×
Ad

Simpanse di Uganda Terlibat 'Perang Saudara' Mematikan, Peneliti Temukan Hal Ini

Callan Rahmadyvi Triyunanto - detikEdu
Sabtu, 23 Mei 2026 12:00 WIB
Foto: iStockphoto/Cheryl Ramalho/Ilustrasi simpanse.
Jakarta -

Apakah hewan bisa berkonflik hingga seperti perang? Penelitian terbaru menemukan bahwa kerabat dekat spesies manusia, yakni simpanse, telah melakukannya. Kenapa bisa perang?

Seorang antropolog di Universitas Texas di Austin, Aaron Sandel dan rekan-rekannya, mengamati konflik mematikan antaranggota komunitas simpanse Ngogo di Taman Nasional Kibale, Uganda. Simpanse di wilayah tersebut telah dipelajari selama sekitar 30 tahun untuk memberikan data tentang perilaku mereka.

Simpanse Membentuk Kelompok-kelompok Kecil

Dalam studinya, peneliti mengungkapkan bahwa sebagian simpanse tergabung dalam kelompok besar. Namun, di dalamnya, simpanse membentuk 'kelompok' sementara yang bisa berubah-ubah sepanjang hari seiring pergerakan mereka.

Kemudian antara tahun 1998 dan 2014, beberapa kelompok ini menjadi kelompok yang lebih teratur, seperti tiga pria dewasa yang selalu bersama.

"Sejak sekitar tahun 2015, komunitas Ngogo yang besar—yang saat itu berjumlah sekitar 200 simpanse—pecah menjadi dua kelompok berbeda yang hidup dan bereproduksi secara terpisah," kata peneliti, dikutip dari Live Science.

Munculnya Konflik

Pada fase awal perpecahan, masih terdapat ikatan dan kerja sama di antara banyak individu dari kedua kelompok. Namun, pada 2018, sisa-sisa ikatan sosial tersebut hancur sepenuhnya. Sejak saat itu, agresi meningkat drastis setiap kali mereka melakukan patroli di perbatasan wilayah masing-masing.

"Setelah mereka terpecah menjadi dua kelompok, simpanse dari satu kelompok mulai menyerang dan membunuh kelompok lainnya. Situasi ini kemudian berkembang menjadi periode kekerasan mematikan yang terus meningkat," jelas Sandel.

Serangan antarkelompok ini menyebabkan banyak kematian pada simpanse pejantan dewasa. Bahkan lebih mengkhawatirkan, sejak 2021 para peneliti juga secara rutin mengamati kasus pembunuhan bayi simpanse (infanticide).

Menurut Sandel, jumlah korban tewas sebenarnya dari konflik yang mereka sebut sebagai 'perang saudara' ini kemungkinan jauh lebih tinggi. Pasalnya, banyak individu simpanse yang dilaporkan hilang tanpa jejak.

Meski istilah 'perang saudara' umumnya digunakan untuk manusia yang memiliki negara, para peneliti memakai istilah ini untuk menyoroti aspek konseptual yang penting. Konflik ini tidak terjadi melawan kelompok asing, melainkan pertumpahan darah di antara simpanse yang sebelumnya saling mengenal dan hidup rukun.

Apa Penyebab Konflik Simpanse di Uganda?

Para peneliti menduga terdapat sejumlah faktor yang menggoyahkan stabilitas sosial mereka, salah satunya adalah ukuran kelompok yang terlalu besar sehingga memicu persaingan ketat dalam hal mencari makan dan reproduksi.

Rentetan peristiwa tragis juga diduga menjadi pemicu, mulai dari kematian enam simpanse dewasa pada 2014, pergantian pejantan alfa pada 2015, hingga wabah penyakit pernapasan yang menewaskan 25 simpanse pada 2017.

Pakar zoologi dari German Primate Center, Liran Samuni, menambahkan bahwa komunitas Ngogo sejak awal telah dikenal sebagai salah satu kelompok simpanse paling agresif.

"Bahkan sebelum perpecahan ini terjadi, kelompok ini sudah termasuk salah satu yang paling agresif. Antara 1998 dan 2008, simpanse Ngogo diketahui membunuh setidaknya 21 simpanse dari kelompok tetangga untuk memperluas wilayah mereka," ungkapnya.

Perang berdarah ini ternyata belum berakhir. Meski makalah penelitian tersebut mencakup data hingga 2024, Sandel mengonfirmasi bahwa serangan lanjutan masih terus terjadi sepanjang 2025 hingga 2026.

Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.



Simak Video "Video WHO Naikkan Status Risiko Ebola di Kongo Jadi 'Sangat Tinggi'"

(crt/faz)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork