Pernahkah detikers melihat anak-anak yang mengupil atau mengeluarkan ingus, lalu dimasukkan ke mulut? Ternyata fenomena ini umum di kalangan anak-anak. Kebiasaan ini, setidaknya dimiliki oleh 12 spesies primata lain.
Mengupil tak hanya menjadi kebiasaan anak-anak, tapi juga orang dewasa. Sebuah studi tahun 2001 terhadap 200 remaja di India, menemukan bahwa hampir semua peserta mengakui mengorek hidung mereka; terlebih lagi, sembilan orang dalam sampel tersebut mengatakan mereka secara rutin memasukannya ke mulut.
Studi lain tahun 2009, mengungkapkan bahwa pada sampel yang sangat kecil hanya 10 anak, ditemukan alasan mengapa mereka doyan mengupil lalu mencicipinya. Peneliti langsung bertanya kepada anak-anak dan jawabannya mereka suka memakan kotoran hidung karena tekstur dan rasanya yang unik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Anak-anak Belum Punya Konotasi Negatif
Menurut profesor senior emeritus di National Institute of Mental Health and Neurosciences di Bangalore, India, Dr Chittaranjan Andrade, percaya bahwa apa yang dilakukan oleh anak-anak karena mereka belum memiliki konotasi negatif seperti orang dewasa. Mereka hanya tahu positif negatif berdasarkan apa yang dimarahi dan tidak oleh orang tua mereka.
Namun, secara pasti, alasan mengapa anak-anak suka mengupil dan mencicipinya, masih sulit dipahami oleh ilmuwan.
"Jawaban pasti mengapa anak-anak memakan ingus mereka akan tetap sulit dipahami," kata Andrade.
Primata Suka Membiarkan Ingus Masuk Mulut
Ahli biologi evolusi Anne-Claire Fabre, mengatakan, primata memiliki kebiasaan seperti manusia yakni membiarkan ingus atau mengorek hidung, lalu mencicipinya. Dalam sebuah pengamatan hewan endemik Pulau Madagaskar, aye-aye (Daubentonia madagascariensis), terlihat ia memasukkan jari ke lubang hidup, mengeluarkan lendir lalu menjilatinya.
"Sepertinya hewan itu benar-benar menikmati apa yang dilakukannya. Itu adalah sesuatu yang sering mereka lakukan," kata Fabre, yang juga seorang profesor madya di Universitas Bern di Swiss.
Selain aye-aye, ia menemukan bukti bahwa gorila, bonobo, simpanse , makaka, kera capuchin, dan primata lainnya juga mengorek hidung mereka dan memakan lendirnya.
"Jika Anda melihat komposisi lendir, sebagian besar terdiri dari air, lebih dari 98%," jelas Fabre.
Kemudian zat lainnya terdiri dari komponen protein-karbohidrat yang disebut musin, dan garam. Menurut Fabre, ada kemungkinan hewan mendapatkan manfaat dari mengonsumsi komponen-komponen ini.
Memakan Ingus dapat Menimbulkan Penyakit?
Lendir di rongga hidung berfungsi menyaring debu, spora, dan mikroorganisme yang masuk bersama udara sebelum mencapai paru-paru. Pada tahun 2013, seorang ahli biokimia mengemukakan hipotesisnya yang menyebut kebiasaan anak memakan ingus akan menyebabkan mereka terpapar patogen.
Patogen tersebut, dikatakan berfungsi untuk melatih sistem kekebalan tubuh, dengan mengidentifikasi molekul-molekul yang masuk dan memicu respon imun. Namun, hingga kini gagasan tersebut belum diuji secara empiris dalam sebuah penelitian.
Andrade justru ragu dengan hipotesis tersebut. Ia menganggap zat imun apapun yang ada setelah lendir mengering kemungkinan sangat sedikit jumlahnya, dan akan dicerna setelah ditelan. Itulah mengapa efeknya terhadap imun sangat kecil.
Sementara, sebagian ahli lainnya menyarankan untuk tidak memakan ingus, karena lendir pada rongga hidung mengandung bakteri penyebab pneumonia. Kebiasaan mengorek hidung pada anak-anak sebaiknya diawasi, terutama saat berada di dekat orang dengan sistem imun yang lemah.
Pada akhirnya, Fabre mempercayai perkataan anak-anak dan yakin bahwa mereka mungkin memakan kotoran hidung mereka hanya karena mereka menyukainya. Mungkin karena rasanya yang asin dan teksturnya unik.
Karena dirinya kerap mengamati perilaku primata saat mengorek hidung, ia jadi menganggap kebiasaan itu bukan lagi hal yang menjijikan.
Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.
(sls/faz)











































