Indonesia tengah mengalami musim kemarau berbarengan dengan fenomena El Nino. Kondisi ini menyebabkan suhu Indonesia meningkat dan kering hingga 2027.
Joko Widodo, Ketua Task Force Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam penanganan bencana di Sumatera, mengatakan saat ini tim pusat riset atmosfer sedang berfokus pada anomali cuaca ke depan. Setelah menghimpun dan menganalisis data, BRIN akan menyampaikan hasil temuan ke Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu yang kemudian kami sampaikan ke teman-teman BMKG ya untuk menjadi support data untuk analisis," ujarnya ditemui usai Kick Off Meeting Task Force Percepatan Rehabilitas dan Rekonstruksi Bencana di Gedung BRIN, Jalan Gatot Subroto No 10, Jakarta, Rabu (16/9/2026).
Kebakaran Hutan
Terkait kebakaran hutan saat kemarau, Joko menyebut area-area tertentu, seperti Kalimantan dan Sumatera, banyak ditumbuhi lahan gambut yang mudah terbakar ketika kering.
"Lahan gambut itu kalau kondisi air tanahnya itu lebih dari 40 cm di bawah tanah itu pasti rentan terbakar. Nah sehingga memang problemnya biasanya itu," tuturnya.
Kembangkan Teknologi Air Siap Minum
Selain itu, musim kemarau juga erat dengan kelangkaan air. Untuk mengatasi hal ini, BRIN telah mengembangkan teknologi pengolahan air siap minum baik dari air laut maupun sumber air lain.
"Kami ambil contoh kemarin di Sumatera kami kerahkan 3 unit arsinum (air siap minum) di mana 1 unit itu kapasitasnya kira-kira 10 ribu meter kubik per hari atau 5 ribu galon per hari," ujarnya.
"Kemudian itu kami tempatkan di suatu lokasi atau bisa juga kami operasionalkan dengan cara berpindah-pindah mengikuti sumber air yang ada," imbuhnya.
Arsinum ini telah terintegrasi dengan otomatisasi IoT dan dirakit dalam unit statis untuk pesantren dan perkantoran dan bentuk Mobile Unit (di atas kendaraan). Selain di lokasi banjir Sumatera, arsinum telah diturunkan di gempa Lombok dan banjir Jabodetabek.
