruang udara Indonesia, tetapi kita juga bekerja sama dengan Perhubungan, dengan AirNav, kemudian dengan Angkasa Pura, dan sebagainya yang mempunyai radar. Kita integrasikan, kemudian bisa dilihat di dalam satu big picture, satu screen yang besar," ungkapnya.
Ia memastikan saat ini tidak ada wilayah Indonesia yang luput dari pemantauan. Ke depan, TNI AU juga menargetkan memiliki kemampuan pengawasan radar secara mandiri dengan tetap terintegrasi bersama instansi terkait.
"Tidak ada daerah di Indonesia ini saat ini yang tidak terawasi. Jadi semua terawasi, tetapi nanti ke depan kami Angkatan Udara memiliki kemampuan sendiri. Dan tentunya tetap kita integrasikan dengan instansi-instansi lainnya yang bisa mendukung pertahanan udara," pungkasnya.
