NEO-1, Satelit Baru dari BRIN yang Rencananya Rampung Akhir 2026

ADVERTISEMENT

NEO-1, Satelit Baru dari BRIN yang Rencananya Rampung Akhir 2026

Novia Aisyah - detikEdu
Sabtu, 16 Mei 2026 07:00 WIB
Satelit NEO-1.
Satelit NEO-1 BRIN ditarget rampung akhir tahun 2026 untuk segera diluncurkan Foto: BRIN
Jakarta -

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah mempersiapkan satelit observasi bumi terbaru yang direncanakan rampung pada akhir 2026. Satelit tersebut dinamai Nusantara Earth Observation-1 (NEO-1).

NEO-1 dirancang sebagai generasi penerus LAPAN-A3/LAPAN-IPB guna mendukung pemantauan bumi, maritim, pangan, hingga pengembangan teknologi Internet of Things (IoT).

"Direncanakan berada di orbit polar dengan ketinggian sekitar 500 kilometer dan ditargetkan meluncur akhir 2026," kata Periset dari Pusat Riset Teknologi Satelit (PRTS) BRIN, Wakhid Abdurrokhman dalam momen forum Asia-Pacific Satellite Conference (APSAT) 2026 pada Selasa (12/05), dikutip dari BRIN.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menjelaskan, NEO-1 disiapkan untuk menggantikan LAPAN-A3 yang sekarang ini mengalami pergeseran orbit dan tidak lagi optimal dalam mengambil citra pada waktu lokal tertentu.

ADVERTISEMENT

Satelit NEO-1 akan membawa empat kamera multispektral bernama LISA yang dikembangkan sendiri oleh BRIN. Kamera tersebut beresolusi menengah 16 meter dengan cakupan sapuan sampai 230 kilometer.

"Selain itu ada kamera resolusi tinggi untuk pengamatan yang lebih detail," sebut Wakhid.

Peneliti Pusat Riset Teknologi Satelit Yuvita Dian Safitri menambahkan, salah satu pembaruan signifikan dibandingkan generasi satelit sebelumnya adalah penggunaan thruster atau sistem pendorong satelit. Ia mengatakan teknologi tersebut memungkinkan pengendalian orbit dan posisi satelit lebih presisi.

BRIN juga tengah mengembangkan Nusantara Equatorial IoT (NEI) yang bakal membawa muatan eksperimental IoT sebagai bagian dari pengembangan teknologi satelit.

"Kalau A1, A2, dan A3 belum punya thruster. Jadi kalau orbitnya bergeser kita tidak bisa mengembalikan seperti semula. Nah, NEO-1 sudah dilengkapi thruster," terangnya.

Di sisi lain, peneliti Pusat Riset Geoinformatika BRIN, Silvan Anggia Bayu, memaparkan data dari LAPAN-A3/LAPAN-IPB sekarang ini masih dimanfaatkan untuk berbagai riset, termasuk pemantauan pangan nasional.

Ia mengatakan BRIN mencoba melakukan harmonisasi data satelit A3 dengan Sentinel-2 untuk monitoring padi. Harapannya, nanti masuk ke platform baru BRIN bernama GeoMimo. Platform ini kelak diharapkan dapat menjadi bagian dari penguatan kemandirian teknologi satelit nasional melalui pemanfaatan data yang dibangun dan diolah sendiri oleh Indonesia.

"Kalau data satelit BRIN bisa dimanfaatkan secara optimal, itu menjadi bukti bahwa kita sudah mulai memiliki kemandirian teknologi satelit, dari membangun, memanfaatkan, sampai menghasilkan informasinya sendiri," paparnya.



(nah/pal)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads