Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) umumkan penemuan spesies baru pari cambuk. Spesies endemik tersebut berada di kawasan Kepulauan Indo-Melayu dan diteliti dengan pendekatan genetika molekuler.
Spesies ini dinamakan Himantura arlyzae dan dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Aquatic Living Resource edisi 2026. BRIN dalam penelitian ini juga bekerja sama dengan Institut de recherche pour le développement (IRD) Prancis.
Banyak Pari Cambuk Kecoh Peneliti
Rupa dan corak tubuh yang mirip membuat banyak spesies pari cambuk atau whipray mengecoh peneliti selama puluhan tahun. Kemiripan yang sangat ekstrem juga menyebabkan para ahli bingung dalam menamai atau memetakan persebaran spesies dari genus Himantura khususnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dunia sains sebelumnya sangat bergantung pada morfologi atau ciri fisik yang terlihat, misalnya bentuk tubuh dan pola warna untuk mengidentifikasi species pari Himantura. Akan tetapi, metode tersebut punya kelemahan serius. Sebab, kemiripan fisik antarspesies amat tinggi dan karakteristik fisik tidak bisa dijadikan patokan pasti.
Dalam riset ini, para ahli mencatat ada 16 karakter fisik yang sering jadi pedoman untuk mengidentifikasi empat spesies pari cambuk. Walau demikian, saat diuji lebih jauh, tidak terdapat satu pun dari karakter tersebut yang menyajikan diagnosis mutlak.
Hal tersebut mengakibatkan kekacauan silsilah. Kelompok pari yang secara genetik berasal dari satu garis keturunan kerap kali diberi nama spesies berbeda. Di sisi lain, individu yang berbeda secara genetik justru diletakkan di bawah satu nama spesies yang sama.
Kesalahan identifikasi tersebut menyebabkan dampak yang panjang. Tanpa adanya identitas akurat pari cambuk, ilmuwan dan pemerintah kesulitan untuk mengukur secara tepat seberapa luas persebaran, seberapa besar sisa populasinya, dan seberapa genting status konservasinya.
Arlyzae Diambil dari Nama Almarhumah Peneliti LIPI
Nama arlyzae dalam spesies baru pari cambuk yang ditemukan merupakan bentuk penghormatan abadi untuk Dr Irma S Arlyza (1974-2019). Ia adalah peneliti genetika ikan hiu dan pari (Elasmobranchii) Pusat Riset Oseanografi di LIPI, yang kini sudah terintegrasi ke dalam BRIN. Dedikasi Dr Irma merupakan fondasi penting untuk penemuan ini.
Spesimen acuan atau holotipe H arlyzae merupakan seekor pari cambuk jantan muda dengan lebar cakram 38,2 cm dengan panjang total 142 cm. Spesimen tersebut dikumpulkan oleh Dr Irma pada November 2009 dari tangkapan nelayan lokal di perairan Pulau Selayar, Laut Flores.
Sekarang ini, spesimen tersebut telah disimpan dan dirawat di Museum Zoologicum Bogoriense (MZB) dengan nomor registrasi MZB-20875.
Perombakan Total Persebaran Pari Cambuk di Dunia
Penemuan spesies baru ini menyebabkan perombakan total peta persebaran pari cambuk di dunia. Terdapat spesies yang sebelumnya disangka dapat menjelajahi laut yang sangat luas, ternyata mempunyai wilayah hidup jauh lebih sempit dan spesifik.
Contohnya spesies Himantura uarnak yang sekarang ini dipastikan hanya berstatus endemik di kawasan Laut Merah dan barat Samudra Hindia, tidak tersebar secara global. Kemudian, ada juga H leoparda yang dipastikan menghuni kawasan Kepulauan Indo-Melayu.
Pada spesies yang baru ditemukan, H arlyzae, peneliti menemukan spesies tersebut dan H australis memiliki pola persebaran parapatrik. Habitat mereka bersebelahan secara geografis, tetapi populasinya hampir tidak pernah saling tumpang tindih.
Pengamatan genetika membuat sains mampu menjawab dengan pasti bukan hanya siapa pari tersebut, tetapi di mana rumah asli mereka.
Perubahan peta silsilah dalam demografi pari cambuk juga memicu perubahan pada daftar merah IUCN (International Union for Conservation of Nature) tahun 2025. Sebelumnya hanya tercatat empat spesies dalam kelompok tersebut. Sekarang dengan terbuktinya delapan spesies terpisah, maka otomatis jumlah individu spesies jadi jauh lebih sedikit.
